Menu
Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Prev Next

Kebudayaan sebagai panglima

painted by : Nurul "Acil" Aliansah ( key therapy) painted by : Nurul "Acil" Aliansah ( key therapy)


Presiden SBY dalam pesan pidato terakhir tahunan di Gedung DPR RI 16 Agustus 2014 memberikan empat pesan pribadi, diantaranya bahwa yang wajib kita pertahankan bukan lagi kemerdekaan, namun, “Keindonesiaan”.

Keindonesiaan, mengacu pada kesadaran entitas bangsa Indonesia secara utuh –baik fakta secara geografis, geo-politis, kultural dan ideologis yang telah terangkum dalam pancasila. Pesan moral ini tentu saja merupakan penegasan bahwa sebagai bangsa, secara ideologis kita telah selesai. Bahwa tidak ada tempat lagi bagi ideologi yang bertentangan dengan fakta keindonesiaan kita.

Pesan ini juga mengingatkan kita tentang identitas bangsa, selain politis, tetapi juga budaya. Identitas kebudayaan tidak semata sebagai kebutuhan identifikasi, tetapi merupakan modal mendasar dari sebuah kebutuhan pertarungan bangsa-bangsa.

Kebudayaan pada era ini menjadi yang sangat fundamental untuk ditegakkan mengingat pertarungan bangsa-bangsa tidak lagi memperebutkan batas teritori. Setidaknya kita mengingat setelah usai Perang Dunia kedua pertarungan bangsa-bangsa lebih menggunakan model pendekatan budaya sebagai salah satu instrumen politik dagang mereka.

Dari sisi kebudayaan inilah bagaimana bangsa Barat membangun hegemoninya terhadap bangsa-bangsa lain di dunia. Barat, akhirnya membuat kita merasa penting belajar table manner, berpandangan rasional atau menggilai budaya pop mereka. Kita menjadi merasa bahwa Barat adalah selalu benar dan baik, sementara Timur adalah sesat dan salah.

Pada posisi ini, kita hanya puas menjadi subaltern (Gayatri Spivak)  yang senantiasa inferior terhadap bangsa Barat. Hegemoni tersebut –yang tertanam dalam pikiran dan ketidaksadran kita, kemudian melahirkan kebudayaan sebagai alat pembentuk perilaku dan pasar.

Di Amerika, bahkan intelijennya melakukan intervensi terhadap seni, seperti CIA yang mendanai lukisan-lukisan Jackson Pollock agar lukisan ekspresionisme-abstrak Pollock berkembang di seluruh dunia.

Kita juga melihat India, Jepang, Korea dan Cina, misalnya melakukan penetrasi kultural ke Indonesia, bahkan ke seluruh dunia melalui film-film yang khas budaya mereka dan menjadi rujukan budaya. Di sini kita melihat bahwa kebudayaan adalah piranti ampuh bagi sebuah bangsa yang ingin maju dan besar.

Fakta-fakta tersebut harusnya menyadarkan kita, bahwa kita saat ini hidup dalam sebuah kompetisi bangsa-bangsa dunia yang tidak saja mempersiapkan negara mereka dengan kekuatan militer, tetapi juga kebudayaan. Pesan SBY agar kita mempertahankan Keindonesiaan, sudah seharusnya kita tafsir, diantaranya menjadikan kebudayaan sebagai panglima seperti halnya banyak negara-negara lain.

back to top