Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Turunnya nilai rupiah tidak berdampak pada masyarakat Jogja

Transaksi di money changer 'Mulia', Hotel Inna Garuda Transaksi di money changer 'Mulia', Hotel Inna Garuda

Jogjakarta-KoPi | Sudah tiga hari sejak nilai tukar rupiah merosot hingga menembus angka Rp 14.000. Turunnya nilai rupiah terhadap dollar dikhawatirkan akan berdampak langsung terhadap aktivitas perekonomian masyarakat.

Namun menurut perwakilan BI Jogja, Arif Budi Santosa kondisi melemahnya rupiah saat ini tidak perlu dikhawatirkan masyarakat Jogjakarta. Pasalnya di Jogjakarta tidak memiliki banyak perusahaan skala besar.

“Untuk produk-produk bahan baku impor pasti kena dampak, seperti kulit, batik yang pewarnanya dari import, kalau perusahaan besar seperti itu iya kena,” tutur saat ditemui di kantor BI Jogja pukul 12.00 WIB.

Selain itu perusahaan-perusahaan di Jogja tidak memilki hutang luar negeri. Hal ini menguatkan Jogja tidak terkena dampak dari kenaikan rendahnya nilai rupiah.

Budi juga menjelaskan turunnya nilai rupiah saat ini tidak lebih parah dari krisis tahun 1998. Melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih 4,7%, inflasi sekitar 2 %, dan neraca transaki berjalan masih surplus.

“Secara fundamental ekonomi masih bagus dibandingkan tahun 1998 yang lalu,” jelas Budi.

Sementara dengan turunnya nilai rupiah terhadap dollar AS berdampak pada meningatnya aktivitas money charger. Menurut pimpinan money charger Mulia Hotel Inna Garuda, Budi Waluyo turunnya rupiah berkah bagi tamu mancanegara.

“Biasanya yang ditukarkan kalau dulu sekitar U$ 100.000 atau sekitar 1,2 milyar hingga 1,3 milyar sekarang 1,4 milyar,” tutur Budi. |Winda Efanur FS|

back to top