Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Prev Next

Reproduksi kekerasan agama oleh kepentingan sempit

Reproduksi kekerasan agama oleh kepentingan sempit

Aksi kekerasan kelompok masyarakat Kristen terhadap masyarakat muslim di Tolikara di Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah sungguh memalukan. Sebagai bangsa yang menjadi teladan internasional dalam kehidupan toleransi antar ummat, aksi tersebut telah keluar dari nilai-nilai luhur keindonesiaan. Lebih dari itu telah merusak nilai keagamaan itu sendiri.

Substansi dari nilai keagamaan adalah kasih sayang dan kemanusiaan. Kita bisa melihat berbagai tokoh keagamaan yang memahami substansi agama mampu mewujudkan perilaku-perilaku damai konstruktif. Ada Helder Camara pencetus konsep spiral kekerasan, ada Gus Dur pelindung keberagaman, sampai Mahatma Gandhi penggerak anti kekerasan.

Indonesia yang plural secara keagamaan idealnya mampu melahirkan figur-figur humanis yang mewujudkan praktik keagamaan sebagai karunia untuk seluruh manusia. Islam misal melalui konsep rahmatan lil 'alamin atau Kristen melalui paham kasihnya. 

Namun ketika substansi keagamaan bersekutu dengan kepentingan sempit misal politik dan material maka agama sangat mungkin mewujud kedalam kekerasan. Kasus kekerasan keagamaan di Tolikara Papua mungkin telah disusupi kepentingan sempit elite-elite keagamaan dalam gereja. Nilai kasih Kristus berubah menjadi kebencian terhadap kelompok agama lain.

Jika benar isu penggunaan speaker untuk pengeras suara di mushola seperti pernyataan wakil presiden Jusuf Kalla, maka cara sebagian ummat Kristen tidaklah bijak dengan mobilisasi aksi kekerasan di hari raya ummat Islam. Hal itu hanya menciderai subtansi nilai kasih Kristus. 

Nilai substantif keagamaan sesungguhnya bisa membawa kelompok-kelompok ummat beragama bisa saling memahami, mengerti dan saling melindungi. Sehingga tidak perlu mengobarkan api kekerasan yang merugikan seluruh pihak.

Pada saat bersamaan negara harus segera turun tangan menegakkan hukum pada aksi kekerasan sebagai tindakan kriminal. Tidak hanya kasus di Tolikara, namun kasus-kasus lain di Indonesia. Jangan sampai Indonesia menjadi negara gagal mengelola konflik, yaitu negara yang gagal meniadakan kekerasan dan gagal memecahkan masalah-masalah konflik dalam masyarakat.

back to top