Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Yudi Latif: Pengembangan Iptek dan Budaya Indonesia masih lemah

Yudi Latif: Pengembangan Iptek dan Budaya Indonesia masih lemah
 Sleman-KoPi| Yudi Latif, Ph.D menyayangkan upaya pengembangan ilmu pengetahuan teknologi (IPTEK) di Indonesia masih belum terintegrasi dengan baik. Tak hanya itu upaya-upaya pengkajian pada petimbangan budaya pun juga masih dilakukan secara proposional. 
 
"Di satu pihak , pandangan yang muncul seringkali mencerminkan argumen-argumen kaum tecno-neutralis,memandang teknologi bebas nilao dengan tilikannya yang melulu beredar di segi-segi efisiensi dan produktivitas," ujarnya saat mengisi Orasi Ilmiah saat Dies Natalis ke 52 Fakultas Ilmu Sosial UNY bertemakan
"Meneguhkan ilmu-ilmu sosial ke Indonesiaan",di Fakultas Ilmu Sosial UNY, Jumat (15/9)
 
Menurutnya,segi-segi efisiensi yang sering disebut pada cost benefit analysis ini,sering mengenyampingkan faktor-faktor sosio-kultural. Lain pihak, beberapa kajian yang melihat kaitan antara kaitan kebudayaan dan pengembangan iptek memiliki beberapa kelemahan mendasar yang mudah dikenali. 
 
Pertama,kajian-kajian yang berkembang selama ini terlalu didominasi oleh argumen-argumen techno-phobic. 
 
"Mereka (orang techno-Phobic) cenderung hanya memandang aspek negatif dari pengembangan teknologi  ,yang kemudian melancarkan tindakan reaktif tanpa dibarengi upaya proaktif untuk memggali fondasi kultural sebagai fondasi pengembangan Iptek,"ucap Yudi yang juga menjabat sebagai Ketua Unit Kerja Presiden Pemantapan Ideologi Pancasila.
 
Kedua,ia menyebutkan perhatian terhadap faktor-faktor budaya dalam kaitan pada upaya pengembangan Iptek yang menjadikan kebudayaan indonesia disebut sebagai "terdakwa". 
 
Menurutnya pula,gambaran yang biasa dihadirkan berkaiatan pada pengembangan iptek dan sebagainya ,masyarakat indonesia masih berlebihan dalam mengembangkan nilai-nilai yang bersifat ekspresif dan kurang mengembangkan nilai yang bersifat progresif. 
 
Kebudayaan jawa yang mendominasi juga membuat penghambatan kemajuan ilmu. Hal ini ditunjukkan dengan sikap ,mental feodalistik,serta budaya yang sungkan untuk berterus terang. 
 
"Masyarakat indonesia tergolong masyarakat dalam kategori soft state,lemah disiplin sosialnya, disiplin etika atau moralnya,cenderung hendak santai saja ,kepengen cepat jadi doktorandis dan seterusnya, "lanjutnya
 
Melihat dilema ini pun ,ia pun menuturkan perlu adanya strategi kebudayaan yang tepat untuk menangani pengembangan iptek yang kurang baik pada masyarakat. Setidaknya ada 3 cara yang ia sarankan dalam menanggulanginya. 
 
Pertama, Strategi kebudayaan harus berorientasi ke depan dan warisan budaya perlu dihargai,pasalnya strategi ini dibuat untuk menghadapi masalah dan tantangan di masa depan.
 
Kedua,startegi kebudayaan harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Karena itu, ia mengungkapkan,  upaya pembangunan iptek ini sebagai fenomena kerja kebudayaan dan secara kualitatif harus mampu meningkatkan pemberdayaan masyarkat dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani dan rohaninya secara adil merata. 
 
Terakhir ,penyusunan suatu startegi perlu dibuat dengan persepsi budaya komprehensif dengan berbagai cakupan. 
 
"Cakupan yang luas itu secara ringkas menyangkut semua faktor budaya yang terdiri atas manusia atau anthropos,lingkungan atau oikos, alat atau tekne ,dan komunitas atau ethnos,"tutur Yudi dalam orasinya.
 
Ia pun menerangkan semua variabel dari strategi kebudayaan itu perlu diperhatikan agar indonesia mendapatkan dua hal sekaligus. Pertama, daya dukung budaya bagi pengembangan iptek ,dan kedua,pendedikasian iptek itu sendiri bagi pengembangan budaya dan peningkatan kesejahteraan rakyat. |Syidiq Syaiful Ardli
 
 
back to top