Menu
Perempuan pendukung gerak ekonomi Jatim

Perempuan pendukung gerak ekonomi J…

Surabaya-KoPi| Perempuan ...

Anies dinilai lalai rekonsoliasi dengan kata 'Pribumi'

Anies dinilai lalai rekonsoliasi de…

PERTH, 17 OKTOBER 2017 – ...

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi Capai 54,3 Milyar Rupiah

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi …

Surabaya-Kopi| Pameran Ja...

Ketika agama membawa damai, bukan perang

Ketika agama membawa damai, bukan p…

YOGYAKARTA – Departemen I...

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lakukan Research dan Development

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapat…

Surabaya-Kopi| Memperinga...

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCBI Surabaya

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCB…

Surabaya-KoPi| Dra. Hj. F...

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer bisa jauhkan sikap radikal

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer…

YOGYAKARTA, 13 OKTOBER 20...

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid Cheng Hoo Surabaya

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid …

Surabaya-KoPi| Wagub Jati...

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bisa disembuhkan

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bi…

Surabaya-KoPi| Ketua Yaya...

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga NKRI

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga…

Madiun-KoPi| Wakil Gubern...

Prev Next

Angka katarak Indonesia terus meningkat, ini penjelasan dokter Featured

Angka katarak Indonesia terus meningkat, ini penjelasan dokter
Surabaya–KoPi| Katarak masih menjadi penyebab kebutaan yang paling utama di Indonesia. Meski kesadaran masyarakat terhadap kesehatan semakin tinggi, tidak diikuti dengan penurunan angka penderita katarak. Sebaliknya, angka penderita katarak di Jawa timur semakin tinggi.

“Saat ini ada kekhawatiran bahwa katarak di Jawa Timur akan menjadi masalah. Berdasarkan survei Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami), angka kebutaan karena katarak di Jawa Timur meningkat, dari 3 persen menjadi 4 persen,” ungkap dr. Erry Dewanto, Sp.M., dokter spesialis mata dari klinik mata Erry Dewanto Center (Klinik Mata EDC).

Dokter yang dikenal gemar mengadakan aksi sosial tersebut mengatakan bisa jadi hal tersebut disebabkan karena metode survei yang baru. Saat ini survei dilakukan langsung oleh dokter mata, sedangkan survei sebelumnya dilakukan oleh perawat.

“Kalau dilakukan perawat sering banyak yang lolos. Begitu dilakukan survei langsung oleh dokter mata, ketahuan banyak yang punya masalah katarak. Makanya angkanya meningkat,” jelasnya.

Peningkatan memang terlihat di daerah di mana survei dilakukan langsung oleh dokter mata. Di daerah yang surveyornya bukan dokter mata, angkanya justru rendah. Tapi begitu disurvei ulang oleh dokter mata, angkanya jadi meningkat. Dan hal itu terjadi di seluruh Jawa Timur, sehingga penyebarannya hampir merata.

Dokter Erry menyebutkan besarnya angka tersebut akan menyebabkan cataract back log. Apakah cataract back log? Simak di 'Awas cataract back log'.|Amanullah Ginanjar W|

back to top