Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Uji Kelayakan: S1 Maksimal 5 Tahun

Uji Kelayakan: S1 Maksimal 5 Tahun

Winda Efanur FS, Amanullah Ginanjar W


Yogyakarta-KoPi, Idealnya kuliah S1 (strata satu) ditempuh dengan waktu 8 semester atau 4 tahun dengan menghabiskan 144 beban sks. Ketika wacana pembatasan kuliah maksimal 5 tahun bukanlah menjadi masalah.

Demikian inti dari pernyataan Dosen Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga Tuti Budi Rahayu. Kebijakan itu memang layak dilakukan. Mahasiswa menjadi lebih terpacu untuk segera menyelesaikan masa studinya.

“Hal itu karena beban biaya pendidikan di Indonesia yang masih mahal. Dengan segera menyelesaikan masa studinya, mahasiswa bisa menghemat biaya. Dari segi pengelolaan pembelajaran, terlalu banyak mahasiswa yang tidak lulus akan menjadi beban bagi institusi. Misalnya, dosen harus terus menerus melayani mahasiswa yang tidak segera lulus. Itu akan menjadi beban, baik pada dosen maupun mahasiswa tersebut”, kata Tuti Budi.

Sekilas pandangan itu muncul dari segi keuntungan universitas. Lalu bagaimana dengan mahasiswa yang notabene objek dari kebijakan tersebut. Justru sanggahan dilontarkan oleh Wapresma UIN Sunan Kalijaga Yogykarta, Badriyanto. Wacana pemangkasan kuliah dari 14 semester (7 tahun ) menjadi 10 semster (5 tahun) merugikan mahasiswa.

Menurutnya tidak semua mahasiwa puas berproses akademik. Ada mahasiswa yang mencari kepuasaan di luar kampus.

“Hal yang menghambat mereka lulus tepat waktu, misal kerja, organisasi, LSM. Ketika kerja mereka membiayai kuliah sendiri. Sehingga secerdas apapun membagi waktu harus ada yang dikorbankan.
Anehnya lagi, pihak mendikbud harus mencari solusi agar mahasiswa merasa puas dengan kuliah. Kampus saja tidak maemuaskan masih saja dijerat harus lulus 5 tahun”, sanggah Badri.

 

 

 

back to top