Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Wabah Ebola diremehkan

Wabah Ebola diremehkan
Liberia-KoPi- Besarnya wabah Ebola telah diremehkan masyarakat dengan menyembunyikan kerabat mereka  yang terinfeksi di rumah.

Karena Ebola belum ada obatnya, beberapa orang yang terinfeksi virus lebih banyak yang mati di rumah. 

Hal ini terjadi di Liberia dan Sierra Leone, di mana stigma dan penolakan sosial yang terkait dengan sistem isolasi dan “tembak ditempat” terhadap korban Ebola. 

Beberapa negara di Afrika Barat terus menyangkal tentang keberadaan Ebola, sementara yang lain percaya isolasi bangsal adalah inkubator penyakit. 

Selain itu, negara-negara yang terkena dampak Ebola sangat kekurangan staf, perlengkapan dan peralatan medis, termasuk alat pelindung diri, dan pasokan makanan. 

Rumah Sakit dan kapasitas diagnostik di wilayah juga kewalahan menangani korban Ebola yang semakin hari meningkat. 

Mengingat banyak pusat-pusat pengobatan dan klinik tutup karena staf medis telah melarikan diri karena takut terinfeksi. 

Di ibukota Liberia, Monrovia, dan daerah lain hampir semua pelayanan kesehatan telah tutup.

Fasilitas perawatan yang baru dibuka akan segera dipenuhi pasien. Hal itu menunjukkan bahwa lebih banyak orang yang memiliki gejala daripada yang terdeteksi oleh petugas kesehatan.

Di Monrovia, sebuah pusat perawatan Ebola yang dibuka pekan lalu kewalahan karena jumlah pasien lebih banyak daripada jumlah fasilitas tempat tidur yang disediakan. Sekitar 70 pasien yang harus ditampung, tetapi ketersediaan tempat hanya tersedia untuk 20 orang saja.

Ada juga "zona-bayangan" atau desa-desa dimana penduduk menolak penyelidikan petugas kesehatan atau yang tidak dapat diakses karena kurangnya staf dan kendaraan. 

Banyak desa-desa terus mengubur korban tanpa  memberitahu petugas kesehatan. Hal itu dapat mempermudah penyebaran virus Ebola karena tidak ditangani secara tepat.

Di Afrika Barat sejauh ini 1.350 orang telah meninggal akibat Ebola dan menurut pendataan WHO saat ini tercatat 2.473 orang terkena virus Ebola yang mematikan. 

Irfan Ridlowi

Sumber : news.com

 

 

back to top