Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

UGM Dirikan Posko Pengungsian Ternak Korban Bencana

UGM Dirikan Posko Pengungsian Ternak Korban Bencana

YOGYAKARTA, 01 OKTOBER 2017 – Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Gadjah Mada (UGM) terlibat dalam pendirian posko pengungsian bagi ternak milik para korban bencana alam di Kabupaten Karangasem, Bali.

“Keselamatan ternak menjadi bagian tak terpisahkan dari keselamatan manusianya. Karena itu, Fapet UGM terpanggil untuk berperan melalui posko bersama,” ujar Dekan Fapet UGM, Prof. Dr. Ali Agus, DAA, DEA dalam siaran persnya meresponi pendirian posko pengungsian ternak bagi korban bencana, di Yogyakarta, Minggu (01/10/2017).

Menurut Prof Ali, bencana alam adalah hal yang tidak pernah diharapkan. Namun jika masyarakat dihadapkan pada fenomena tersebut, maka perlu upaya agar dapat terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi, Gunung Agung dalam beberapa hari terakhir menunjukkan peningkatan aktivitas dan sudah sampai status ‘awas’.

Prof Ali mengatakan, pemerintah menetapkan daerah dibawah radius kurang dari 12 km sebagai kawasan rawan bencana (KRB) 1 dan 2, untuk di kosongkan. Dan diperkirakan sekitar 70 ribu penduduk akan berpindah dalam barak pengungsian.

“Fakultas Peternakan UGM mendirikan Posko Penyelamatan Ternak bersama ISPI, FPPTI, AINI, Gapuspindo, dan Persepsi,” terang Prof Ali.

Peternak Berisiko

Sementara itu, dari Kabupaten Karangasem Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Kerjasama Fapet UGM, Bambang Suwignyo, Ph.D mengatakan, para pengungsi adalah peternak yang rela mengambil risiko masuk kawasan rawan bencana (KRB) untuk tetap memantau dan memberi pakan ternak-ternaknya.

“Namun di sisi lain, ada saja oknum yang memanfaatkan kesempatan membeli ternak penduduk dengan harga murah, hingga separuh harga normal,” papar Bambang.

Oleh karena itu, selain posko pengungsian manusia juga diperlukan posko pengungsian ternak. Posko didirikan di desa Ngis, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem.

Ketersediaan Pakan

Lebih jauh, Bambang menuturkan, pada Minggu (1 Oktober 2017) tim Fapet UGM yang terdiri dari Bambang Suwignyo, PhD sebagai koordinator, Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia Fapet UGM, Prof. Ir. I Gede Suparta Budi Satria, M.Sc., Ph.D, dan Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof Budi Guntoro bersama dua mahasiswa relawan menuju ke salah satu posko ternak di Tista, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Bali. Tim berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dari unsur Dinas Peternakan, IGK Nata Kusuma.

“Bahwa saat ini ada 40 titik lokasi ternak disiapkan. Sebanyak 3.000 ekor sapi sudah di evakuasi dari 20 riba ekor yang ada. Sedangkan jumlah pengungsi sudah mencapai 144 ribu orang dari perkiraan hanya 70 ribu,” ungkap Bambang.

Saat ini, katanya, sumber pakan hijauan yang lebih diutamakan karena masih sangat kurang. Konsentrat relative, sudah ada beberapa donor yang bersedia membantu.

“Walau so far, kita belum bisa memprediksi sampai berapa lama situasi darurat ini,” papar Bambang lagi.

Pakan Fermentasi

Bambang menyatakan, bahwa Posko bersama selain bersiap dengan stok pakan konsentrat juga menawarkan program edukasi pengurangan risiko bencana.

“Kami usulkan program membuat pakan fermentasi dengan melibatkan para pengungsi. Pakan fermentasi dapat disimpan dalam waktu lama dengan tidak rusak, sehingga dapat untuk antisipasi stock andai erupsi berlangsung lama,” ujar Bambang menambahkan.

Setidaknya, kata dia, membuat stock pakan fermentasi akan mengurangi frekuensi peternaik naik ke KRB zona merah (0 sd 6 km) dan kuning (6 sd 12 km). Pelibatan pengungsi selain ada edukasi, juga dapat menjadi wahana interaksi dan mengurangi stress di pengungsian, jelas dia.

back to top