Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Florence, Jogja dan dendam

foto: www.deviantart.com foto: www.deviantart.com
KoPi-editorial. Kasus Florence Sihombing yang mengumpat pada Kota Jogja sungguh disesalkan. Polisi bisa memidana Florence sampai 6 (enam) tahun penjara. Benarkah penghukuman seperti itu adalah cara dari kota yang selama ini disebut sebagai penjaga peradaban dan perdamaian bangsa?

Florence merepresentasikan watak generasi yang kurang sensitif pada kondisi, tidak tanggap pada sifat kebudayaan, serta gagap terhadap hentakan situasi seperti antrian BBM. Oleh karenanya, mahasiswa program S2 UGM tersebut, marah melalui akun media path-nya. Ia menulis "Dan mau-maunya Jogja diperbudak monopoli Pertamina. Pantesan MISKIN".

Masyarat dunia maya (netizen) geram. Terutama mereka yang merasa dirinya sebagai orang Jogja, perbuatan Florence adalah bentuk penistaan pada entitas peradaban tua bernama Jogja. Media twitter, facebook, kaskus, dan blog dipenuhi serangan kepada perempuan berkacamata tersebut melalui cemooh pun sumpah serapah.

Florence, dan keluarganya, terpojok. Polisi menangkapnya atas dasar tuduhan penghinaan berdasar UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Apakah Jogja terpuaskan dengan hukuman terhadap Florence tersebut?

Perjalanan sejarah manusia tidak pernah sepi dari lingkaran dendam, saling menghancurkan, dan kebencian. Pada lingkaran tersebut mulai tertanam sangat kuat di dalam struktur kesadaran manusia tentang cara menang-kalah (zero-sum game). Saya menang, kamu kalah. Mereka hancur, kita bertahta. Demikianlah sekiranya doktrin dalam zero-sum game.

Doktrin zero-sum game seringkali mengakar kuat dalam budaya yang mengalami sedimentasi peperangan dari waktu ke waktu. Perasaan dendam menyebabkan sepercik perkataan lawan pun bisa dianggap sebagai dosa yang harus dibasuh oleh darah dan masa depannya. Tengok saja lingkaran setan perang di Timur Tengah, sebagian Eropa Timur, Afrika dan Amerika Latin. Zero-sum game tidak akan terpuaskan oleh berapapun jumlah dan kualitas derita.

Jogja? Indonesia? Tentu tidak serupa dengan masyarakat yang membangun cara hidupnya dari zero-sum game. Namun, Florence memberi ujian bagi esensi kebudayaan Jogja dan Indonesia yang selama ini berpijak pada keterbukaan, pengayoman, pemafaan, dan kekeluargaan.

Sehingga, menghukum pidana yang menoreh masa depan individu yang masih bisa berbuat baik untuk ummat, bukanlah jalan dari esensi kebudayaan Jogja itu sendiri. Memaafkan tanpa harus melupakan kesalahan berarti belajar tentang cara hidup beradab penuh kedamaian.

 

 

back to top