Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

Ukiran Kamoro Papua angkat motif alam

Ukiran Kamoro Papua angkat motif alam

Suku Kamoro lestarikan budaya dan tingkatkan perekonomian lewat ukiran Kamoro yang hampir punah.

Jogja-KoPi| Ukiran Kamoro merupakan salah satu identitas suku Papua yang saat ini jarang ditemui di Papua. Kelestariannya mulai terancam di Papua, dan hanya dapat ditemui di suku Papua Selatan, sedangkan di suku Papua bagian utara sudah tidak ada lagi.

Menurut Luluk Irnanti, Pendamping Suku Kamoro, ukiran Kamoro hanya dapat ditemui di suku Papua selatan seperti di suku Asmad, suku Sempan, dan suku Kamoro.

Ukiran ini memiliki material dasar yang berasal dari kayu, baik kayu yang keras maupun kayu lunak dan tulang.

“Namun, saat ini kebanyakan yang dibuat untuk materi dasar ukiran adalah kayu besi, karena cenderung lebih awet. Namun konsekuensi pada tahap penerjaan yang lebih lama,” tutur Luluk Irnanti.

Terdapat 12 jenis ukiran yang dihasilkan dari suku Kamoro, yaitu mate (perisai), yamate, ene,otekapa, limawe, eme, mbitoro, wemawe, bukao, imi, etai, pikoro, dan lain sebagainya.

Dalam proses pembuatannya tidak smeua orang dapat membuat ukiran kamoro, hanya orang-orang tertentu yang mewarisi . “Hanya orang –orang tertentu yang mewarisi sebagai maramowe yang bisa membuatnya, maramo diartikan manusia dan we diartikan ukiran sehingga dapat dipahami sebagai manusia pengukir ”, jelas Luluk Irnanti.

Setiap kampung dalam suku Kamoro memiliki Maramowe, tergantung dari taparunya (klain). Sementara itu, di Kamoro memiliki 3 sampai 6 taparu dan setiap taparu memiliki klain tertentu yang memiliki fungsi sosial tertentu. Maramowe merupakan salah satu dari fungsi sosial tersebut yang mengacu pada sistem patriarki (garis keturunan ayah).

“Setiap klain memiliki motif totem masing-masing, ada yang ikan, buaya, burung, insan ikan, dan lain-lain,” jelas Luluk Irnanti.
Motif-motif yang digunakan tersebut merupakan motif yang dekat dengan alam, menunjukan hubungan mereka dengan alam. Kadang motif ini juga berasal dari mimpi atau perintah leluhur.

Setiap motif yang berasal dari klain ini akan menjadi salah satu motif eklusif yang dimiliki oleh salah satu taparu yang ada di Kamoro. Namun, bukan berarti motif yang berasal dari satu taparu tidak boleh digunakan oleh taparu lain.

“Tapi jarang terdapat maramowe yang menggunakan motif dari taparu lain,” ungkap Luluk Irnanti.

Ukiran ini merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Kamoro. Pasalnya dengan ukiran kamoro ini masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya, setiap satu ukiran kamoro dijual antara 200 ribu rupiah hingga 10 juta rupiah di toko soevenir atau pun di galeri-galeri.

Padahal, dulu Suku Kamoro menganggap bahwa ukiran ini tidak mendatangkan uang bagi mereka, hanya sebagai alat pemujaan. Namun sekarang ukiran ini menjadi mata pencaharian untuk mereka.


Saat ini terdapat 400-600 pengukir Kamoro, dan yang aktif terdapat 250 pengukir. “Dari pengukir-pengukir ini kemudian ukiran kamoro akan dijual di toko souvenir atau pun galeri,” jelas luluk irnanti.

back to top