Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Women who refuse to die membuka luka lama Bosnia

Women who refuse to die membuka luka lama Bosnia

KoPi| Masih ingatkah tragedi kemanusiaan Bosnia? Sebuah tragedi pada Juli 1995 yang telah menewaskan sekitar 8.000 muslim di kota kecil Srebrenica.

Kota kecil Srebrenica menjadi saksi bisu aksi brutal pembunuhan masal saat perang Bosnia 1992-1995. Tindakan genosida memberantas budaya sekaligus jejak agama Islam.

Meski memiliki luka masa lalu yang pahit, sebuah film "Women who refuse to die" mengangkat kembali kisah pilu dari tragedi Bosnia. Film yang bercerita tentang ketegaran seorang ibu yang memiliki keluarga bahagia yang hancur akibat tragedi Bosnia.

Ayah, empat anak perempuan dan saudara mati dalam tragedi ini.

"Ketika mereka mengambil anak-anak saya pada tahun 1995, mereka juga membunuh saya. Ini ada dalam kehidupan. Aku hidup seperti zombie. Aku masih hidup, tetapi tidak benar-benar hidup," kata Hatidza Mehmedovic.

“Setiap pagi saya bertanya pada diri sendiri mengapa. Untuk alasan apa? Tapi tidak ada jawaban. Hanya rasa bersalah pada anak-anak saya, atas nama-nama mereka. ... Mereka membunuh semua kebanggaan saya."

Film karya Mohamed Kenawi ini menggambarkan para wanita yang menolak mati. Para wanita yang tabah menghadapi penderitaan hidup. Mereka tetap bertahan meski telah ditinggalkan oleh orang-orang terkasih. Mereka mencoba untuk menemukan cara untuk melanjutkan hidup.

Pada bulan Juni 2010 lima pejabat Serbia Bosnia dinyatakan bersalah melakukan kejahatan perang di pengadilan Yugoslavia PBB untuk pembantaian yang terjadi di Srebrenica pada bulan Juli 1995.

|aljazeera|Winda Efanur FS|

back to top