Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Abraham Samad, Komitmen dan Retorika Hukum

Abraham Samad, Komitmen dan Retorika Hukum

Pengakuan Abraham Samad bertemu dengan politisi PDIP memberikan kita satu pengertian. Bahwa apa yang kita idealkan dalam bernegara selama ini, menempatkan hak-hak tata kelola negara berdasarkan hukum dan etika moral serta komitmen dari para pemimpin kita nyaris jauh dari cita-cita itu.

Dalam kasus ini atau kasus yang lain, kita melihat bahwa tak ada satupun komitmen yang terjaga dari para pemimpin politik  dan penegak hukum kita. Akibat ketiadaan komitmen ini, seperti yang banyak kita saksikan akhir-akhir ini, melahirkan pertarungan-pertarungan antar lembaga hukum dan politik yang sepenuhnya bias logika dan moral. Kita nyaris hanya disuguhi retorika-retorika politik dan hukum. Tetapi abai dengan penegakkan hukum yang sesungguhnya.

Kita jadi seperti melihat film klasik Cina, dimana kekuatan kasim melawan kekuatan yang lain saling menghancurkan untuk berkuasa. Sementara Sang Kaisar seperti di atas menara gading yang tak melihat persoalan dan tak hendak memutuskan. Dan rakyat yang selalu bersangka baik atau tak lagi memiliki semangat revolusioner, karena sibuk dalam arus kemampanan pragmatisme hanya seperti melihat pentas Jathilan dalam panggung jalanan yang segera dilupakan.

Ketiadaan komitmen itu pula yang membuat kita semua tergelincir dalam kekuasaan asing yang samar terlihat.  Kita menjadi semakin abai dengan kepentingan bangsa sendiri yang esensial. Lazimnya di semua negara beradab akan senantiasa menjadi pelindung bagi rakyatnya. Tetapi, pemimpin yang nir-komitmen hanya akan menjadi boneka kepentingan dan tak peduli rakyatnya. Negara gagal sungguh-sungguh terjadi. Dan kita mencatat, boneka-boneka hidup dalam cerita sejarah bangsa kita dan akan terus tercatat dalam sejarah bangsa kita.

Raul Capote, seorang agen keamanan Kuba yang pernah menyamar sebagai agen CIA untuk menghancurkan Kuba bercerita. Kepentingan asing masuk ke semua negara berkembang melalui semua lembaga negara dan NGO serta universitas. Mereka mendanai proyek-proyek untuk menyangga kepentingan mereka. Baik melalui penyebaran pemikiran, regulasi serta intervensi-intervensi kebijakan politik dan hukum. Mereka juga suka jika ada kisruh dan pertarungan di dalam negara karena memudahkan rencana kudeta jika diperlukan. Tetapi Kuba bisa lepas dari semua itu karena ada persatuan dan komitmen diantara rakyat dan pemimpinnya.

Pada zaman Kolonial Hindia Belanda atau VOC, setiap kekisruhan di dalam sebuah kerajaan di nusantara adalah berkah bagi VOC atau pemerintah kolonial. Kekacauan itu senantiasa berakhir dengan kepatuhan para raja-raja terhadap keinginan para imperialis tersebut karena ada transaksi jual beli bantuan. Tetapi, di sisi lain, asing yang mengendalikan juga akan segera menggulingkan kekuasaan yang telah dibenci rakyat karena kekuasaan tersebut pasti akan mengancam kepentingan mereka. Itu mungkin hanya kisah lama. Tak berati bagi kita. Sejarah seperti ini tak pernah menjadi pelajaran bagi kita. Itu faktanya.

Tentu saja karena orang-orang yang tergiur politik atau kekuasaan tidak lagi memiliki tanggung jawab dan komitmen terhadap apa yang diamanahkan kepadanya. Ia bekerja bukan untuk rakyatnya, tetapi kepentingannya. Mungkin itu pula mengapa Nabi Muhammad SAW mewanti-wanti pada umatnya agar jangan pernah mengangkat pemimpin yang menyorongkan namanya sendiri untuk diangkat menjadi pemimpin. Mungkin, orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang memiliki ambisi kekuasaan. Ia tidak pantas diangkat sebagai pemimpin. Ia membahayakan kepentingan rakyatnya.

Abraham Samad, mungkin orang baik dan memang terlihat baik. Tetapi ia pasti tahu, bahwa ia tidak boleh masuk dalam wilayah politik yang bukan haknya. Apa tujuannya? Masyarakat jadi ingat, kasus hukum Surya Dharma Ali di masa pemilu, apa ada kaitan dengan pertemuan ini? Hanya Tuhan dan orang-orang di dalamnya yang tahu. Tetapi jelas, di sini, Abaraham Samad khilaf. Namun, kesalahan Abraham tidak sendiri, politisi yang bertemu dengannya juga pantas diberikan sangsi.

Apa yang dilakukan polisi terhadap pemimpin KPK saat ini, sebagai reotrika hukum tentu benar, demikian juga KPK. Sayangnya, apa yang dilakukan KPK dan polisi timingnya jelas dibaca publik sebagai sekedar upaya balas dendam dan ini menyakitkan rasa keadilan kita semua.

Kalau polisi bisa menangkap para pemimpin KPK dengan derajad kesalahan yang demikian sederhana, pasti polisi juga bisa mengangkat kasus-kasus yang lebih besar lagi yang membusukkan negara. Kita harus mendorong demikian. Begitu juga dengan KPK mungkin segera mendahulukan kasus-kasus besar di semua lembaga negara termasuk kepolisian. Masyarakat harus hadir dan menjaga kedua lembaga yang kita danai dengan keringat rakyat itu.

back to top