Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Tubuh Berhasrat Dangdut

Tubuh Berhasrat Dangdut

Dangdut Sub-Kultur

Belakangan ini, menjamur program kompetisi musik di media massa, televisi. Sebut saja, X faktor Indonesia, Indonesian Idol, AFI, Kontes Dangdut Indonesia, dan Akademi Dangdut Indonesia. Pesertanya pun membludak, terutama anak-anak muda dari kota hingga pelosok desa. Sangat aneh, karena kontes musik itu tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan, satu peserta mampu mengikuti lebih dari satu audisi konteks musik yang berbeda genrenya. Penontonnya pun demikian.

Jangan-jangan, masyarakat kita memang menyimpan cita-cita terpendam menjadi penyanyi daripada politisi. Atau, masyarakat kita sudah jengah menonton badut-badut politik di media massa yang saling bertarung berebut kuasa dan wacana. Keberadaan hiburan musik di media massa adalah bentuk sinisme dan alergi budaya terhadap politik pragmatis di negeri kita.

Berdasarkan rating acara TV Indonesia, 1 Mei 2015, menunjukkan adanya pergeseran selera penontonnya. Sebelumnya, sinetron India berjudul Jodha (share, 14%), 7 Manusia Harimau (share, 20,3%), dan Tukang Bubur Naik Haji (share, 18,3%) menjadi acara TV yang paling menyita perhatian publik. Dalam hitungan hari, acara tersebut tergeser oleh posisi D’Academy Dangdut Indosiar (share, 23,1%). Ketika berselancar di mesin pencari (google.com), tidak ada satupun acara berita (news) dan talkshow politik yang nyaris bertengger di rangking 10 besar, apalagi 5 besar.

Ibarat makan sayur tanpa garam, kurang lengkap rasanya apabila memperbincangkan musik populer di Indonesia lalu melupakan musik dangdut. Meskipun dangdut awal keberadaannya dilabeli sebagai musik “kampungan”, musik rakyat, dan musik kelas bawah (Weintraub, 2010), namun dalam perkembangannya ia tampil mewujud sebagai nasionalisme budaya (Simatupang, 2014), sekaligus akar penopang kemunculan masyarakat Indonesia modern (Frederick, 1982).

Saya bukan “penggila” dangdut, sekalipun penikmat musik populer. Bukan karena tidak suka dangdut, melainkan selera musik saya telah dikonstruksikan oleh komunitas musik rock dan tradisi keluarga Madura yang doyan musik tradisional dan Islami. Saya sepakat dengan pandangan Bourdieu (1977) bahwa selera seseorang akan musik ditentukan oleh habitus kelas sosialnya yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Awal abad 21 ini, berbagai media mulai doyan menyuguhkan musik pop. Padahal, musik pop ini bersifat eskapisme. Musik pop mampu melupakan persoalan sosial di sekitarnya (Laugley, 2011). Kesadaran kritis anak muda pun terbungkam karena bius romantisme musik pop.

Beruntungnya, melalui akademi dangdut di Indosiar, anak muda pencinta dangdut memiliki tempat untuk bersuara. Para pesertanya adalah anak muda dari berbagai daerah. Seperti, Madura, Banyuwangi, Kalimantan, dan lainnya. Mereka ini dianggap mewakili citra daerahnya masing-masing. Sayang, representasi citra daerah ini rawan konflik di akar rumput. Masing-masing pendukungnya terlalu etnosentrisme. Bahkan, ada rumor yang beredar di kalangan pendukung kontes dangdut itu bahwa menurunnya kualitas penampilan idolanya karena terkena imbas mantra para dukun peserta lainnya. Ini sungguh cara pandang yang keterlaluan. Merek tak sadar, sedang mengigau. Terlelap ke dalam pelukan hangat hegemoni hiburan. Mereka nyatanya merupakan cetakan dari industri budaya massa.

Menurut Rob Lathan (2002) musik populer sebagai nafas industri budaya massa itu layaknya vampire. Budaya anak muda itu hanyalah konstruksi artifisial yang sengaja dirancang oleh produser industri budaya. Anak muda dikonstruksikan sebagai korporasi ideal, proses identifikasi diri mereka dengan representasi kolektifnya tidak lebih dari produksi ideologi ke-anakmuda-an (ideology of youthness) media massa.

Setidaknya, ada dua proses yang menandai hal ini. Pertama, kode, suatu kekuatan struktural yang mengintegrasikan kehidupan sosial berdasarkan logika totaliterian. Mengadopsi ide Baudrillard, segalanya direproduksi secara langsung melalui proses komunikasi, politik, pertukaran tanda, dan gaya hidup umum. Sehingga, musik pop yang dikonsumsi anak muda itu merupakan bentuk fetisisme di kalangan anak muda yang sudah mengalami infeksi, korupsi dan tranformasi kehampaan.

