Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Florence, Jogja dan dendam

foto: www.deviantart.com foto: www.deviantart.com
KoPi-editorial. Kasus Florence Sihombing yang mengumpat pada Kota Jogja sungguh disesalkan. Polisi bisa memidana Florence sampai 6 (enam) tahun penjara. Benarkah penghukuman seperti itu adalah cara dari kota yang selama ini disebut sebagai penjaga peradaban dan perdamaian bangsa?

Florence merepresentasikan watak generasi yang kurang sensitif pada kondisi, tidak tanggap pada sifat kebudayaan, serta gagap terhadap hentakan situasi seperti antrian BBM. Oleh karenanya, mahasiswa program S2 UGM tersebut, marah melalui akun media path-nya. Ia menulis "Dan mau-maunya Jogja diperbudak monopoli Pertamina. Pantesan MISKIN".

Masyarat dunia maya (netizen) geram. Terutama mereka yang merasa dirinya sebagai orang Jogja, perbuatan Florence adalah bentuk penistaan pada entitas peradaban tua bernama Jogja. Media twitter, facebook, kaskus, dan blog dipenuhi serangan kepada perempuan berkacamata tersebut melalui cemooh pun sumpah serapah.

Florence, dan keluarganya, terpojok. Polisi menangkapnya atas dasar tuduhan penghinaan berdasar UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Apakah Jogja terpuaskan dengan hukuman terhadap Florence tersebut?

Perjalanan sejarah manusia tidak pernah sepi dari lingkaran dendam, saling menghancurkan, dan kebencian. Pada lingkaran tersebut mulai tertanam sangat kuat di dalam struktur kesadaran manusia tentang cara menang-kalah (zero-sum game). Saya menang, kamu kalah. Mereka hancur, kita bertahta. Demikianlah sekiranya doktrin dalam zero-sum game.

Doktrin zero-sum game seringkali mengakar kuat dalam budaya yang mengalami sedimentasi peperangan dari waktu ke waktu. Perasaan dendam menyebabkan sepercik perkataan lawan pun bisa dianggap sebagai dosa yang harus dibasuh oleh darah dan masa depannya. Tengok saja lingkaran setan perang di Timur Tengah, sebagian Eropa Timur, Afrika dan Amerika Latin. Zero-sum game tidak akan terpuaskan oleh berapapun jumlah dan kualitas derita.

Jogja? Indonesia? Tentu tidak serupa dengan masyarakat yang membangun cara hidupnya dari zero-sum game. Namun, Florence memberi ujian bagi esensi kebudayaan Jogja dan Indonesia yang selama ini berpijak pada keterbukaan, pengayoman, pemafaan, dan kekeluargaan.

Sehingga, menghukum pidana yang menoreh masa depan individu yang masih bisa berbuat baik untuk ummat, bukanlah jalan dari esensi kebudayaan Jogja itu sendiri. Memaafkan tanpa harus melupakan kesalahan berarti belajar tentang cara hidup beradab penuh kedamaian.

 

 

back to top