Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Wacana Polisi Parlemen di gedung DPR dianggap tidak efektif

Wacana Polisi Parlemen di gedung DPR dianggap tidak efektif
Surabaya – KoPi | Gedung beratap hijau di kawasan senayan merupakan tempat para perwakilan rakyat menyuarakan hak rakyat. Para anggota di dalamnya (DPR) baru-baru ini mengemukakan rencana untuk memiliki sistem pertahanan baru. Walaupun telah memiliki Pasukan Pengamanan Dalam (Pamdal) dan Polisi Pam Obvit (Pasukan Pengamanan Objek Vital) di bawah Polda, beberapa pihak masih merasa tingkat keamanan di Gedung DPR masih harus menjadi sorotan.

DPR meyakini kebutuhan sistem pertahanan baru adalah hasil dari audit security yang dilakukan oleh tim asistensi Direktorat Pam Obvit Polda Metro Jaya dari tahun 2014 hingga 2015. Hasilnya, keamanan di kompleks parlemen masih jauh dari standar yang telah ditetapkan oleh Polri. Karena itu memunculkan wacana adanya konsep baru yaitu polisi parlemen. Kepala Badan Rumah Tangga DPR Roem Kono menyatakan perlu adanya polisi parlemen karena peristiwa konflik antar dua anggota DPR beberapa waktu lalu.

Gitadi Tegas Supramudyo, dosen Etika Universitas Airlangga, menilai polisi parlemen tidak akan efektif. Kawasan DPR menurutnya bukan kawasan terikat yang butuh pengamanan. Penjagaan polisi yang selama ini bertugas dinilai sudah cukup dalam menjalankan fungsi pengamanan gedung. Gitadi menyimpulkan polisi tidak memiliki tanggung jawab atas perkelahian antara anggota DPR.

“Polisi Parlemen tidak akan efektif bagi pengamanan anggota DPR itu. Anggota DPR itu kan tidak akan takut dengan siapapun. Sehingga ini akan menjadi sia-sia” ujarnya.

Polisi parlemen atau Parliamentary Police merupakan rencana yang akan dicanangkan oleh DPR sebagai institusi yang menjaga gedung DPR secara utuh. Konsepnya meniru model pengamanan presiden, yakni Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Tidak hanya itu, rencana ini sekaligus menjadi alasan untuk terciptanya parlemen modern yang selama ini digandrung-gandrungkan oleh anggota parlemen.

Biaya yang dianggarkan oleh Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) tidak main-main. Pimpinan tertinggi Polisi Parlemen nantinya akan diisi Direktur Polisi Parlemen yang dijabat oleh anggota Polri berpangkat Brigadir Jenderal Polisi. Polisi parlemen ini membutuhkan sekitar 1.194 personel dengan fasilitas yang memadai. Fasilitas itu antara lain kantor, mess ataupun asrama bagi personel, senjata api dan juga alat penunjang kebutuhan dalam pengamanan lainnya. | Labibah

back to top