Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Reproduksi kekerasan agama oleh kepentingan sempit

Reproduksi kekerasan agama oleh kepentingan sempit

Aksi kekerasan kelompok masyarakat Kristen terhadap masyarakat muslim di Tolikara di Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah sungguh memalukan. Sebagai bangsa yang menjadi teladan internasional dalam kehidupan toleransi antar ummat, aksi tersebut telah keluar dari nilai-nilai luhur keindonesiaan. Lebih dari itu telah merusak nilai keagamaan itu sendiri.

Substansi dari nilai keagamaan adalah kasih sayang dan kemanusiaan. Kita bisa melihat berbagai tokoh keagamaan yang memahami substansi agama mampu mewujudkan perilaku-perilaku damai konstruktif. Ada Helder Camara pencetus konsep spiral kekerasan, ada Gus Dur pelindung keberagaman, sampai Mahatma Gandhi penggerak anti kekerasan.

Indonesia yang plural secara keagamaan idealnya mampu melahirkan figur-figur humanis yang mewujudkan praktik keagamaan sebagai karunia untuk seluruh manusia. Islam misal melalui konsep rahmatan lil 'alamin atau Kristen melalui paham kasihnya. 

Namun ketika substansi keagamaan bersekutu dengan kepentingan sempit misal politik dan material maka agama sangat mungkin mewujud kedalam kekerasan. Kasus kekerasan keagamaan di Tolikara Papua mungkin telah disusupi kepentingan sempit elite-elite keagamaan dalam gereja. Nilai kasih Kristus berubah menjadi kebencian terhadap kelompok agama lain.

Jika benar isu penggunaan speaker untuk pengeras suara di mushola seperti pernyataan wakil presiden Jusuf Kalla, maka cara sebagian ummat Kristen tidaklah bijak dengan mobilisasi aksi kekerasan di hari raya ummat Islam. Hal itu hanya menciderai subtansi nilai kasih Kristus. 

Nilai substantif keagamaan sesungguhnya bisa membawa kelompok-kelompok ummat beragama bisa saling memahami, mengerti dan saling melindungi. Sehingga tidak perlu mengobarkan api kekerasan yang merugikan seluruh pihak.

Pada saat bersamaan negara harus segera turun tangan menegakkan hukum pada aksi kekerasan sebagai tindakan kriminal. Tidak hanya kasus di Tolikara, namun kasus-kasus lain di Indonesia. Jangan sampai Indonesia menjadi negara gagal mengelola konflik, yaitu negara yang gagal meniadakan kekerasan dan gagal memecahkan masalah-masalah konflik dalam masyarakat.

back to top