Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Transportasi kota tak bisa dibebankan pada satu modal

Transportasi kota tak bisa dibebankan pada satu modal
Surabaya – KoPi | Jumlah kendaraan di Surabaya pada tahun 2014 mencapai 4,4 juta unit. Roda dua menjadi yang terbanyak, sekitar 3,55 juta unit. Pertambahan jumlah kendaraan roda empat mencapai 4 ribu unit per bulan, sedangkan kendaraan roda dua mencapai 12 ribu unit per bulan. Bandingkan dengan panjang jalan Surabaya yang hanya mencapai 2.096.690 meter.

Melihat angka tersebut tentu saja sudah menggambarkan bagaimana gawatnya kondisi jalanan di Surabaya. Jumlah kendaraan terus meningkat, sementara jalan tidak bertambah panjang. Perlunya transportasi umum yang bersifat massal, murah, dan cepat semakin tak terelakkan demi mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan raya.

Meski demikian transportasi umum di Surabaya tidak bisa dibebankan pada satu moda transportasi saja. Penulis buku Surabaya Punya Cerita, Dhahana Adi, mengatakan kemacetan Surabaya tidak bisa diatasi hanya dengan pembangunan trem dan monorel saja. Sinergi antara transportasi umum lain seperti bus kota dan angkutan umum perlu dilakukan.

“Trem itu hanya salah satu alternatif untuk mengimbangi kemacetan dan menambah efektivitas angkutan umum lain. Sebaiknya trem dan monorel disandingkan dengan transportasi lain dan menjadi opsi warga Surabaya,” ujar Ipung, panggilan Dhahana.

Masyarakat seharusnya bebas memilih transportasi umum mana yang lebih cocok untuknya, baik harga, jalur, maupun ketepatan waktunya. Yang penting tidak mengubah blue print transportasi massal yang sudah ada.

“Ini semua bergantung pada kesanggupan pemerintah. Pemerintah jangan memperlakukan pembangunan trem ini sebagai euforia sesaat. Ketika lihat macet, langsung cetuskan bangun trem. Seharusnya transportasi umum sesuaikan dengan kondisi tata kota dan harus terstruktur untuk jangka panjang,” kata Ipung.

Pemerintah perlu mengubah pola pikir masyarakat tentang transportasi publik. Selama ini masyarakat menganggap menggunakan transportasi umum memakan waktu yang lebih lama dibanding kendaraan pribadi. 

“Seharusnya pemerintah mampu menjelaskan pada warga bahwa transportasi massal itu moda alternatif untuk efisiensi waktu,” lanjutnya.

 

back to top