Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Agama dalam rantai kekuasan politik

Agama dalam rantai kekuasan politik

Agama menciptakan struktur kesadaran. Artinya, agama melalui teks-teks sucinya membentuk tingkah laku para penganutnya. Fakta sosiologis inilah yang menyebabkan agama berada dalam rantai politik. Agama menjadi tawanan kekuasaan, menjadi budak yang dieksploitasi oleh hasrat-hasrat kekuasaan.

Kekuasaan manapun dalam sejarah peradaban dunia memanfaatkan agama sebagai alat untuk menciptakan dukungan, kesetiaan dan mobilisasi kolektif. Para elite yang telah berkuasa dalam struktur politik menjadikan agama sebagai cara menundukkan secara halus. Sedangkan elite yang belum berkuasa, menggunakan agama sebagai alat mobilisasi merebut kekuasaan.

Pada konteks masyarakat Indonesia dan setiap level kekuasaan, agama berada dalam rantai kekuasaan politik. Fenomena ini bukan hal baru, bukan hanya di Indonesia. Pemilihan presiden Amerika Serikat 2016 baru saja dimenangkan seorang fasis dan rasis yang menggunakan agama untuk memobilisasi dukungan. Indonesia, sebagian masyarakat pun berada dalam fenomena tidak jauh berbeda.

Maka agama telah direndahkan sedemikian rupa. Agama secara ideal adalah substansi kehidupan yang bisa memberi gambaran tentang baik (maslahat) dan buruk (madharat) tanpa dikorbankan sebagai alat mereka, para elite, yang ingin berkuasa. Itu kejahatan besar. 

Bagaimana cara menyelamatkan agama dari rantai kekuasaan politik? Gagasan Nur Cholish Madjid tentang Islam Yes, Partai Islam No, merupakan salah satu alternatif jawaban tersebut. Sama halnya dengan agama lain pun berlaku hal yang sama. Seperti Kristen Yes, Partai Kristen No, Budha Yes, Partai Budha No! 

Agama bisa hadir dalam setiap ruang dan waktu. Bisa mengkritik kekuasaan, bisa menguatkan pembangunan, namun tidak sampai dikotori dalam lumpur perebutan kekuasaan. Agama merupakan kebaikan untuk kehidupan.

back to top