Menu
Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Prev Next

Agama dalam rantai kekuasan politik

Agama dalam rantai kekuasan politik

Agama menciptakan struktur kesadaran. Artinya, agama melalui teks-teks sucinya membentuk tingkah laku para penganutnya. Fakta sosiologis inilah yang menyebabkan agama berada dalam rantai politik. Agama menjadi tawanan kekuasaan, menjadi budak yang dieksploitasi oleh hasrat-hasrat kekuasaan.

Kekuasaan manapun dalam sejarah peradaban dunia memanfaatkan agama sebagai alat untuk menciptakan dukungan, kesetiaan dan mobilisasi kolektif. Para elite yang telah berkuasa dalam struktur politik menjadikan agama sebagai cara menundukkan secara halus. Sedangkan elite yang belum berkuasa, menggunakan agama sebagai alat mobilisasi merebut kekuasaan.

Pada konteks masyarakat Indonesia dan setiap level kekuasaan, agama berada dalam rantai kekuasaan politik. Fenomena ini bukan hal baru, bukan hanya di Indonesia. Pemilihan presiden Amerika Serikat 2016 baru saja dimenangkan seorang fasis dan rasis yang menggunakan agama untuk memobilisasi dukungan. Indonesia, sebagian masyarakat pun berada dalam fenomena tidak jauh berbeda.

Maka agama telah direndahkan sedemikian rupa. Agama secara ideal adalah substansi kehidupan yang bisa memberi gambaran tentang baik (maslahat) dan buruk (madharat) tanpa dikorbankan sebagai alat mereka, para elite, yang ingin berkuasa. Itu kejahatan besar. 

Bagaimana cara menyelamatkan agama dari rantai kekuasaan politik? Gagasan Nur Cholish Madjid tentang Islam Yes, Partai Islam No, merupakan salah satu alternatif jawaban tersebut. Sama halnya dengan agama lain pun berlaku hal yang sama. Seperti Kristen Yes, Partai Kristen No, Budha Yes, Partai Budha No! 

Agama bisa hadir dalam setiap ruang dan waktu. Bisa mengkritik kekuasaan, bisa menguatkan pembangunan, namun tidak sampai dikotori dalam lumpur perebutan kekuasaan. Agama merupakan kebaikan untuk kehidupan.

back to top