Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Women who refuse to die membuka luka lama Bosnia

Women who refuse to die membuka luka lama Bosnia

KoPi| Masih ingatkah tragedi kemanusiaan Bosnia? Sebuah tragedi pada Juli 1995 yang telah menewaskan sekitar 8.000 muslim di kota kecil Srebrenica.

Kota kecil Srebrenica menjadi saksi bisu aksi brutal pembunuhan masal saat perang Bosnia 1992-1995. Tindakan genosida memberantas budaya sekaligus jejak agama Islam.

Meski memiliki luka masa lalu yang pahit, sebuah film "Women who refuse to die" mengangkat kembali kisah pilu dari tragedi Bosnia. Film yang bercerita tentang ketegaran seorang ibu yang memiliki keluarga bahagia yang hancur akibat tragedi Bosnia.

Ayah, empat anak perempuan dan saudara mati dalam tragedi ini.

"Ketika mereka mengambil anak-anak saya pada tahun 1995, mereka juga membunuh saya. Ini ada dalam kehidupan. Aku hidup seperti zombie. Aku masih hidup, tetapi tidak benar-benar hidup," kata Hatidza Mehmedovic.

“Setiap pagi saya bertanya pada diri sendiri mengapa. Untuk alasan apa? Tapi tidak ada jawaban. Hanya rasa bersalah pada anak-anak saya, atas nama-nama mereka. ... Mereka membunuh semua kebanggaan saya."

Film karya Mohamed Kenawi ini menggambarkan para wanita yang menolak mati. Para wanita yang tabah menghadapi penderitaan hidup. Mereka tetap bertahan meski telah ditinggalkan oleh orang-orang terkasih. Mereka mencoba untuk menemukan cara untuk melanjutkan hidup.

Pada bulan Juni 2010 lima pejabat Serbia Bosnia dinyatakan bersalah melakukan kejahatan perang di pengadilan Yugoslavia PBB untuk pembantaian yang terjadi di Srebrenica pada bulan Juli 1995.

|aljazeera|Winda Efanur FS|

back to top