Menu
Teroris mencoba mengebom Masjidil Haram

Teroris mencoba mengebom Masjidil H…

Makkah-KoPi| Aksi teroris...

Segera daftarkan kompetisi usaha kreatif  SOPREMA sebelum tutup 9 Juli 2017

Segera daftarkan kompetisi usaha kr…

Jogja–KoPi| Ratusan peser...

Mosul segera akan dibebaskan dari cengkeraman ISIS

Mosul segera akan dibebaskan dari c…

Baghdad-KoPi| Pembebasan ...

Instagram desainer muslimah Jogja kena hack

Instagram desainer muslimah Jogja k…

Yogyakarta-KoPi | Akun me...

Basarnas minta masayarakat cepat hubungi lewat Call Center 115 bila ada masalah

Basarnas minta masayarakat cepat hu…

Bantul-KoPi|Plt Kepala Ba...

KASAD SAFARI RAMADAHAN DI AKADEMI MILITER

KASAD SAFARI RAMADAHAN DI AKADEMI M…

Akmil – Kepala Staf Angka...

Basarnas siagakan anggotanya mengawal liburan Idul Fitri1438

Basarnas siagakan anggotanya mengaw…

Bantul-KoPi|Badan SAR Nas...

PLN janjikan tak ada pemadaman listrik selama lebaran di Jateng dan DIY

PLN janjikan tak ada pemadaman list…

Jogja-KoPI|PLN Jawa Tenga...

Inilah 5 alasan PLN mencabut subsidi istrik

Inilah 5 alasan PLN mencabut subsid…

Jogja-KoPi| Audi Damal, M...

Wakil Rektor UMP jadi Doktor ke-40 UMY

Wakil Rektor UMP jadi Doktor ke-40 …

Bantul-KoPi| Wakil Rektor...

Prev Next

ASEAN Dengue Day 2017: Penelitian EDP Yogya Masuki Babak Akhir

ASEAN Dengue Day 2017:  Penelitian EDP Yogya Masuki Babak Akhir

EDP Yogya – KoPi| Jika kita bertemu dengan seseorang lalu memintanya menyebutkan orang yang ia kenal, baik itu keluarga, saudara maupun teman, yang pernah menderita demam berdarah dengue (DBD), bisa dipastikan ia mampu menyebutkannya.

Fakta ini menunjukkan betapa DBD telah menjadi penyakit yang sangat lazim diderita di lingkungan sekitar kita. Fakta itu pula yang disampaikan oleh peneliti utama Eliminate Dengue Project (EDP) Yogya, Fakultas Kedokteran (FK) UGM, Prof. Adi Utarini. “Berbeda jika kita tanyakan hal yang sama untuk penyakit malaria, TBC atau infeksi HIV AIDS,” jelas Adi saat ditemui di ruang kerjanya.

Dia menyayangkan penyakit yang “merakyat” ini justru termasuk dalam kategori penyakit terabaikan. Namun, dia berharap banyak pada momentum ASEAN Dengue Day (ADD) yang diperingati tiap tanggal 15 Juni. Harapannya momentum ini bisa meningkatkan perhatian seluruh pihak sesuai dengan tema peringatan ADD yang disepakati tahun ini yaitu “United Fight Against Dengue”.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan DIY, drg. Pembayun Setyaning Astutie, M.Kes. mengatakan bahwa DBD merupakan satu dari tiga permasalahan kesehatan yang menjadi fokus penanganan jajarannya. “karenanya, saya sangat mendukung penelitian ini,” ujar Pembayun saat ditemui di kantornya beberapa waktu yang lalu. Ia mengungkapkan kasus DBD yang masih tinggi di DIY, mencapai 6.241 kasus sepanjang tahun 2016. “Itu artinya ada 172 kasus di tiap 100.000 jiwa penduduk,” jelas Pembayun.

