Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Transportasi kota tak bisa dibebankan pada satu modal

Transportasi kota tak bisa dibebankan pada satu modal
Surabaya – KoPi | Jumlah kendaraan di Surabaya pada tahun 2014 mencapai 4,4 juta unit. Roda dua menjadi yang terbanyak, sekitar 3,55 juta unit. Pertambahan jumlah kendaraan roda empat mencapai 4 ribu unit per bulan, sedangkan kendaraan roda dua mencapai 12 ribu unit per bulan. Bandingkan dengan panjang jalan Surabaya yang hanya mencapai 2.096.690 meter.

Melihat angka tersebut tentu saja sudah menggambarkan bagaimana gawatnya kondisi jalanan di Surabaya. Jumlah kendaraan terus meningkat, sementara jalan tidak bertambah panjang. Perlunya transportasi umum yang bersifat massal, murah, dan cepat semakin tak terelakkan demi mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan raya.

Meski demikian transportasi umum di Surabaya tidak bisa dibebankan pada satu moda transportasi saja. Penulis buku Surabaya Punya Cerita, Dhahana Adi, mengatakan kemacetan Surabaya tidak bisa diatasi hanya dengan pembangunan trem dan monorel saja. Sinergi antara transportasi umum lain seperti bus kota dan angkutan umum perlu dilakukan.

“Trem itu hanya salah satu alternatif untuk mengimbangi kemacetan dan menambah efektivitas angkutan umum lain. Sebaiknya trem dan monorel disandingkan dengan transportasi lain dan menjadi opsi warga Surabaya,” ujar Ipung, panggilan Dhahana.

Masyarakat seharusnya bebas memilih transportasi umum mana yang lebih cocok untuknya, baik harga, jalur, maupun ketepatan waktunya. Yang penting tidak mengubah blue print transportasi massal yang sudah ada.

“Ini semua bergantung pada kesanggupan pemerintah. Pemerintah jangan memperlakukan pembangunan trem ini sebagai euforia sesaat. Ketika lihat macet, langsung cetuskan bangun trem. Seharusnya transportasi umum sesuaikan dengan kondisi tata kota dan harus terstruktur untuk jangka panjang,” kata Ipung.

Pemerintah perlu mengubah pola pikir masyarakat tentang transportasi publik. Selama ini masyarakat menganggap menggunakan transportasi umum memakan waktu yang lebih lama dibanding kendaraan pribadi. 

“Seharusnya pemerintah mampu menjelaskan pada warga bahwa transportasi massal itu moda alternatif untuk efisiensi waktu,” lanjutnya.

 

back to top