Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Jumlah penderita Lupus di Indonesia mencapai lebih dari 13.300 jiwa

Jumlah penderita Lupus di Indonesia mencapai lebih dari 13.300 jiwa

Jogja-KoPi│Jumlah penderita lupus (odapus) di Indonesia mencapai 13.300 jiwa pada tahun 2013 dan terus meningkat setiap tahunnya, karena lupus penyakit seribu wajah yang sulit dideteksi.

Lupus atau yang dikenal sebagai penyakit autoimun adalah penyakit inflamasi kronis yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang keliru sehingga menyerang jaringan dan organ tubuh sendiri seperti kulit, paru-paru, dan jantung.

Dr. dr Nyoman Kertia, SpPD-KR, wakil ketua PSLI (Persatuan Sindrom Lupus Indonesia) mengatakan gejala lupus sangat beragam sehingga sulit untuk dideteksi.

“Gejalanya bisa datang dengan tiba-tiba atau berkembang secara perlahan. Dapat bertahan lama atau sementara, namun kambuh lagi. Gejala yang umum dirasakan oleh penderita adalah rasa nyeri dan lelah berkepanjangan”, jelasn Nyoman saat diwawancari dalam acara peringatan hari lupus sedunia yang diperingati oleh RS Sardjito Yogyakarta di ruang diklat lt. 4, Rabu (10/5).

Data penderita lupus di Indonesia sendiri yang tercatat di yayasan lupus Indonesia pada tahun 2013 sebanyak 13.300 dan menurut Dr. Nyoman serta Ian Sovian, Founder Sahabat Kupu (Komunitas odapus) jumlah tersebut terus bertambah setiap tahunnya.

“Jumlah penderita lupus tahun 2013 sebanayak 13.300 namun kemungkinan naik, karena ia seperti fenomena gunung es dan penyakit lupus sendiri masih sulit dideteksi. Namun, jumlahnya tidak sebanyak penderita kanker atau yang lainnya”, jelas Ian.

Sedangkan jumlah odapus di Jogja menurut dr. Nyoman mencapai 300-an yang kebanyakan menderita Lupus SLE. Lupus SLE sendiri adalah singkatan dari Systemic Lupus Erythematocces, jenis yang paling kompleks dan paling ruwet penangannya karena menyerang seluruh jaringan dan organ tubuh. Bahkan jenis lupus ini bisa menyerang beberapa organ sekaligus.

“Odapus di Jogja sekitar 300 mungin lebih, jumlah itu hanya yang masuk persatuan. Sedangkan yang belum masuk persatuan tidak diketahui karena lupus penyakit misterius dan 90% penderitanya wanita”, ujar dr. Nyoman.

Sementara, Ian mengatakan jumlah anak di DIY yang terdata menderita lupus sebanyak 109 dan kasus tersebut lebih banyak dibandingkan kasus dewasa.

“Kasus lupus pada anak tidak sebanyak pada dewasa, namun perubahan besar pada diri anak dapat menyebabkan anak setres”, pungkasnya.

back to top