Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Yogyakarta terbanyak penderita skizofrenia setelah Aceh

Yogyakarta terbanyak penderita skizofrenia setelah Aceh

Jogja-KoPi| Kepala Dinas Kesehatan Yogjakarta drg. Pambayun mengungkapkan berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda) tahun 2013, prevelansi jumlah penduduk Daerah Istimewa Yogjakarta( DIY) yang menderita gangguan jiwa sebesar 2,7 %. Prevelansi tertinggi adalah di Kabupaten Kulon Progo ( 4,6%) , Kab Bantul ( 4%) , kota Yogjakarta ( 2,14%), Kabupaten Gunung Kidul (2,05%).

Data ini menempatkan DIY sebagai daerah terbanyak penderita Skizofrenia setelah Aceh. Prevalansi tinggi penduduk DIY yang mengidap gangguan kejiwaan (skizoprenia) atau sering disebut Orang Dengan Skizoprenia ( ODS) menimbulkan keprihatinan.

Pemerintah DIY melakukan beberapa tindakan seperti menerbitkan peraturan Gubernur No.81 sejak tahun 2014 tentang Pedoman Penanggulangan pemasungan. Pembentukan taskforce dengan melibatkan dinas kesehatan pemkot dan kabupten, intitusi pendidikan dan RSJ Gracia.

Sejak tahun 2013 pemerintah DIY sudah mempunyai sistem jaminan kesehatan khusus bagi penyandang disabilitas. Selanjutnya pemerintah DIY menerbitkan Peraturan Gubenur tentang kebutuhan-kebutuhan ODS lebih banyak terakomodir, karena BPJS hanya membantu dalam proses pengobatannya saja.

Pambayun menyatakan keprihatinannya bahwa selama ini banyak pasien penderita skizoprenia yang kembali harus dirawat setelah dinyatakan sembuh oleh Rumah Sakit.Semua bisa terjadi karena penerimaan dan kekurang mengertian keluarga atau masyarakat terhadap ODS.

Untuk itu, Pambayun sangat mengapresiasi dimana akan diinisiasi atau sistem yang terintegrasikan dalam hal penanganan ODS di DIY. Menurut Pambayun setelah berbagai pihak mengkaji bahwa penanganan pasien gangguan jiwa harus ditangani secara terintegrasi dan terkoordinasi. Sistem curing to caring harus dikondisikan .
"Keterlibatan anggota pasien juga berperan penting dalam peranan membawa kesembuhan ODA secara keseluruhan. Saya memohon seluruh elemen baik pemeritah,swasta, secara komprehensif penanganan untuk ODS baik promotif,preventif,kuratif maupun rehabilatif dilakukan secaraterkoordinatif dan terkoordinasi". " Demikian drg. Pambayun, Kepala Dinkes DIY.

back to top