Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

Bunga Teratai di Kaki Gunung Kailaya

Bunga Teratai di Kaki Gunung Kailaya

Oleh: Yogi Ishabib

Pernah diceritakan, bahwa pada masa yang teramat lampau seorang laki-laki mendaki gunung untuk bertemu dengan Sang Rudra, Dewa Yang Berteriak. Kita mungkin mengenalnya sebagai Rahwana, laki-laki yang paling banyak disumpahi oleh manusia. Ada zaman dimana manusia sangat dekat dengan dewa-dewa, masa dimana manusia akan dapat melihat dan berbicara dengan dewa secara langsung. demikian pula Rahwana saat ingin bertemu dengan Rudra. Rahwana tau betul bahwa untuk bertemu dengan Sang Rudra, dia tak perlu sungkan atau menjadi munafik dengan bersopan santun. Dia mengeram dan berteriak memanggil Sang Rudra, digalinya tanah untuk meletakkan lingga. Rahwana menjadi-jadi dengan bertriwikrama, badannya membesar, tangannya menjadi sepuluh pasang, dan kepalanya menjadi sepuluh. Dipenggal kepalanya satu-persatu sebagai persembahan untuk bertemu dengan Sang Rudra. Sampai saat dimana Rahwana memenggal kepalanya yang kesembilan, Sang Rudra muncul.

“Cukup Rahwana, apa yang kau inginkan dariku?” Suara Rudra menggema.

“Aku menghadapmu, Wahai Sang Rudra. Aku tak akan berbasa-basi padamu. Aku ingin berbicara padamu sebagai perwakilan Dewa Syiwa Yang Agung.” Sahut Rahwana

“Katakan, anakku.”

“Aku telah kalah dari Arjuna Sasrabahu. Aku telah dihinakan. Padahal aku menguasai Sastra Jendra, aku menguasai Rawirentek, terlebih aku adalah pemujamu dan Dewa Syiwa, dan aku melindungi linggamu dari genangan air sungai Narmada akibat ulah Arjuna Sasrabahu mesum dan tengik itu guna memanjakan istri dan para gundiknya. aku berani melawannya, karena kupikir aku ada dalam perlindunganmu, tapi apa yang kudapat?, aku dikalahkan raja pesolek itu, aku dihinakan, dan karena aku tak bisa mati karena Rawirentek yang kukuasai, aku jadi lebih menderita. Setiap bantingan dan pukulan Arjuna sasrabahu kunikmati detilnya. Saat bertriwikrama, aku hanya bisa menjadi raksasa berlengan sepuluh pasang, sedangkan Arjuna Sasrabahu berlengan seribu. Jagad dewa, terlebih saat aku tak berdaya disiksa, aku harus ditolong kakekku sendiri, Resi Pulastya. Betapa malunya aku, karena kakekku memohon kepada Arjuna Sasrabahu agar berhenti melumat dan menghajarku. tak seharusnya manusia suci seperti kakekku memohon kepada Arjuna Sasrabahu.”

“Oh… jadi seperti itu, mudah bagiku untuk menganugerahimu Rudrasara dan rudrayudhagni untuk mengalahkan siapapun yang kau mau. Dan sekarang anugerahku sudah kuberikan padamu. Tapi perlu kau ketahui bahwa, laki-laki macam apa kau yang merengek pada dewa akibat kekalahan macam ini. kuingatkan kau Rahwana, bukan kau yang berhak membunuh Arjuna sasrabahu, bukan kau yang berhak menghinakan Arjuna sasrabahu.”

“Lalu siapa Sang Rudra? bukankah ada jalan karma yang harus ditempuh oleh Arjuna?”

“Ada titisan wisnu yang nanti lebih berhak membunuh dan menghinakan Arjuna sasrabahu, ada jalan karma lain yang ditempuh karena telah menghinakan lingga Sang Syiwa, tapi bukan oleh tanganmu nak. Kau ku anugerahi Rudrasara dan Rudrayudhagni, untuk perihal lain. Hal besar yang nanti tak hanya mengubah nasibmu, tapi juga kaum dan bangsamu. Karena aku melihat nafas kehidupan dan cinta yang luar biasa padamu, tapi di sisi lain aku juga melihat tragedi terbesar dalam hidupmu. Tapi tragedi yang membuatmu hidup, tragedi yang membesarkan namamu kesuluruh penjuru nak.”

