Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Terorisme di antara kita

Terorisme di antara kita

Aksi terorisme kembali menciptakan kejutan di ruang publik Indonesia. Tujuh pelaku teror menyerbu area Jalan Thamrin, tepatnya di Plaza Sarinah yang merupakan salah satu lokasi perbelanjaan dan ruang sosial tertua di Jakarta. Lalu secara cepat, menurut Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan berlangsung selama sebelas menit, pelaku teror dilumpuhkan oleh kepolisian. Indonesia merupakan salah satu wilayah sasaran utama terorisme. Mengapa?

Tentu jawaban ini dimulai dari adanya sel-sel terorisme yang bertahan hidup. Entah siapa yang terus mempertahankan sel-sel terorisme tersebut. Adalah tugas intelejen negara, yaitu menyelediki, mengawasi, mencegah dan menindak sel-sel terorisme. Akan tetapi kemunculan kembali aksi teror di Sarinah memberikan kekuatiran bahwa intelejen negara kedodoran. Atau, opini masyarakat secara berani bahkan melihat sel terorisme jangan-jangan dipelihara 'negara' untuk menciptakan sosok pahlawan.

Siapa yang butuh dijadikan sebagai pahlawan? Spekulasi jawaban tidak akan cukup satu namun bermacam-macam. Novel lama karya Putu Wijaya berjudul 'Dor' secara satir menyebut setiap kekuasaan rejim harus bisa menjadi pahlawan. Ketika terorisme, sebagai musuh dari dunia kegelapan, menciptakan keresahan maka kekuasaan rejim akan hadir dengan dramatologi sebagai penumpas musuh dari dunia kegelapan tersebut. 

Para pelaku terorisme bisa jadi terbentuk di dalam proses keseharian. Para pemuda dengan pengetahuan keagamaan yang sesungguhnya dangkal, yang merasa termarjinalisasi secara ekonomi-sosial dan tertindas ketidakadilan akan mudah menyerap pemahaman tentang siapa penyebab marjinalisasi. Penyebab itu distigma sebagai bagian dari penghianat entah agama atau ideologi tertentu.

Penyebab ketidakadilan dan penghianat ideologi, agama, perlu dilawan demi tegaknya keadilan. Perlawanan itu kemudian menciptakan paham tentang pengorbanan dan keberanian melakukan 'pertempuran'. Musuh dalam pertempuran bisa hadir dalam wujud apapun termasuk negara asing, kelompok berbeda dan negara.

Akan tetapi, idealnya jika lembaga intelejen negara telah berhasil menemukan mereka, penanganan pencegahan bisa segera dilakukan. Dua pertanyaan yang mengganggu ruang publik adalah; apakah intelejen Indonesia lemah sehingga tidak berhasil menemukan sel-sel terorisme? Atau, apakah lembaga intelejen negara sesungguhnya telah menemukan namun secara sengaja membiarkan?

Jika ada pembiaran, maka kepentingan sebagaimana digambarkan dalam novel Dor tadi merupakan intepretasi yang tidak hampa logika. Siapa yang butuh jadi pahlawan dalam konteks keindonesiaan? 

Apapun jawaban dari pertanyaan tersebut, setiap aksi terorisme yang mengorbankan hidup orang lain merupakan kejahatan. Siapapun pelakunya harus dihukum sessuai konteks hukum di negara ini. 

back to top