Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

TNI: Hadapi proxy war dari luar dengan bela negara

TNI: Hadapi proxy war dari luar dengan bela negara
Surabaya – KoPi | Perkembangan dunia yang serba cepat membuat bangsa Indonesia harus bersiap menghadapi segala kemungkinan. Di tengah desakan arus globalisasi, Pancasila sebagai jati diri bangsa semakin rentan terhadap tantangan.
 Keprihatinan itu memicu Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Timur untuk mengadakan Pendidikan Kemasyarakatan Produktif melalui Pendidikan Pancasila pada Rabu (24/8). Acara tersebut diadakan dalam rangka menyambut Hari Lahir Pancasila yang akan datang.

“Globalisasi membuat ancaman terhadap keutuhan Indonesia menjadi semakin kompleks dan multidimensional serta sulit diprediksi,” ungkap Letkol (Inf) Didi Suryadi, Pabandya Bhakti Kodam V Brawijaya, salah satu narasumber dalam acara tersebut.

Didi mengatakan, trend perang saat ini adalah proxy war, yaitu perang di mana salah satu pihak menggunakan pihak ke tiga atau kelompok lain untuk berperang melalui berbagai aspek. Dengan kedok politik, ekonomi, sosial, dan budaya, mereka mengintervensi dan memberi tekanan kepada lawannya.

Proxy war tidak menggunakan kekuatan militer, melainkan menggunakan pemain pengganti seperti aktor-aktor non-negara, misalnya LSM, ormas, kelompok masyarakat, dan perseorangan. Diam-diam, dengan menggunakan pendekatan ekonomi, sosial, budaya, dan politik, mereka menyusup dan merongrong institusi dan konstitusi bangsa.

“Celakanya, dalam perang ini kita tidak bisa melihat siapa lawan siapa kawan. Dan ancaman ini lebih berbahaya daripada ancaman militer,” tukas Didi.

Menurutnya, untuk mencegah proxy war tersebut, pemuda memiliki peran yang sangat strategis dan menentukan. Proxy war merupakan ancaman non-militer, sehingga perlu peran masyarakat dan generasi muda untuk menangkalnya. Karena itu, pendidikan bela negara menjadi sangat penting.

Meski demikian, Didi mengatakan bela negara bukan berarti wajib militer, melainkan peningkatan profesionalisme, kesadaran moral, dan wawasan kebangsaan di kalangan anak muda. UUD 1945 pasal 27 ayat (3) dan UU No 3 Tahun 2002 Pasal 9 Ayat (1) menyebutkan, setiap warga negara berhak dan wajib untuk melakukan bela negara.

Upaya bela negara di kalangan pemuda dapat dilakukan melalui cinta tanah air, sadar berbangsa dan bernegara, meyakini Pancasila sebagai ideologi bangsa, dan rela berkorban untuk tanah air.

Sosiolog Universitas Airlangga Novri Susan yang juga menjadi pembicara dalam pelatihan tersebut mengatakan, saat ini masyarakat Indonesia memang rentan dan lemah dalam persaingan global. Karena itu, perlu sebuah perubahan progresif untuk menuju masyarakat sempurna di tengah arus globalisasi.

Slogan Revolusi Mental yang dicanangkan Presiden Joko Widodo sebenarnya merupakan salah satu bentuk perubahan progresif tersebut. Nilai-nilai strategis Revolusi Mental sebenarnya mengambil substansi Pancasila dan UUD 1945, yaitu integritas, etos kerja, gotong royong, religius, dan keadilan.

 

“Karena itu, pondasi utama adalah adalah mental atau sistem berpikir dan perasaan yang dipengaruhi tradisi, budaya, dan intelektualitas masyarakat. Untuk mengubah mental tersebut, harus ada intervensi dan rekayasa sosial,” ujar Novri.

back to top