Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Waspada narasi intoleransi di medsos

Waspada narasi intoleransi di medsos
Surabaya–KoPi| Di penghujung tahun 2016 lalu Indonesia diramaikan oleh isu intoleransi beragama. Media sosial diramaikan dengan ujaran kebencian (hate speech). Tak pelak banyak pihak yang khawatir mengenai ancaman intoleransi keagamaan di masa mendatang. Bagaimanakah proyeksi intoleransi keagamaan di Indonesia di tahun 2017 ini?

Jaringan GUSDURian bekerjasama dengan Lakpesdam NU Surabaya dan Pusat Kajian Transformasi Sosial Universitas Airlangga menggelar diskusi “Surabaya Outlook 2017: Menolak Intoleransi, Melawan Radikalisme”, Senin (16/1). Acara yang dilangsungkan di Aula Prof. Soetandyo Gedung C FISIP Unair tersebut menghadirkan Lisa Wahid sebagai keynote speaker.

Lisa menyatakan, dalam salah satu survei yang dilakukan Jaringan GUSDURian, mayoritas masyarakat Indonesia menolak terorisme, radikalisme, dan kekerasaan beragama. Namun survei yang sama menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia lebih intoleran terhadap perbedaan.

“Intoleransi dan terorisme direspon secara berbeda. Bahkan, di kalangan anak muda saat ini, toleransi semakin menurun. Masih banyak yang gamang dan tidak paham dalam menyikapi perbedaan,” ungkapnya.

Survei tersebut dilakukan di enam kota besar di Indonesia, yaitu Bandung, Makassar, Pontianak, Surabaya, Surakarta, dan Yogyakarta selama periode Agustus-Desember 2016 lalu. Survei dilakukan kepada 1200 responden, dengan cara wawancara langsung dan web strapping.

Lisa mengungkapkan, hasil survei menunjukkan banyak anak muda tidak setuju penggunaan kekerasan dan radikalisme dalam memperjuangkan agama. Namun, ketika ditanya mengenai pemimpin berbeda agama dan hidup berdampingan dengan mereka yang berbeda agama, masih banyak yang menunjukkan sikap intoleran.

Yang menyedihkan, mayoritas anak muda rentan terpapar wacana intoleransi, terutama yang bersumber dari media sosial. Apalagi, mereka adalah golongan yang aktif menggunakan internet dan media sosial.

“Banyak wacana dan narasi yang beredar di media sosial yang menunjukkan intoleransi. Narasi-narasi yang dibangun tersebut biasanya bernada sama, bahwa umat Islam adalah umat yang tertindas, ditindas oleh mereka yang berbeda agama,” kata Lisa.

“Selain itu, ada narasi lain yang menyebutkan tidak ada Islam Nusantara, tidak ada Islam Berkemajuan. Islam hanya satu, Islam yang murni. Lainnya adalah antek Yahudi, antek asing dan aseng,” sambung Lisa lagi.

Oleh karena itu, Jaringan GUSDURian berencana melakukan kontra-wacana berupa “kontra-narasi intoleransi” melalui media sosial mulai tahun 2017. Lisa berpesan agar masyarakat diajak memahami hukum dan konstitusi agar sadar mana hak konstitusi dan mana tindakan intoleransi. |Amanullah Ginanjar W|

back to top