Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

G/30/S/PKI dan Nasib Pancasila

G/30/S/PKI dan Nasib Pancasila

30 September 1965 adalah tahun kepedihan dan kesedihan. Tidak saja bagi para keluarga korban pembantaian yang terjadi sepanjang September hingga Oktober 1965, tetapi juga bagi bangsa ini. beberapa jendral dibantai dengan sadis oleh kaum PKI dan setelahnya sekitar 3 juta masyarakat yang ditandai sebagai PKI di Jawa Tengah, Jawa Timur ganti terbantai dan sisanya masuk bui tanpa pengadilan.

Bantai membantai dalam perebutan kekuasaan ini, sebelumnya telah terjadi di sepanjang tahun 1948 setelah pemberontakan PKI Madiun yang dipimpin Muso gagal. Tercatat di sejumlah wilayah di Jawa Timur kaum agama (Islam) di tahun 1949-50 dibantai dengan sadis oleh PKI bersamaan dengan dibakarnya masjid-masjid beserta isinya.

Semua itu, kita mencatatnya sebagai dialektika sejarah muram bangsa Indonesia di awal-awal kemerdekaan. Di sini, kita juga menyaksikkan kesengsaraan mereka yang tertindas akibat kekejian politik. Lantas, siapakah yang salah bila kita melihatnya dari sudut kemanusiaan? ideologi yang buta atau pemimpin yang otoriter? Tentu dari sisi pandang seperti itu kita akan menyalahkan keduanya.

Dalam nuansa politik kebangsaan, tentu kita sangat lemah untuk bisa menyalahkan para pelaku sejarah di awal kemerdekaan tersebut. Dialektika politik seperti itu terjadi pula misalnya di Amerika Serikat di masa Perang Saudara, 1861–1865. Jefferson Davis mengumumkan memisahkan diri dari Amerika Serikat karena tidak setuju dengan pembebasan kaum budak yang digagas Presiden Abraham Lincoln. Artinya, dalam pandangan poltik ideologis, setiap kaum punya hak untuk memaksakan kehendak politiknya bila mampu di awal berdirinya sebuah bangsa.

Namun, bagi kita, peristiwa suram 1948-1965 haruslah menjadi pelajaran, bahwa ideologi politik yang anti kemajemukan yang niscaya dalam alam nusantara adalah berarti pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Politik yang memaksakan satu tujuan bagi kenyamanan satu kaum akan mengakibatkan pertumpahan darah yang tiada henti. Kesadaran politik ini pula yang meriwayati lahirnya Pancasila sebagai  ideologi bangsa.

Pancasila merupakan pengikat metafisik yang menjadi roh bangsa Indonesia. Melalui dasar yang transendental atau berketuhanan, bangsa ini kemudian berproyeksi pada tata kehidupan yang adil dan sejahtera secara bersama dan beradab. Tetapi, apakah saat ini kita konsisten dan konsekuen dengan ideologi Pancasila dan menghasilkan apa yang seharusnya menjadi tujuan ideologi Pancasila? Itu pertanyaan selanjutnya di antara memori kolektif kita perihal G/30/S/PKI.

back to top