“Apa itu wahai Sang Rudra?” Tanya Rahwana

“Tak lama lagi Rahwana, anakku. Bahkan belum kering kerongkonganku berbicara, itu akan terjadi.

Singkat cerita, Rahwana turun dari gunung, dan bertemulah dia dengan Widyawati. Pertapa perempuan yang tinggal dan menjaga lembah pegunungan Kailaya. Saya bisa membayangkan bagaimana benar kata-kata Sang rudra, bahwa belum kering tenggorokannya berbicara, awal kejadian besar yang menimpa kehidupan Rahwana dalam epos Ramayana terjadi. Rahwana terperangah melihat sosok Widyawati, melihatnya seperti melihat Ibu Bumi itu sendiri. segala rasa Rahwana tumpah ruah terhadap sosok perempuan bernama Widyawati. 

“Siapa namamu, perempuan suci?” Tanya Rahwana

“Namaku widyawati, penjaga lembah widyanatha.” Jawab Widyawati dingin.

“Tentu kau tau, ini adalah gunung dimana Rudra berada, perwakilan Syiwa sendiri, apakah kau pemuja Syiwa wahai pertapa perempuan?”

“Aku tidak hanya pertapa dan penjaga lembah widyanatha, lebih dari itu aku telah menyerahkan hidupku kepada Syiwa.”

“Mulia sekali kau, maukah kau bersamaku untuk mewujudkan Syiwa di muka bumi. Bersamaku, di kerajaanku, Alengka.”

“Bukankah sudah kau dengar tadi, wahai Raja Alengka, hidupku sudah kuserahkan kepada Syiwa, tidak boleh ada laki-laki lain yang mendapatkanku selain Syiwa itu sendiri.”

“Aku Rahwana, penyembah Syiwa, dan aku juga perwakilan Syiwa di dunia, aku mendapatkan anugerah darinya, dari Rudra, dari leluhurku Pulastya, dari bapakku Wisrawa, dari kakekku Sumali, dari uwakku Subali, terlebih aku juga mendapatkan anugerah dari Sang Pencipta, Brahma.”

“Kau kira dengan mendapatkan anugerah dari Syiwa, itu berarti kau juga Syiwa, jangan bermimpi Rahwana, kau hanya manusia, tak lebih tak kurang. Hanya kasih Syiwa yang mampu mengangkat derajatmu, dengan kasih Syiwa pula kau bisa dijatuhkan. Tak ada yang melebihi Syiwa.”

“Menikahlah kau denganku, hiduplah bersamaku, kutunjukkan kepadamu tentang bagaimana rakyatku memuja Syiwa.”

“Perlu kau ketahui, hari ini adalah hari dimana aku berbicara terlalu banyak kepada lelaki, hingga ada waktu yang lalai kugunakan. Pergilah.”

“Tidak Widyawati, hatiku memilihmu, aku tak bisa pergi begitu saja tanpa mendapatkan perempuan yang sudah mengunciku kepada Hyang Kama.”

“Kau memang laki-laki manja Rahwana, kabarnya kau merengek kepada Sang Rudra setelah kalah dari Arjuna Sasrabahu, dan mungkin setelah kau tak berhasili mendapatkanku, apakah kau juga merengek kepada Syiwa agar keinginanmu terpenuhi?”

Rahwana tersentak mendengar Widyawati berbicara seperti itu. amarahnya memuncak, tapi menghadapi perempuan mulia seperti Widyawati, amarahnya mengerdil, sementara rasa yang lain membuncah, menyeruak dengan semerbak bunga. Layaknya teratai di tepi danau yang kelewat indah dan tak sampai hati untuk menjangkaunya. Widyawati, saat itu adalah satu-satunya perempuan yang berani menolak bahkan berani beradu bicara terhadap Rahwana. Dia bukan perempuan yang bisa ditunjuk begitu saja untuk mengiyakan dijadikan istri. Dia kukuh, terlebih dia dingin. 

