Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Umat manusia perlu kembali beradaptasi menghadapi perubahan iklim

Umat manusia perlu kembali beradaptasi menghadapi perubahan iklim
Surabaya-KoPi| Sebagai negara yang berada tepat di garis khatulistiwa, Indonesia merupakan negara yang sangat rentan terhadap perubahan iklim. Hal tersebut tercantum dalam data dari United Nations Environment Programme (UNEP).
 

Demikian dikatakan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof. Ir. Joni Hermana, M.Sc.Es., PhD., yang menjadi pembicara dalam Seminar on Climate Change. Dalam acara yang digelar di Auditorium Pascasarjana ITS. Joni menyebutkan bahwa di Asia, hanya Indonesia yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Kota Surabaya sendiri berada di urutan ketiga di Indonesia yang rentan terhadap perubahan iklim. Kerentanan itu meliputi kemungkinan terjadinya bencana dan sensitivitas penduduk terhadap perubahan iklim.

Salah satu penyebab terjadinya perubahan iklim adalah penggunaan bahan bakar fosil dan aktivitas pertanian. Peningkatan suhu di permukaan bumi tersebut bersifat global. Aktivitas manusia juga turut berkontribusi, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Hal senada diungkapkan Prof. Dr. Edvin Aldrian, B.Eng., M.Sc., Direktur Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Ia mengatakan, meningkatnya suhu permukaan bumi tersebut membuat manusia perlu kembali beradaptasi dan melakukan mitigasi agar dapat bertahan hidup. Salah satu bentuk adaptasi yang dapat dilakukan adalah menekan laju emisi gas rumah kaca dan penghematan terhadap penggunaan energi listrik. 

“Kami mengamati bahwa setelah Hari Raya Nyepi di Bali, saat tidak ada aktivitas yang menggunakan energi listrik, mampu mengurangi emisi karbondioksida sebesar 30 persen. Ini sangat luar biasa,” katanya.

Seminar yang berlangsung sehari tersebut merupakan bagian dari Pesta Sains 2015 yang diselenggarakan oleh Institut Francais Indonesia (IFI) bekerjasama dengan ITS. Tema “Iklim Berubah dan Kita” diangkat untuk memberikan pemahaman kepada generasi muda mengenai permasalahan perubahan iklim yang tengah dihadapi masyarakat dunia. Selain itu, upaya apa yang bisa dilakukan untuk adaptasi dan mitigasi.

back to top