Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Sarjana pengangguran dan masalah metode pengajaran

Sarjana pengangguran dan masalah metode pengajaran

Pada tahun 2013 laporan resmi pemerintah menyebutkan 610.000 lulusan diploma dan sarjana berbagai disiplin menjadi pengangguran. Mereka lulus studi namun gagal mendapatkan pekerjaan. Apa yang salah sehingga para sarja kita menganggur?

Pendidikan nasional sampai detik ini masih berorientasi pada konsep kelulusan dengan nilai IPK (indeks penilaian kumulatif) tinggi. Para lulusan telah ditanam cara berpikir bahwa belajar yang baik adalah meraih nilai IPK paling tinggi dan selesai studi cepat.

Nilai IPK tinggi tentu saja tidak salah, namun itu hanya salah satu persyaratan saja bagi para pembelajar di lembaga pendidikan. Sayangnya, tidak sedikit para pengajar menuntut para anak didik meraih nilai IPK tinggi dan selesai cepat saja. Mereka mengabaikan unsur-unsur penting yang sangat dibutuhkan paska kelulusan.

Unsur-unsur penting tersebut adalah kualitas kepemimpinan, kreativitas dan keterampilan. Anies Baswedan, menteri kebudayaan dan pendidikan dasar dan menengah, tidak jarang menyampaikan pesan bahwa nilai IPK tinggi itu penting namun hanya akan bermakna kosong apabila para lulusan tidak memiliki kualitas kepemimpinan.

Tiga unsur penting tersebut, selain IPK tinggi, membutuhkan interplay antara pengajar dan peserta didik. Peran pengajar, baik guru dan dosen, semestinya mampu memfasilitasi para mahasiswa lulus ber-IPK baik, memiliki kualitas kepemimpinan, kreativitas dan keterampilan lebih.

Sayangnya, masih banyak pengajar yang tidak peduli. Mereka hanya menuntut para peserta didiknya bisa menghafal teori, menyelesaikan tugas kuliah, dan selesai kuliah sesingkatnya. Sikap tersebut selain dipengaruhi regulasi seperti Permendikbud No 49 yang mengharuskan mahasiswa selesai maksimal 5 tahun, juga kepedulian yang kurang melimpah.

Para pengajar merasa cukup datang ke ruang pendidikan, membaca presentasi power point yang harus diingat peserta didik, dan bahkan tidak menawarkan informasi baru. Ujian semester hanya berkisar hafalan, penggunaan rumus-rumus, dan menulis sebagaimana apa yang dikatakan pengajar. Proses ini serupa mesin 'one dimension man' yang melahirkan manusia-manusia robot, tidak hidup kreatif dan berani menciptakan kebaruan.

Kondisi ini harus dijawab oleh pemerintah dengan tidak hanya membanjiri lembaga pendidikan dengan kurikulum. Namun meningkatkan kualitas metode kepengajaran para pengajar, guru dan dosen.


Baca: Ini 10 tokoh hebat Indonesia tanpa ijazah

Hilangnya roh pendidikan Indonesia

Dilema sekolah, antara ilmu dengan nilai universal

Mutu pendidikan Indonesia terburuk di dunia

Sertifikasi guru dan dosen butuh evaluasi

Kapitalisasi pendidikan Indonesia

Permendikbud No. 49 membungkam aktivis mahasiswa

Kuliah Sekadar Memburu Ijazah

 

back to top