Ada yang didapat oleh Rahwana kali ini, dia seringkali luput bahwa dibalik kegeramannya terhadap dunia dan kepada siapapun penentangnya, dimana manusia yang lain menafsirkan dia sebagai raja yang kuat dan bengis, ada manusia dari jenis perempuan yang mengatakan bahwa sebenarnya ia adalah sosok yang lembek dan manja, yang harus dituruti segala keinginannya. Tentu, teriakan Rudra yang seperti gemuruh dan petir tidak ada artinya dengan ucapan Widyawati. Rahwana luluh, menyadari bahwa memang dia laki-laki lembek dan manja, kelembekan itu yang disadarinya sebagai kekalahan dari Arjuna Sasrabahu, meski pada dirinya sudah bersemayam Pancasonya, Rawirentek, Brahmanda, dan Sastra Jendra. Tapi ada kesadaran lain yang tumbuh, bahwa untuk Widyawati, dia harus mendapatkannya, apapun bentuk resikonya. Dia tidak peduli pada apapun, dia punya rasa yang membuncah, terlebih dia punya gairah akan hidup.

“Aku punya alasan untuk itu, karena aku raja, dan ketika aku dan rakyatku tidak bisa menyembah Syiwa karena genangan air sungai Narmada akibat Arjuna Sasrabahu, tentu aku melawannya. Tapi perlu kau ketahui, aku tidak punya alasan untuk bisa mengungkapkan rasaku padamu. Kau seperti perwujudan ibu bumi, aku mencintaimu seperti mencintai bumi itu sendiri. bersamaku, sertai hidupku, sertai aku pulang ke Alengka.”

Juga bagi Widyawati, Rahwana adalah satu-satunya laki-laki yang tidak peduli dengan dirinya sebagai seorang pertapa. Pada tampilannya yang tak mengenal sutra dan bersolek. Satu-satunya laki-laki yang tak menundukkan pandangan ketika berhadapan dengan seorang yang kebanyakan orang dianggap suci. Rahwana menabrak keakuan yang suci dari seorang pertapa dengan mengajaknya menikah. 

“Tidak, kembali kau Rahwana.”

“Rasaku tidak dapat ditahan, membuncah, dan aku memaksa, bahwa untukmu, aku akan bersedia menunggu”

Widyawati bukan perempuan sembarangan, ketika Rahwana berucap “bahwa untukmu, aku akan bersedia menunggu…” muncul sebuah jawaban yang akan diberikannya kepada Rahwana. Tentu bukan sembarang jawaban, dan tentu jawaban itu juga tidak akan dipikirkan oleh Rahwana. Bukan sekedar jawaban tentang diterima atau ditolaknya Rahwana. Lebih dari itu.

“Kuberikan jawabanku, Rahwana” Widyawatai berbicara dengan berjalan mendekati bibir lembah.

“Kau menginginkanku, inilah aku, Widyawati, cinta sejatimu, kau sudah mendapatkanku, tapi tidak sekarang, karena aku milik Syiwa, kau juga tak kan mendapatkanku kelak, pada perempuan yang aku menitis padanya, tunggulah karena kau bersedia menunggu, menderitalah karenanya, dan agung lah namamu karena cintamu padaku.” 

Widyawati melompat dan jatuh ke dasar lembah, seperti teratai yang jatuh ke air.

Kita tentu tau Rahwana tidak mendapatkan Widyawati, juga kelak tidak pernah mendapatkan titisan Widyawati, Shinta. Tapi ada gairah yang selalu bersemayam di hati Rahwana, ada rasa yang tulus bagi Rahwana. Dan itu adalah energi kehidupan yang tidak pernah habis. Dengan energi itu ia membangun Alengka menjadi Negara terbesar yang pernah ada. Bahkan lebih besar dari tokoh protagonis dalam epos Ramayana, Sri Rama. Rama sendiri tinggal di hutan. Rama, suami dan kekasih yang sah dari Shinta justru memperlakukan Shinta dengan begitu buruk.

