Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Tukang Becak dan Andong Kuatirkan Penataan Ulang Dishub DIY

Tukang Becak dan Andong Kuatirkan Penataan Ulang Dishub DIY

Tahun 2015 ini Dinas Perhubungan DIY berencana menganggarkan Dana Istimewa (Danais) 1,5 M untuk menata ulang lalu lintas Tugu hingga wilayah Kraton. Salah satu program khususnya membuat pool becak dan andong wisata. Rencana ini disambut kuatir 'nasib' 6000 Tukang Becak dan Andong.

Jogja-KoPi|Master plan Dinas Perhubungan DIY awal tahun ini akan menata kembali kawasan Tugu sampai Malioboro. Untuk langkah awalnya Dishub yang telah mengantongi danais 1,5 akan membuat pool becak dan andong.

Rincian konsep dan bentuk belum dijabarkan secara jelas. Pihak Dinas Perhubungan DIY tidak bersedia memberikan keterangan. Namun bagian informasi Dinas Pariwisata DIY, Nur Budhi Puji Wibowo memberikan gambaran semacam shelter bagi becak dan andong.

Budhi menambahkan adanya rencana Dishub merupakan upaya bersama dari semua elemen untuk mempercantik wajah Malioboro.

“Hal ini mengembalikan fungsi-fungsi tata ruang kota untuk bisa menjadi Jogja secara utuh dari konsep sisi budayanya namun tidak mengembalikan Jogja ke kota kuno, makanya pakai danais itu”, tutur Budi.


Sementara Ketua Paguyuban Becak Ngejaman, Sutris menegaskan rencana baik Dishub bisa direalisasikan asalkan tidak mengganggu kesejahteraan para tukang becak.

“Masalah penataan Maliboro ke kraton itu bagus saja asalkan tidak mengganggu ketentraman dari tukang becak, misalkan ada pool atau tempat mangkal yang tadinya di Simpang Tiga Ngejaman, trus ditarik ke Beringharjo ya sangat kurang menguntungkan dan kurang strategis”, tutur Sutris.

Sutris dan kelompok becaknya mengkhawatirkan rancana Dishub ini justru akan menyulitkan mencari penumpang. Ibarat gula dan semut. Semut atau penumpang kesusahan mencari gula, setelah direlokasi ke tempat-tempat baru.

Sutris mengharapkan akan adanya transparasi dari pihak Dishub mengenai rencana ini. Dia tidak ingin kejadian yang lalu terulang kembali, ketika dirinya beserta Paguyuban Becak koordinasi ke kantor DPRD pusat dan kota. Kegelisahan mereka tentang minimnya penumpang dan kesejahteraan tukang becak masih ditanggapi datar.

“Ini sekitar 2-3 bulanan kami dari Paguyuban Becak Wisata ke DPRD pusat sama DPRD kota. Kami mengusulkan kepada Dinas Tata Kota dan Perhubungan menata ulang (Malioboro) agar tidak mengurangi jatah cari duit. Tapi DPRD belum kasih kepastian. Katanya belum ada komisi yang menerapkan jalan buat kesejahteraan, aturan mainnya belum ada, belum ada komisinya yang menjurus ke situ.

Sebagai monitoring salah satu anggota Paguyuban Becak, Setia Kawan, Herry berharap rencana Dishub dengan angka fantastis 1,5 M ini jangan sampai menjadi permainan proyek semata.

Kita sudah tertib
Selain penolakan dari Paguyuban Becak, hal serupa juga diungkapkan oleh salah satu tukang andong, Parjimin. Menurutnya penataan dan tempat mangkal andong-andong sudah baik.

“Ngga bisa Mbak, ini sudah tertib, nanti susah cari muatan kalo di kasih halte (pool), itu kan berhentinya tertentu. Ini sudah dikasih jalan sama Dinas Pariwisata, mending kaya gini aja. Ini (penataan) sudah diatur sama walikota dikasih jalur lambat."

Salah satu anggota Paguyuban Becak Setia Kawan, Herry juga bersikap kukuh menolak. Dia memilih penataan sekarang yang sudah baik.

“Saya rasa tetap bagus begini. Inikan penumpang ga harus susah nyari pool. Misal penumpang ada di jalan sini. Nah poolnya ada di stasiun kereta,,ya ga logis to. Kayak gini aja (penataannya) sudah tertib “, tutur Herry. |

back to top