Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Wabah Ebola diremehkan

Wabah Ebola diremehkan
Liberia-KoPi- Besarnya wabah Ebola telah diremehkan masyarakat dengan menyembunyikan kerabat mereka  yang terinfeksi di rumah.

Karena Ebola belum ada obatnya, beberapa orang yang terinfeksi virus lebih banyak yang mati di rumah. 

Hal ini terjadi di Liberia dan Sierra Leone, di mana stigma dan penolakan sosial yang terkait dengan sistem isolasi dan “tembak ditempat” terhadap korban Ebola. 

Beberapa negara di Afrika Barat terus menyangkal tentang keberadaan Ebola, sementara yang lain percaya isolasi bangsal adalah inkubator penyakit. 

Selain itu, negara-negara yang terkena dampak Ebola sangat kekurangan staf, perlengkapan dan peralatan medis, termasuk alat pelindung diri, dan pasokan makanan. 

Rumah Sakit dan kapasitas diagnostik di wilayah juga kewalahan menangani korban Ebola yang semakin hari meningkat. 

Mengingat banyak pusat-pusat pengobatan dan klinik tutup karena staf medis telah melarikan diri karena takut terinfeksi. 

Di ibukota Liberia, Monrovia, dan daerah lain hampir semua pelayanan kesehatan telah tutup.

Fasilitas perawatan yang baru dibuka akan segera dipenuhi pasien. Hal itu menunjukkan bahwa lebih banyak orang yang memiliki gejala daripada yang terdeteksi oleh petugas kesehatan.

Di Monrovia, sebuah pusat perawatan Ebola yang dibuka pekan lalu kewalahan karena jumlah pasien lebih banyak daripada jumlah fasilitas tempat tidur yang disediakan. Sekitar 70 pasien yang harus ditampung, tetapi ketersediaan tempat hanya tersedia untuk 20 orang saja.

Ada juga "zona-bayangan" atau desa-desa dimana penduduk menolak penyelidikan petugas kesehatan atau yang tidak dapat diakses karena kurangnya staf dan kendaraan. 

Banyak desa-desa terus mengubur korban tanpa  memberitahu petugas kesehatan. Hal itu dapat mempermudah penyebaran virus Ebola karena tidak ditangani secara tepat.

Di Afrika Barat sejauh ini 1.350 orang telah meninggal akibat Ebola dan menurut pendataan WHO saat ini tercatat 2.473 orang terkena virus Ebola yang mematikan. 

Irfan Ridlowi

Sumber : news.com

 

 

back to top