Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

70 tahun merdeka kita tidak ingin terus merugi

70 tahun merdeka kita tidak ingin terus merugi

Indonesia menginjak usia 70 tahun kemerdekaaannya. Dalam masa 70 tahun itu, Indonesia tumbuh dalam sebuah pertarungan global. Namun, pada awal para pendiri bangsa ini telah mengukuhkan sikapnya sebagai bangsa dalam keruwetan pertarungan global.

Di antara sikap itu adalah mengambil jalan tengah. Tidak berpihak pada poros manapun. Kita mengenalnya sebagai non-block. Sikap itu tentu adalah bertujuan agar rakyat memliki harga diri dan sejahtera.

Namun, kita sadar, bahwa semua keputusan tergantung pada visi dan misi pemimpin yang tengah berkuasa. Soekarno, misalnya, menganggap bahwa bangsa ini harus punya sikap sendiri, membangun identitas bangsa dan bercita-cita mengoptimalkan alat produksi yang dimiliki bangsa Indonesia, seperti agraria. Dan untuk itu, Indonesia menjadi ancaman bagi kepentingan bangsa lain yang menginginkan kekayaan alam kita.

Di masa Soeharto, tentu berbeda. Sikap resmi kita masih tetap sama, namun, kita tahu bahwa kepentingan asing di Indonesia sangat kondusif. Kita dimanjakan hutang-hutang dari lembaga-lembaga dunia seperti World Bank, IMF dan lain-lain yang mewakili kepentingan Amerika dan Eropa. Sementara program pembangunan hanya bersifat propaganda semata.

Tradisi itu terus berkembang sempurna dalam situasi yang berbeda di zaman reformasi dan Jokowi berkuasa saat ini. Kepentingan asing semakin kuat terutama bila melihat produk regulasi yang lebih banyak menguntungkan pemodal besar.

Total kita saat ini memiliki hutang sekitar Rp. 3.929 trilyun. Dan, celakanya, menteri keuangan kita beberapa minggu lalu di tahun 2015, mengumumkan bahwa kas negara difisit sekitar Rp. 227,4 triyun. Artinya, kita membutuhkan hutang lagi agar bisa menjalankan proyek-proyek negara.

Usia 70 tahun kemerdekaan Indonesia, kita masih menjadi negara yang disebut oleh negara lain sebagai berkembang. Hal itu tercermin bagaimana ketidakmampuan kita mengolah sumber daya alam kita secara mandiri menjadi barang produksi, persoalan yang padat korupsi dalam pemerintah dan DPR, tidak ada kepastian hukum atau tidak memiliki sikap identitas dan menjadi subaltern atau subordanasi bagi barat cara berpikirnya.

Kesenjangan antara kaya dan miskin juga masih sangat terpisah jauh. Kita bisa secara bersamaan melihat paradoksi mobil mewah atau motor mewah berjejer di jalanan bersama wajah besar kemiskinan yang lain. Rumah mewah berpagar rumah-rumah kumuh.

Hal ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi makro seolah tidak begitu bermasalah dan pertumbuhannya relatif baik, tetapi sektor riil atau ekonomi mikro dari tahun ke tahun tidak berkembang. Masyarakat kesulitan mengakses modal sementara produk undang-undang justru memberikan proteksi bagi pemodal besar.

70 kemerdekaan bagi kita, adalah saatnya mengevaluasi, apakah kita memang sudah merdeka dengan kondisi nyata kita saat ini? Kita harus sadar, kita dalam sebuah pertarungan global. 70 tahun merdeka kita tidak ingin terus merugi. Itulah mengapa, "Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan", kata WS Rendra dalam Sajak Sebatang Lisong.

back to top