Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Ternyata, tanda penuaan bukan cuma kerutan lho

Ternyata, tanda penuaan bukan cuma kerutan lho
Surabaya – KoPi | Dona menghela nafas di depan cermin. Di usianya yang menjelang 50, ia tidak memiliki banyak kerutan di wajah karena sering melakukan perawatan. Namun, beberapa bagian tubuhnya tidak seindah seperti masa mudanya dulu. Bagian samping wajahnya, terutama pipi, terlihat menggelantung dan membuatnya tampak jauh lebih tua. Ia tak habis pikir mengapa wajahnya tampak lebih tua meski sering melakukan perawatan wajah.

Kebanyakan orang menghubungkan proses penuaan dengan semakin banyaknya keriput atau kerutan di wajah. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa proses penuaan juga mengubah fisik seseorang. Kulit pipi atau payudara yang menurun merupakan salah satunya. Tentu saja hal itu membuat seseorang terlihat lebih tua dari seharusnya dan mengurangi rasa percaya diri mereka.

Kondisi tersebut dalam dunia kedokteran dikenal sebagai sagging, yaitu penurunan kulit ke arah bawah karena proses penuaan. Berbeda dengan skin laxity yang membuat kulit kendur, sagging menimbulkan tonjolan pada bagian-bagian tubuh tertentu terutama wajah karena hilangnya lemak dan lemahnya penyangga lemak (ligamen) pada bagian-bagian tubuh tersebut. Akibatnya, estetika wajah dan tubuh menjadi berubah.

“Penyebab utama sagging adalah karena faktor usia dan gravitasi. Semakin kita bertambah usia, kulit semakin lama melawan gravitasi, sehingga kulit mengalami penurunan ke bawah,” jelas Dr. Irmadita Citrashanty, Sp.KK, dokter spesialis kulit dan kelamin dari klinik Surabaya Skin Centre.

Selain karena gravitasi, sagging juga bisa muncul karena hilangnya lemak pada bagian tertentu wajah. Menurut Dr. Dita, saat seseorang semakin tua, dapatterjadi pembesaran lemak di bagian tengah atau hipertrofi, dan kehilangan lemak pada sisi samping wajah atau atrofi.

“Selain itu, sagging juga dipengaruhi oleh kendurnya ligamen, yaitu jaringan penyangga yang menahan lemak tadi. Ketika terjadi penuaan, ligamen yang seharusnya menahan lemak supaya tetap di atas tadi kendur, sehingga jadi terlihat menggantung,” terang Dr. Dita.

Dr. Dita menjelaskan, munculnya sagging pada setiap orang bisa bervariasi, namun umumnya terjadi pada usia di atas 40 tahun. Meski demikian, pada beberapa orang proses itu bisa berlangsung lebih cepat atau lebih lambat. Hal itu dipengaruhi oleh faktor polusi dan terpaan oksidan dari luar.

“Intinya kalau kita sering terkena polusi udara atau oksidan-oksidan dari luar, ya proses penuaan itu berjalan lebih cepat dari sebelumnya. Ligamen itu suatu hari pasti akan kendur. Kalau tidak kita lindungi dan dibiarkan terkena oksidan dari luar, pasti proses penuaannya lebih cepat dari seharusnya,” ujar Dr. Dita. (Baca juga: Ssst, dokter ini beberkan rahasia biar terlihat muda kembali) | Amanullah Ginanjar W.

back to top