Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

Universitas Saudi larang mahasiswi memakai pakaian warna-warni

Universitas Saudi larang mahasiswi memakai pakaian warna-warni

Saudi-KoPi| Universitas Dammam yang terletak di Saudi Arabiya telah melarang para mahasiswi untuk mengenakan abaya berwarna. Abaya sendiri adalah pakaian longgar (biasa disebut gamis) yang sering dipakai oleh muslimah. Universitas khusus perempuan ini telah menangkap dua mahasiswinya yang mengenakan abaya berwarna dan mengatakan pakaian berwarna tidaklah tepat bagi sebuah institusi pendidikan.

Seorang mahasiswi mengatakan pekan lalu pengawas dan penjaga keamanan di beberapa universitas telah memulai kampanye dengan membatasi warna abaya menjadi hanya bewarna hitam. Nour Abdulhadi, seorang mahasiswi di salah satu universitas, mengatakan bahwa melanggar aturan baru tersebut merupakan pelanggaran serius yang akan dicatat dalam catatan disiplin siswa.

Supervisor di universitas-universitas tersebut menolak pengaruh pasar yang menjual abaya berwarna krem, coklat, abu-abu dan abaya berwarna lainnya. Humaniora College menegakkan aturan tersebut di kalangan mahasiswanya  untuk mencegah mereka dari pelanggaran catatan disiplin.

Selain itu, toko-toko yang menjual abaya tak luput dari pemeriksaan direktorat resmi. Mereka akan dikenai denda jika menjual abaya berwarna. Pemilik toko mengatakan peraturan ini dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja bekerja yang sama dengan Komisi yang menangani moral bernama Haia. Selain itu, para desainer baju juga menerima peringatan untuk hanya membuat abaya bewarna hitam.

Peraturan ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua desain yang dijual di pasar Saudi akan sesuai dengan kode pakaian islami yang telah ditetapkan oleh Kerajaan Saudi. Hal ini menjadi pro kontra di masyarakat, beberapa mendukung peraturan tersebut karena abaya berwarna tidak sesuai dengan busana Muslim, sementara yang lain mengatakan abaya berwarna merupakan kebebasan pribadi.

"Bagi saya, peraturan yang diberlakukan di universitas tidak menindas perempuan. Sebaliknya, universitas justru memastikan mahasiswinya untuk berpakaian sederhana sesuai dengan tuntunan agama," jelas Muhammad Al-Zahrani, seorang sosiolog. Beberapa syarat pakaian seorang muslimah antara lain pakaian tersebut harus terbuat dari kain yang tebal, tidak transparan, harus longgar dan menutupi seluruh tubuh, pada bagian lengannya tidak terlalu lebar, tidak boleh ada bordir yang menarik pada abagian atas, dan tidak boleh menyerupai pakaian laki-laki atau pakaian yang biasa dipakai orang Barat. Dari definisi tersebut, menurut Al-Zahrani, abaya yang tidak sesuai dengan ketentuan tidak boleh dijual di Arab Saudi. |Al-Arabiya|

back to top