Selama ini, sub-kultur di kalangan Sosiolog fungsional-struktural cenderung mengasumsikan adanya tindakan patologis dikalangan anak muda. Bahkan, ruang publik dan musik pop yang juga hidup di dalamnya dianggap netral. Padahal, seleksi musik dan pembentukan identitas kelompok sub-kultur turut ditentukan oleh pengalaman hidup sehari-hari yang dipengaruhi ideologi dominan yang bekerja secara hegemonik (Hegdige, 1979). Termasuk juga, kontrol orang tua dalam mengisi waktu luang keluarga, serta latar belakang pekerjaan dan pendidikan anggota kelompok sub-kultur yang bersangkutan.

Dangdut Ideologis

Banyaknya para fandom (para penggemar), membuat dangdut sering digunakan sebagai alat ideologis. Di tangan Rhoma, misalnya dangdut menjadi sarana dakwah nilai-nilai agama, Islam. Lirik lagunya pun bernuasa ketuhanan dan nasehat kebajikan. Semisal, simak saja di dalam lirik lagunya yang berjudul “Judi”, “Mirasantika”, “Begadang”, dan lainnya. Itu juga terlihat di studio musik orkes melayu (O.M) Soneta, miliknya. Ketika berkunjung ke studionya, anda akan melihat sebuah prasasti di depan pintu masuknya yang bertuliskan: “Musik adalah suatu pertanggungjawaban kepada tuhan dan manusia”.

Modal simbolik dan sosial ditangannya, membuat Rhoma nekad mencalonkan diri menjadi kandidat presiden beberapa waktu lalu dari parpol tertentu.Meskipun pada akhirnya dirinya gagal dicalonkan, kekuatan modal simbolik dan sosialnya cukuplah mengguncang dunia politik Indonesia menjelang pilpres. Lain waktu, dirinya perlu meniru strategi Jokowi dan Prabowo yang lebih memilih idola musik pop Indonesia, seperti Slank, Iwan Fals, dan Ahmad Dhani (pentolan Dewa 19) agar para parpol dan masyarakat Indonesia tersentuh perasaannya.

Berbeda halnya dengan Basofi Soedirman, gubernur Jatim periode 1993-1998. Politisi senior Golkar ini turun gunung. Dia menjadi terkenal karena lagu yang ngetop: “tidak semua laki-laki”. Di hampir tiap kunjungan politiknya, lagu itu sering terdengar. Baginya, dangdut bisa mensosialisasikan kesuksesan pembangunan pemerintah secara efektif. Melalui debut dangdutnya, dia mudah sekali membangun elektabilitas dan citra dirinya di kalangan masyarakat. Sehingga, modal ekonomis yang dikeluarkannya dalam langkah-langkah politiknya lebih efisien.

Memang sejak dulu, dangdut bisa bertahan lama karena peran media. Melalui TVRI dangdut bisa dinikmati publik. Tapi, porsinya terbatas. Hanya di program Aneka Ria Safari dan Album Minggu saja. Porsi dangdut tidak lebih dari 30% saja. Sisanya didominasi program ekonomi-politik orde baru dan Golkar. Motto media berplat “merah” itu adalah pemirsa sebagai bangsa. Jikalau dangdut ingin tampil, maka produsernya harus rela membayar mahal. Dari situlah, keuntungannya bisa digunakan untuk kepentingan politik orde baru (Weintraub, 2010:79).

Pasca orde baru, banyak televisi swasta bermunculan. Dangdut yang sedang naik daun itu menjadi program unggulan musiknya. Bagi mereka, dangdut bukanlah sekedar estetis dan identitas bangsa. Apalagi, beraroma politik. Melainkan, lebih berorientasi bisnis selera. Jikalau dangdut sarat profit, keberadaannya akan ditayangkan bertubi-tubi, siang-malam. Dangdut pun sempat difilmkan. Menampilkan artis papan atas dangdut sebagai pemeran utamanya. Sejak saat itu, masyarakat pun memiliki idola musik baru, idola musik dangdut. Idola dangdut ini bersaing dengan idola musik pop dan musik rock kala itu. Nama Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, misalnya saling bersaing dengan Akhmad Albar dan Koes Plus yang lebih dulu dikenal.

Tubuh Berdangdut: Menggoda Hasrat

Perkembangan dangdut kini mulai banyak berubah. Dangdut mulai menjadi ritual yang harus ada di setiap perayaan budaya di masyarakat pedesaan. Tetapi, orang-orang desa cenderung lebih senang nanggap (mengundang dan menyewa) orkes dangdut yang memiliki biduan molek dan seksi. Urusan kualitas suara dinomorduakan. Yang utama dan pertama adalah tubuhnya.

