Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Umat manusia perlu kembali beradaptasi menghadapi perubahan iklim

Umat manusia perlu kembali beradaptasi menghadapi perubahan iklim
Surabaya-KoPi| Sebagai negara yang berada tepat di garis khatulistiwa, Indonesia merupakan negara yang sangat rentan terhadap perubahan iklim. Hal tersebut tercantum dalam data dari United Nations Environment Programme (UNEP).
 

Demikian dikatakan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof. Ir. Joni Hermana, M.Sc.Es., PhD., yang menjadi pembicara dalam Seminar on Climate Change. Dalam acara yang digelar di Auditorium Pascasarjana ITS. Joni menyebutkan bahwa di Asia, hanya Indonesia yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Kota Surabaya sendiri berada di urutan ketiga di Indonesia yang rentan terhadap perubahan iklim. Kerentanan itu meliputi kemungkinan terjadinya bencana dan sensitivitas penduduk terhadap perubahan iklim.

Salah satu penyebab terjadinya perubahan iklim adalah penggunaan bahan bakar fosil dan aktivitas pertanian. Peningkatan suhu di permukaan bumi tersebut bersifat global. Aktivitas manusia juga turut berkontribusi, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Hal senada diungkapkan Prof. Dr. Edvin Aldrian, B.Eng., M.Sc., Direktur Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Ia mengatakan, meningkatnya suhu permukaan bumi tersebut membuat manusia perlu kembali beradaptasi dan melakukan mitigasi agar dapat bertahan hidup. Salah satu bentuk adaptasi yang dapat dilakukan adalah menekan laju emisi gas rumah kaca dan penghematan terhadap penggunaan energi listrik. 

“Kami mengamati bahwa setelah Hari Raya Nyepi di Bali, saat tidak ada aktivitas yang menggunakan energi listrik, mampu mengurangi emisi karbondioksida sebesar 30 persen. Ini sangat luar biasa,” katanya.

Seminar yang berlangsung sehari tersebut merupakan bagian dari Pesta Sains 2015 yang diselenggarakan oleh Institut Francais Indonesia (IFI) bekerjasama dengan ITS. Tema “Iklim Berubah dan Kita” diangkat untuk memberikan pemahaman kepada generasi muda mengenai permasalahan perubahan iklim yang tengah dihadapi masyarakat dunia. Selain itu, upaya apa yang bisa dilakukan untuk adaptasi dan mitigasi.

back to top