Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

TNI: Hadapi proxy war dari luar dengan bela negara

TNI: Hadapi proxy war dari luar dengan bela negara
Surabaya – KoPi | Perkembangan dunia yang serba cepat membuat bangsa Indonesia harus bersiap menghadapi segala kemungkinan. Di tengah desakan arus globalisasi, Pancasila sebagai jati diri bangsa semakin rentan terhadap tantangan.
 Keprihatinan itu memicu Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Timur untuk mengadakan Pendidikan Kemasyarakatan Produktif melalui Pendidikan Pancasila pada Rabu (24/8). Acara tersebut diadakan dalam rangka menyambut Hari Lahir Pancasila yang akan datang.

“Globalisasi membuat ancaman terhadap keutuhan Indonesia menjadi semakin kompleks dan multidimensional serta sulit diprediksi,” ungkap Letkol (Inf) Didi Suryadi, Pabandya Bhakti Kodam V Brawijaya, salah satu narasumber dalam acara tersebut.

Didi mengatakan, trend perang saat ini adalah proxy war, yaitu perang di mana salah satu pihak menggunakan pihak ke tiga atau kelompok lain untuk berperang melalui berbagai aspek. Dengan kedok politik, ekonomi, sosial, dan budaya, mereka mengintervensi dan memberi tekanan kepada lawannya.

Proxy war tidak menggunakan kekuatan militer, melainkan menggunakan pemain pengganti seperti aktor-aktor non-negara, misalnya LSM, ormas, kelompok masyarakat, dan perseorangan. Diam-diam, dengan menggunakan pendekatan ekonomi, sosial, budaya, dan politik, mereka menyusup dan merongrong institusi dan konstitusi bangsa.

“Celakanya, dalam perang ini kita tidak bisa melihat siapa lawan siapa kawan. Dan ancaman ini lebih berbahaya daripada ancaman militer,” tukas Didi.

Menurutnya, untuk mencegah proxy war tersebut, pemuda memiliki peran yang sangat strategis dan menentukan. Proxy war merupakan ancaman non-militer, sehingga perlu peran masyarakat dan generasi muda untuk menangkalnya. Karena itu, pendidikan bela negara menjadi sangat penting.

Meski demikian, Didi mengatakan bela negara bukan berarti wajib militer, melainkan peningkatan profesionalisme, kesadaran moral, dan wawasan kebangsaan di kalangan anak muda. UUD 1945 pasal 27 ayat (3) dan UU No 3 Tahun 2002 Pasal 9 Ayat (1) menyebutkan, setiap warga negara berhak dan wajib untuk melakukan bela negara.

Upaya bela negara di kalangan pemuda dapat dilakukan melalui cinta tanah air, sadar berbangsa dan bernegara, meyakini Pancasila sebagai ideologi bangsa, dan rela berkorban untuk tanah air.

Sosiolog Universitas Airlangga Novri Susan yang juga menjadi pembicara dalam pelatihan tersebut mengatakan, saat ini masyarakat Indonesia memang rentan dan lemah dalam persaingan global. Karena itu, perlu sebuah perubahan progresif untuk menuju masyarakat sempurna di tengah arus globalisasi.

Slogan Revolusi Mental yang dicanangkan Presiden Joko Widodo sebenarnya merupakan salah satu bentuk perubahan progresif tersebut. Nilai-nilai strategis Revolusi Mental sebenarnya mengambil substansi Pancasila dan UUD 1945, yaitu integritas, etos kerja, gotong royong, religius, dan keadilan.

 

“Karena itu, pondasi utama adalah adalah mental atau sistem berpikir dan perasaan yang dipengaruhi tradisi, budaya, dan intelektualitas masyarakat. Untuk mengubah mental tersebut, harus ada intervensi dan rekayasa sosial,” ujar Novri.

back to top