Kita juga tau bahwa Rahwana memang mati karena cintanya pada Shinta, sesuai dengan kutukan Widyawati. Bahwa Rahwana memang tidak mendapatkan raga Widyawati dan Shinta. Dan, mungkin kehilangan pertama Rahwana bukan saat Resi Wisrawa, bapaknya itu moksha, atau saat kakeknya, Sumali meninggal. Rahwana tau kepergian semacam itu adalah kepergian indah yang tidak harus diratapi, dimana bapaknya, kakeknya, dan para leluhurnya memang sudah purna tugas dengan membawa kemuliaan. Kehilangan pertama Rahwana, adalah saat Widyawati memutuskan untuk terjun bunuh diri daripada harus dimiliki laki-laki lain karena dia sudah menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Syiwa. Tapi kehilangan pertama ini yang justru membentuk karakter Rahwana selanjutnya, dimana keagungan yang dibangunnya sama megahnya dengan kematiannya. 

Saya teringat dialog pada Poulet aux prunes, cerita tentang seorang pemain biola terkemuka di Iran, tahun 1950-an, Naseer Ali. ketika Naseer Ali kehilangan kekasihnya, Irane. Naseer Ali menghadap gurunya yang legendaris, Ara Muzafar. Ara Muzafar berkata, “from now on, the one you lost will be in every note you play, she’s your breath and your sigh, this love is precious because it is eternal..”. Memang benar kata Ara Muzafar, setelah kehilangan Irane, Naseer Ali menjadi pemain biola terkemuka pada zamannya, bahkan konon katanya, Naseer Ali bukan bermain biola, tapi memberi kehidupan pada nada melalui drama kehidupan, dan nuansa murung akibat kehilangan Irane menjadi bahan bakar yang tak pernah tuntas untuk digelar pada setiap kehidupannya. Meski, nantinya Naseer Ali juga mati karenanya. Tragedi memang menjadi peletak dasar peradaban, dimana tragedi selalu menjadi awal peradaban diletakkan. Pembacaan ulang naskah epos yang berisi tentang bagaimana peradaban dibangun seperti Ramayana, Mahabharata, Illiad, Odyssey selalu berbicara tentang tragedi. Lucunya, tragedi berbicara mengenai gairah lebih dari apapun. Ada gairah kehidupan yang luar biasa dalam tragedi. Dalam epos Ramayana, Rahwana memiliki gairah yang luar biasa terhadap kehidupan, hanya untuk menunggu titisan Widyawati selanjutnya, meski di akhir dia tidak pernah mendapatkannya, dan mati. 

Tragedi juga memiliki humor tersendiri. Tentang bagaimana mengejek kehidupan normatif dan munafik. Rahwana akan selalu menjadi tokoh antagonis yang menjijikkan bagi beberapa orang yang hidup dalam keteraturan dan topeng norma, tapi akan menjadi pahlawan bagi yang mencintai kehidupan. Rahwana, mungkin gambaran ideal dalam Zarathustra, gambaran ideal Nietzsche sebagai seorang Dionysian, sebagai Ubermensch. Seorang Ubermensch atau manusia unggul (diterjemahkan secara sembarangan oleh orang Amerika, untuk dijadikan karakter Superman) bukan berarti tidak bisa mati dan memiliki kekuatan adi kodrati, tapi bagaimana manusia bisa benar-benar menikmati dan menghidupi kehidupan itu sendiri. bahkan ketika mati pun, energinya bisa dirasakan, dan terlebih lagi dicintai, meski hanya beberapa orang dan dalam kelirihan. 

Rahwana bersemayam di ruang hati Shinta lebih dari siapapun, bahkan lebih dari suaminya sendiri, Sri Rama. Rahwana memang mati, tapi bahkan anak Shinta diberi nama Lawa dan Kusya. Lawa dan Kusya adalah rumput yang terkena percikan darah Rahwana saat bertarung melawan Arjuna Sasrabahu, dan rumput yang terkena darah Rahwana tersebut tak bisa mengering dan mati. orang-orang menyebut rumput itu sebagai rumput Lawa dan Kusya, rumput kehidupan. Dan, dalam kelirihan setiap doa yang diucapkan Shinta kepada anak-anaknya, terucap “semoga kalian punya mata rajawali seperti mata Rahwana.”

 

 

 

 

 

 

 

back to top