Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Toleransi Kehidupan Beragama: Upaya Membangun Masyarakat yang Harmonis

Toleransi Kehidupan Beragama: Upaya Membangun Masyarakat yang Harmonis

KoPi| Meskipun manusia terdiri dari banyak golongan agama, namun secara sosial pada hakekatnya manusia adalah kesatuan yang tunggal. Untuk itu, perbedaan golongan hendaknya bisa dijadikan sarana pendorong untuk saling mengenal, saling memahami dan saling berhubungan.

Ini akan mengantarkan setiap golongan itu kepada kesatuan dan kesamaan pandangan dalam membangun dunia yang diamanatkan Tuhan kepadanya. “Agree in Disagreement“ merupakan ungkapan yang cocok untuk hal ini. Prinsip yang selalu didengungkan oleh Prof. DR. H. Mukti Ali pada jamannya itu bermakna bahwa perbedaan tidak harus melahirkan permusuhan. Karena perbedaan selalu ada di dunia ini, maka perbedaan tidak harus menimbulkan pertentangan.
Mewujudkan kerukunan dan toleransi dalam pergaulan hidup antar umat beragama merupakan bagian usaha menciptakan kemaslahatan umum serta kelancaran hubungan antara manusia yang berlainan agama.

Upaya tersebut sejalan dengan visi dan misi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) yang hendak membentuk generasi muda yang unggul inklusif, humanis dan berintegritas. Untuk itu, Unit Matakuliah Pengembangan Kepribadian (MPK-UAJY) menyelenggarakan Kuliah Umum dengan tema, “Toleransi Kehidupan Beragama: Upaya Membangun Masyarakat yang Harmonis” di Ruang Auditorium Kampus II, Gedung Thomas Aquinas, Babarsari pada Sabtu, 31 Oktober 2015.

Kuliah Umum yang dihadiri lebih dari 300 mahasiswa ini menghadirkan 3 pembicara, masing-masing adalah Dr. Anak Agung Suryahadi (Birokrat dari PPPG), Rm. P. Tri Wahyu Widiantoro, Pr. (UAJY), dan Dr. Inayah Rochmaniyah, MA (UIN Sunan Kalijaga). Sedangkan Dr. Y. Agus Tridiatno, MA bertindak sebagai moderator.

Disampaikan oleh Dr. Anak Agung Suryahadi, bahwa agama Hindu tidak bermasalah dengan toleransi. Hal ini sudah dibuktikan sejak berabad-abad yang lalu ketika jaman kerajaan Hindu tumbuh subur di Indonesia. Pada masa itu agama Hindu mampu hidup rukun dengan agama-agama lain. Bahkan di Bali juga ada tempat-tempat seperti kuil yang ditujukan untuk menyembah/menghormati tokoh-tokoh agama lain.

Sedangkan menurut Rm. P. Tri Wahyu Widiantoro, Pr., terdapat dua macam toleransi, yaitu toleransi statis dan toleransi dinamis. Toleransi statis adalah “toleransi dingin” tidak melahirkan kerjasama hanya bersifat teoritis.

Sedangkan toleransi dinamis adalah toleransi aktif melahirkan kerja sama untuk tujuan bersama, sehingga kerukunan antar umat beragama bukan dalam bentuk teoritis, tetapi sebagai refleksi dari kebersamaan umat beragama sebagai satu bangsa. Harus ditegaskan bahwa, "Toleransi adalah demi untuk menghadirkan Kerajaan Allah di dunia sehingga toleransinya adalah toleransi aktif, yang meliputi terciptanya dialog dan kerja sama antara umat beragama," demikian pungkasnya.

Menurut Dr. Inayah Rochmaniyah, MA, Dosen matakuliah Radikalisme Agama di UIN Sunan Kalijaga sekaligus aktivis gender ini, dalam tataran normatif, Islam sangat toleran, damai, agama yang menganjurkan umatnya untuk menjadi rahmat bagi sesamanya. Bahkan Islam memberikan perhatian khusus terhadap agama lain khususnya Kristen dan Yahudi, dengan kedua agama ini Islam mempunyai hubungan yang erat.

Islam mengakui bahwa kedua agama ini berasal dari satu sumber, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Di samping itu, Islam adalah agama yang bersifat toleran, yang eksistensinya tidak tersekat oleh ruang dan waktu. Ia merupakan agama sepanjang sejarah kemanusiaan yang dibawa oleh Muhammad SAW , Nabi dan Rasul Allah SWT. Sumber dari watak toleran tersebut sebenarnya berpangkal dari pengertian ‘Islam” itu sendiri, yang tak lain bermakna sebagai damai, tunduk, menyerah dan taat.

Meskipun demikian, menurut Inayah, Islam dalam tataran teks sering timbul berbagai masalah. Hal ini disebabkan karena wahyu ditulis dalam teks sehingga kualitasnya pun tergantung kepada para penulis teks, penafsirannya, dan sebagainya. Dalam tataran living Islam, yakni Islam dalam keseharian sering timbul berbagai tindak kekerasan. Namun secara mainstream, terutama di kalangan grass root, “Sesungguhnya Islam amat merindukan Pancasila sebagai dasar penyelenggara kehidupan bernegara yang penuh toleransi,” tegasnya. (One 2/11)

back to top