Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Politik dinasti menggurita

ilustrasi: colors-and-grays.blogspot.com ilustrasi: colors-and-grays.blogspot.com
Pada tahun 2013 saja, menurut Gamawan Fauzi ada 58 kasus politik dinasti baik pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Selain pada pemerintahan, politik dinasti pun menggurita di lingkungan parpol. Ayah, ibu, anak-anak, sampai keponakan menguasai struktur kekuasaan di dalam pemerintahan dan parpol. Apa dampak politik dinasti ini?

Politik dinasti merupakan praktik menguasai struktur kekuasaan berbasis pada ikatan darah atau keturunan untuk mewujudkan atau melindungi kepentingan garis keluarga. Oleh karena itu, posisi dan peranan di dalam organisasi selalu berdasar pada garis keturunan. Aktor  politik yang tidak memiliki garis keturunan, hanya akan menjadi pemain pinggiran, figuran, atau boneka. Pemain figuran biasanya cukup senang mendapatkan hanya 'recehan' peranan.

Organisasi politik, baik itu pemerintahan maupun parpol, jika telah terinfeksi politik dinasti akan mengalami pembusukan secara sistematis. Terutama pembusukan pada kualitas keorganisasian, kemampuan organisasi merealisasikan visi dan misi sangat buruk. Sebab para aktor politik dinasti dipilih bukan berdasar pada kualitas pengetahuan, keterampilan dan komitmen.

Demokrasi merupakan sistem, baik kelembagaan dan kebudayaan, yang melandaskan pada nilai inheren demokrasi seperti keterbukaan, rasionalitas dan komitmen mencapai prestasi. Oleh sebab itu demokrasi hanya bisa bekerja untuk mewujudkan kesejahteraan publik dan mencapai tujuan negara apabila para aktor politik mempraktikkan nilai inheren demokrasi.

Praktik politik dinasti menyebabkan kebijakan dirumuskan dan diimplementasikan secara tertutup, rentan kecurangan dan cenderung korup. Kasus politik dinasti di Banten oleh Ratu Atut telah menyebabkan kebijakan-kebijakan pembangunan buruk rupa. Rakyat tetap miskin, korupsi merajalela, dan birokrasi mengalami pembusukan kinerja.

Parpol-parpol pun tidak terbebas dari infeksi politik dinasti tersebut, baik pada tingkat pusat dan daerah. Bisa dibayangkan bagaimana kualitasnya?

Indonesia membutuhkan politik demokratis yang rasional, setara, terbuka, dan komitmen berprestasi untuk membangun kualitas demokrasi. Tanpa politik demokratis, sistem keorganisasian negara, pemerintahan, dan parpol akan menciptakan kemudharatan daripada kemaslahatan.

 

back to top