Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Presiden Jokowi dan sapi lokal

Presiden Jokowi dan sapi lokal

Presiden Jokowi tengah melakukan upaya swasembada daging sapi atau pangan. Program itu kemudian direalisasikan dengan memotong jumlah impor sapi asal Australia dari 250 ribu ekor sapi menjadi 50 ribu ekor saja saat ini.

“Kita harus punya keberanian untuk beralih dari konsumsi ke produksi. Selama ini, kita tidak berani berproduksi karena tidak ada kemauan,” kata Jokowi.

Tekad ini tentu harus kita apresiasi dan dukung sepenuhnya, mengingat banyak hal bangsa ini jarang mampu memanfaatkan sumber daya alamnya secara mandiri. Dan salah satu dari kesadaran itu adalah melakukan tindakan progersif seperti berani memutuskan tidak mengimpor sesuatu yang bisa kita produksi sendiri.

Program Jokowi ini selain memiliki nilai yang positif secara nasionalisme - juga berdampak positif pada kedaulatan pangan kita. Meskipun, pada awalnya pasar kita saat ini mengalami 'keterkejutan' dan diikuti hilangnya stok daging di pasar dan melambungnya harga daging sapi yang mencapai 150 ribu rupiah per kilogram.
Dari sisi situasi ini, tentu kita mendorong pemerintah agar cepat melakukan tindakan penyelamatan dengan memberikan pasokan daging sapi yang dibutuhkan pasar agar harga daging sapi menjadi turun seperti sediakala.

Tindakan memberikan pasokan ini tentu akan mengatasi tidak saja kenaikkan harga, tapi juga mampu meredam aksi para mafia daging sapi yang mungkin saja menahan stock daging sapi. Kita bisa memahami bahwa kebijakan pemerintah untuk mengurangi impor sapi dari Australia yang cukup tinggi tersebut menganggu para 'koboi' yang sudah terbiasa mendapatkan keuntungan dari bisnis ini.

Selain itu, mengatasi gejolak pasar dengan memasok kekosongan merupakan upaya pula untuk mengawal program swasembada daging hingga pada tujuan besar kita yaitu kedauatan pangan. Dan seperti harapan Jokowi serta masyarakat, suatu saat kita bisa mendapati harga daging sapi hanya 50 ribu rupiah perkilogram bila kita mampu produksi sendiri.

Sehingga kebutuhan kosumsi daging masyarakat yang saat ini masih rendah, sekitar 1,87 kilogram per kapita per tahun (di bawah rata-rata kosumsi negara-negara tetangga) dapat ditingkatkan dan disesuaikan dengan pendapatan masyarakat yang rata-rata masih jauh di bawah 5 dolar per hari.

Untuk itu, masyarakat harus pula bisa memahami dan bersabar serta mendukung upaya kedaulatan pangan ini, karena semua itu membutuhkan proses dan memiliki dampak-dampak. Selain harus mendukung, kita juga harus selalu kritis dan mengawal semua kebijakan pemerintah Jokowi, agar semua program itu berjalan lancar.

back to top