Prof. Adi kemudian menjelaskan penelitian yang ia pimpin tengah memasuki babak akhir. Penelitian pengendalian DBD menggunakan bakteri alami Wolbachia ini telah dilaksanakan sejak 2011. “Wolbachia adalah bakteri alami yang terdapat di sebagian besar serangga di sekitar kita. Ia terbukti mampu menghambat virus DBD di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti,” jelas pakar di bidang kesehatan masyarakat ini.

Penelitian ini dilaksanakan oleh Pusat Kedokteran Tropis, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan didanai oleh Yayasan Tahija.

Terkait teknologi yang digunakan dalam penelitian ini, ahli serangga EDP Yogya, Warsito Tantowijoyo menjelaskan bahwa teknologi yang digunakan terbukti aman. “Kajian analisis risiko yang telah dilakukan oleh tim independen menunjukkan bahwa risikonya dapat diabaikan (negligible risk),” jelas Warsito.

Tak heran jika penelitian ini mendapat respons dari tokoh-tokoh penting seperti Gubernur DIY Sri Sultan HB X, Kemenristek Dikti dan Direktur WHO-TDR. Bahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) melalui kelompok penasihat pengendalian vektor (VCAG) memberikan rekomendasi agar EDP Yogya melanjutkan penelitian pada skala lebih luas untuk memperoleh bukti epidemiologis.

Rekomendasi itu telah dilaksanakan oleh EDP Yogya. EDP Yogya telah telah meletakkan 5.000-an ember di peletakan tahap kedua sejak Maret lalu. Sedangkan pada Bulan Mei timnya telah menghentikan peletakan 2.000-an ember tahap pertama. “Ember-ember itu berisi telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia yang siap menetas dan tumbuh dewasa,” terang Warsito.

Selanjutnya nyamuk yang terbukti aman dari virus DBD ini akan keluar dari ember dan kawin dengan nyamuk setempat yang tidak ber-Wolbachia. Nyamuk Aedes aegypti jantan yang ber-Wolbachia ketika kawin dengan nyamuk lain maka telurnya akan "gabuk" alias tidak akan menetas. Sedangkan nyamuk Aedes aegypti betina yang ber-Wolbachia yang kawin dengan nyamuk Aedes aegypti lokal akan menghasilkan keturunan yang sudah ber-Wolbachia.

Hasil pemantauan persentase Wolbachia sangat menggembirakan. “Persentase Wolbachia di wilayah peletakan tahap pertama sangat tinggi,” jelas Warsito.

Ia menambahkan bahwa Wolbachia akan bertahan secara berkesinambungan di wilayah tersebut meski timnya telah menghentikan peletakan ember. Dukungan masyarakat dan pemangku kepentingan membuatnya optimis penelitian ini akan berhasil. Menurutnya, dukungan tersebut diberikan karena teknologi ini tidak mengubah kebiasaan masyarakat dan dapat disinergikan dengan metode pengendalian lain yang telah lebih dahulu dijalankan.

Koordinator Media dan Komunikasi EDP Yogya, Bekti Andari menjelaskan bahwa koordinasi dengan pemerintah dilakukan secara intens. “Koordinasi dengan stakeholder terjalin dengan baik hingga level nasional,” jelas Bekti.

Dia menambahkan bahwa pihaknya tengah melakukan penjajakan untuk pelepasan Wolbachia pada skala lebih luas. Penjajakan tersebut dimulai semenjak kunjungan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X ke insektarium EDP Yogya Februari lalu.

Dalam rangka ADD tahun ini pihaknya bekerja sama dengan Pemerintah Kota Yogyakarta dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. “Kami akan sampaikan pesan kewaspadaan DBD melalui berbagai media,” jelas Bekti. Ia berharap momentum ini tidak berhenti sebatas seremoni belaka, namun kewaspadaan seluruh pihak akan bahaya DBD meningkat sehingga DBD tak lagi menjadi penyakit yang terabaikan.

back to top