Kebetulan di prodi Kajian Budaya dan Media-UGM, khususnya di kelas budaya populer, saya mendapatkan tugas etnografis menonton musik dangdut di salah satu desa di Pantura. Tentu, tugas ini menantang dan menggelisahkan. Karena, saya adalah “orang asing” yang belum mengenal lokasi penelitian. Beruntung, di tengah perjalanan, kala duduk bersebelahan di bus dengan seorang gadis desa, saya mendapat tawaran berkunjung ke rumahnya. Dia berminat memberi bantuan sekadarnya untuk mengajak saya menonton acara nanggap dangdut di rumahnya keesokan harinya.

Esok harinya, saya akhirnya menonton live music Orkes Melayu (OM) Pantura dengan biduan andalannya Reeza Lawan Sewu. Pertunjukan dangdut itu disajikan pada acara pernikahan salah satu penduduk di Desa Mayong Kidul, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara. Pertunjukan dangdut ini dihadiri banyak penontonnya, mulai dari anak muda hingga orang tua, baik laki-laki dan perempuan. Sebagian dari mereka turut berjoget di bawah panggung yang tingginya hampir menutupi lehernya. Sebagian besar lainnya memadati kursi-kursi yang disediakan tuan rumah penyelenggara. Sisanya berdiri mematung di pinggiran dan pojokan arena pertunjukan.

Para penjoget tampak berjejer horisontal dan serampangan. Tempat berjoget yang sempit, membuat mereka saling berdesakan seolah-olah berebut ruang untuk sekedar menggoyangkan kaki, tangan, dan kepalanya. Sesekali wajah diantara mereka saling menatap spontan, sepertinya hendak menerkam karena tubuhnya saling bergesekan tanpa kendali. Tetapi kejadian itu hanyalah sebentar, berlalu-lalang saja, kemudian mereka fokus kembali menikmati alunan musik yang keluar dari balik kotak-kotak suara (sound). Sebagian kecil penonton yang berdiri tepat di bawah panggung, menatap sang biduan yang tampak muda belia, bersepatu kasual (jenis boots sniker berwarna hitam putih) ala anak muda perkotaan yang biasanya digunakan untuk nongkrong dan jalan-jalan, berpakaian seksi dan meliak-liukkan tubuhnya yang gemulai.

Pakaian sang biduan berwarna mencolok (merah) dan terkesan seronok, menutupi sebagian paha dan dadanya, sehingga membuat lekukan bagian dalam pantat dan dadanya nyaris sempurna terlihat. Cara berpakaian mini skirts itu barangkali dilakukan secara sadar dan sengaja agar leluasa bergoyang. Tapi, di sisi lainnya membuat mata para penonton laki-laki di sekitarnya sepertinya tidak mau cepat berkedip karena terhasut imajinasi liarnya sendiri hingga tak ingin kehilangan momentum sensual yang langka itu, meskipun hanya sekian detik saja. Jika musik pop_meminjam istilah Storey (1996)_lebih menyentuh pada sisi afektif konsumernya, maka pada musik dangdut cenderung lebih menyentuh sisi imajinasi yang bersumber pada hasrat penontonnya.

Tiba-tiba imajinasi saya tersentuh juga olehnya. Imajinasi Saya melangkah jauh ke belakang. Apa yang dilakukan Reeza Lawang Sewu itu bukanlah yang pertama kalinya dalam pertunjukan musik dangdut di Indonesia. Pada tahun 1996, majalah basis mempublikasikan hasil laporannya mengenai penampilan panyanyi dangdut Seksi ibu kota, Lilis Karlina. Menurut laporan Made Tony dalam Basis tersebut bahwa dangdut dan joget ibarat bius sosial bagi para penikmatnya.

“... Diantara peluh yang mengalir deras, hentakan gendang membuat penyanyi itu meliuk-liuk. Ia tenggelam dalam ektase, dalam liuk-liuk tubuhnya yang gemulai. Bagi pecandu dan penonton dangdut suasana menggairahkan ini sangat khas. Lantunan suara dan liukan tubuh Lilis Karlina membuat mereka meratap-ratap ...” (1996:42)

Keeratan hubungan keduanya menjadi citra musik dangdut yang sudah mengakar kuat, sulit diurai, meskipun ini terkadang sangat kontroversial, sehingga membuat representasi citra diri para biduan dangdutnya sering dikait-kaitkan dengan citra musiknya. Ikke Nurjannah yang dikenal sebagai artis dangdut yang mengutamakan kualitas suaranya daripada goyangan tubuhnya juga merasakan hal yang sama. Dalam diarynya Ikke Nurjannah menulis:

“...aku banyak manggung di kecamatan sepanjang pulau Jawa. Setelah punya album, aku sering jadi penyanyi utama. Berarti show dimulai dengan sejumlah penyanyi pendamping, yang rata-rata bergoyang maut. Begitu aku tampil. Fans menuntutku bergoyang sesensual penyanyi pembuka...” (2014:72)

Selain itu, ada juga kasus Inulmania yang sempat mengguncang jagat dangdut pada tahun 2013. Goyang “ngebor” Inul Daratista, biduan dangdut asal Pasuruan-Jawa Timur, dianggap sangat fenomenal dalam industri musik dangdut, tetapi sangat menjijikkan bagi kalangan yang menolaknya. Sang raja dangdut, Rhoma Irama, dan MUI turut mengutuk cara berdangdut Inul yang amoral, cabul, dan berbau porno, meski hal inipun lebih bersifat ideologis daripada estetis. “Goyang ngebor, iman bocor”, suatu seruan protes moral para demonstran di Jakarta terhadap Inul (Weintraub, 2010:205). Kontroversi Inul ini lebih bertautan dengan persoalan politik identitas ketimbang aspek kesusilaan seorang artis (Heryanto, 2012: 28). Namun, fenomena Inulmania itu lalu berimbas pada kemunculan artis pendatang baru dengan menawarkan berbagai goyangan sensualitasnya yang khas (Suseno, 2005:57).

Pada dangdut, goyang dan joget sebetulnya memiliki makna berbeda, walaupun masyarakat secara umum menyamaratakannya. Goyang dan joget didasarkan pada gerak tubuh. Namun, goyang biasanya dilekatkan pada sosok biduan, penyanyi dangdut perempuan, yang menggerakkan bagian tubuh yang bernilai sensual, seperti pinggul, pantat, serta dadanya atau penyatuan dari ketiganya. Sementara joget dilekatkan pada sosok laki-laki, baik penyanyi dangdut laki-laki dan penontonnya, yang menggerakkan bagian tubuh secara estetis pada gerak tangan, kaki, dan kepala atau penyatuan gerak ketiganya.

Para penonton perempuan yang bergerak estetis ini sejatinya dikategorikan melakukan joget atau sedang berjoget, tetapi orang yang melihatnya menganggapnya bergoyang. Tentu saja, goyang dan joget menemui kesempurnaannya apabila diiringi musik dangdut (Frederick, 1982). Tanpa musik dangdut, gerak tubuh ini akan dinamai dengan nama lainnya, seperti tari, tripping (dalam diskotik), dansa atau senam.

Maka, memahami goyang dan joget perlu memahami juga konteks gerak tubuh, irama musik yang mengiringi, dan konstruksi sosialnya. Inilah yang dalam pandangan Shilling (2005:127) dianggap sebagai tubuh yang bermusik. Pada kontek ini, Saya pun menyebutnya tubuh berdangdut. Tulisan ini pun bisa dinamai sebagai teks berhasrat dangdut. Lantas, semua kata pun turut bergoyang dangdut. Tarik mang, ahhh...!

Daftar Pustaka

 
Andrew N. Weintraub, 2010. Dangdut Stories, New York: Oxford University Press
Ariel Heryanto (ed.), 2012. Budaya Populer Di Indonesia, Yogyakarta: Jalasutra
Bourdieu, Pierre, 1977. Outline of A Theory of Practice, UK: Cambridge University Press
Chris Shilling, 2005. The Body in Culture, Technology and Society, London, Thousan Oaks, and New Delhi: Sage Publication
Dan Laughey, 2006. Music and Youth Culture, Edinburgh: Edinburgh University Press
Darmo Budi Suseno, 2005. Dangdut Musik Rakyat, Yogyakarta: Kreasi Wacana
Dick Hebdige, 1979. Subculture, London & New York: Routledge
Ikke Nurjannah, 2014. Diary Dangdut, Jakarta: Gramedia 
John Storey, 1996. Cultural Studies and The Study of Popular Culture: Theories and Methods, Athens: The University of Georgia Press
Lono Simatupang, 2014. Pergelaran: Sebuah Mozaik Penelitian Seni-Budaya, Yogyakarta: Jalasutra
Made Tony, 1996. Bius Sosial Dibalik Goyang Dangdut, dalam Majalah Basis edisi Link & Match: Robotisasi Pendidikan?, No. 3-4, tahun ke-45, Mei-Juni, Yogyakarta: Percetakan Kanisius 
Rob Lathan, 2002. Consuming Youth, Chicago & London: University of Chicago Press 
William H. Frederick, 1982. Rhoma Irama and The Dangdut Style: Aspects of Contemporary Indonesian Popular Culture, Indonesia, USA: Cornel University Press
 

 

 

 

back to top