Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Uji Kelayakan: S1 Maksimal 5 Tahun

Uji Kelayakan: S1 Maksimal 5 Tahun

Winda Efanur FS, Amanullah Ginanjar W


Yogyakarta-KoPi, Idealnya kuliah S1 (strata satu) ditempuh dengan waktu 8 semester atau 4 tahun dengan menghabiskan 144 beban sks. Ketika wacana pembatasan kuliah maksimal 5 tahun bukanlah menjadi masalah.

Demikian inti dari pernyataan Dosen Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga Tuti Budi Rahayu. Kebijakan itu memang layak dilakukan. Mahasiswa menjadi lebih terpacu untuk segera menyelesaikan masa studinya.

“Hal itu karena beban biaya pendidikan di Indonesia yang masih mahal. Dengan segera menyelesaikan masa studinya, mahasiswa bisa menghemat biaya. Dari segi pengelolaan pembelajaran, terlalu banyak mahasiswa yang tidak lulus akan menjadi beban bagi institusi. Misalnya, dosen harus terus menerus melayani mahasiswa yang tidak segera lulus. Itu akan menjadi beban, baik pada dosen maupun mahasiswa tersebut”, kata Tuti Budi.

Sekilas pandangan itu muncul dari segi keuntungan universitas. Lalu bagaimana dengan mahasiswa yang notabene objek dari kebijakan tersebut. Justru sanggahan dilontarkan oleh Wapresma UIN Sunan Kalijaga Yogykarta, Badriyanto. Wacana pemangkasan kuliah dari 14 semester (7 tahun ) menjadi 10 semster (5 tahun) merugikan mahasiswa.

Menurutnya tidak semua mahasiwa puas berproses akademik. Ada mahasiswa yang mencari kepuasaan di luar kampus.

“Hal yang menghambat mereka lulus tepat waktu, misal kerja, organisasi, LSM. Ketika kerja mereka membiayai kuliah sendiri. Sehingga secerdas apapun membagi waktu harus ada yang dikorbankan.
Anehnya lagi, pihak mendikbud harus mencari solusi agar mahasiswa merasa puas dengan kuliah. Kampus saja tidak maemuaskan masih saja dijerat harus lulus 5 tahun”, sanggah Badri.

 

 

 

back to top