Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Transportasi kota tak bisa dibebankan pada satu modal

Transportasi kota tak bisa dibebankan pada satu modal
Surabaya – KoPi | Jumlah kendaraan di Surabaya pada tahun 2014 mencapai 4,4 juta unit. Roda dua menjadi yang terbanyak, sekitar 3,55 juta unit. Pertambahan jumlah kendaraan roda empat mencapai 4 ribu unit per bulan, sedangkan kendaraan roda dua mencapai 12 ribu unit per bulan. Bandingkan dengan panjang jalan Surabaya yang hanya mencapai 2.096.690 meter.

Melihat angka tersebut tentu saja sudah menggambarkan bagaimana gawatnya kondisi jalanan di Surabaya. Jumlah kendaraan terus meningkat, sementara jalan tidak bertambah panjang. Perlunya transportasi umum yang bersifat massal, murah, dan cepat semakin tak terelakkan demi mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan raya.

Meski demikian transportasi umum di Surabaya tidak bisa dibebankan pada satu moda transportasi saja. Penulis buku Surabaya Punya Cerita, Dhahana Adi, mengatakan kemacetan Surabaya tidak bisa diatasi hanya dengan pembangunan trem dan monorel saja. Sinergi antara transportasi umum lain seperti bus kota dan angkutan umum perlu dilakukan.

“Trem itu hanya salah satu alternatif untuk mengimbangi kemacetan dan menambah efektivitas angkutan umum lain. Sebaiknya trem dan monorel disandingkan dengan transportasi lain dan menjadi opsi warga Surabaya,” ujar Ipung, panggilan Dhahana.

Masyarakat seharusnya bebas memilih transportasi umum mana yang lebih cocok untuknya, baik harga, jalur, maupun ketepatan waktunya. Yang penting tidak mengubah blue print transportasi massal yang sudah ada.

“Ini semua bergantung pada kesanggupan pemerintah. Pemerintah jangan memperlakukan pembangunan trem ini sebagai euforia sesaat. Ketika lihat macet, langsung cetuskan bangun trem. Seharusnya transportasi umum sesuaikan dengan kondisi tata kota dan harus terstruktur untuk jangka panjang,” kata Ipung.

Pemerintah perlu mengubah pola pikir masyarakat tentang transportasi publik. Selama ini masyarakat menganggap menggunakan transportasi umum memakan waktu yang lebih lama dibanding kendaraan pribadi. 

“Seharusnya pemerintah mampu menjelaskan pada warga bahwa transportasi massal itu moda alternatif untuk efisiensi waktu,” lanjutnya.

 

back to top