Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Birokrasi parasit dan nasib pembangunan

Foto:asiapacific.anu.edu.au Foto:asiapacific.anu.edu.au
Apa yang dibutuhkan dari kelancaran dan kesuksesan program pembangunan pro rakyat? Adalah birokrasi yang cepat bergerak, berkomitmen pengabdian pada rakyat, dan menegakkan hukum demi keadilan. Namun, jika birokrasi bermental parasit maka pembangunan akan membusuk, kering dan gabuk (kosong). 

Jumlah pegawai negeri sipil (PNS) sampai saat ini, berdasar laporan Komisi Aparatur Sipil Negara, mencapai 4,3 juta orang. Sebagian besar menduduki posisi dalam birokrasi pemerintahan (birokrat). Para birokrat negara tersebut tersebar di departemen dan dinas dari pusat sampai level daerah.

Namun tenaga dalam birokrasi negara tersebut selama ini masih belum memperlihatkan kinerja yang diharapkan oleh rakyat Indonesia. Ciri umum dalam birokrasi Indonesia, merujuk pada penelitian ilmu politik, diantaranya lamban bekerja, memperumit pelayanan publik, boros pembiayaan, penyakit nepotisme dan korupsi, serta bersikap elitis atau feodalistik.

Ciri-ciri tersebut di atas menciptakan sebentuk mental umum: parasit. Pada dunia biologi, parasit merupakan unsur tumbuhan atau makhluk hidup yang lebih sering merugikan pihak atau tubuh yang ditempatinya. Sebab parasit tidak pernah memberi namun menghisap dan menghisap unsur-unsur nutrisi tanpa memberi timbal balik baik.

Menganalogikan birokrasi seperti parasit mungkin terlalu berlebihan. Sebab banyak birokrat yang telah bekerja keras dan berhasil menciptakan prestasi-prestasi luar biasa. Namun demikian kondisi umum birokrasi saat ini seolah membenarkan analogi tersebut.

Sampai-sampai Menteri Susi Pudjiastuti membuat pernyataan resmi bahwa dirinya akan mundur apabila birokrasi bekerja lamban dan tidak bersih. Menteri Susi tampaknya, paska dilantik sebagai menteri, berhadapan dengan birokrasi yang serupa parasit.

Birokrasi Indonesia, apakah akan selalu serupa parasit bagi tubuh pemerintahan? Jawaban ini cukup pelik dan sulit. Namun seluruh rakyat Indonesia berharap bahwa birokrasi Indonesia bisa berkinerja baik, menggunakan prinsip keterbukaan dan anti korupsi, serta mampu bekerja cepat melaksanakan pembangunan.

Tanpa birokrasi yang bekinerja baik, pembangunan demi keadilan dan kesejahteraan sebagaimana termaktub dalam konstitusi hanyalah utopia belaka (angan-angan).

 

back to top