Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Teror Bus Aceh

Teror Bus Aceh

Oleh: Khairu Syukrillah


Kasus pelemparan armada bus Aceh tujuan Medan – Banda Aceh atau sebaliknya yang terjadi belakangan ini telah menjadi fenomena yang semakin meresahkan publik Aceh. Beberapa kasus semakin meningkat seperti yang telah diberitakan oleh beberapa media waktu lalu.

Setelah sebelumnya sempat terjadi pada tahun 2012 dan kemudian kasus ini berhenti dan muncul sebentar pada 2013, pada awal tahun  ini pelaku yang selalu disebut OTK (orang tak dikenal) oleh media dan penegak hukum, pelemparan bus tersebut kembali beraksi. Kasus terbaru, pelemparan terjadi di simpang empat Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya, kali ini Bus Pusaka yang dilempari batu menyebabkan kaca samping bus pecah dan kening salah satu penumpang yang merupakan pejabat Kepala Bidang Akuntansi Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Pijay menjadi korban (Serambi, 4 Februari). Kasus lain yang menimpa Bus PMTOH di kawasan Tangkahan Lagan, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, pada Sabtu (1 Februari) malam yang juga menimbulkan korban seorang bayi terluka, dan masih banyak kasus lain yang telah diberitakan. Hingga kasus terakhir terjadi pada (19/04) di wilayah Stabat, Sumatera utara yang menimpa Armada Bus Kurnia berpelat BL 7463 PB, meskipun tidak mengakibatkan korban jiwa namun pihak armada Bus Kurnia mengalami kerugian karena kaca pintu supir yang pecah.


Sentimen Rasial atau Persaingan Bisnis

Beberapa motif sempat muncul. Hal yang kemudian muncul untuk kasus terbaru, ketika bus-bus Aceh dilempari di wilayah Sumatera Utara dipahami sebagai rasisme, atau sentimen rasial.

Jika sentimen rasisme menjadi motif alangkah purbanya hubungan antar-masyarakat berbeda daerah yang terjadi saat ini. Dipahami konteks hubungan Aceh – Sumatera Utara bukan sekedar hubungan sosio-antropologis, karena dekatnya aspek-aspek kekerabatan dan timbangan sejarah yang pernah membentuknya, namun juga yang lebih nampak nyata adalah hubungan bisnis dan perdagangan. Ada aspek saling memerlukan dalam konteks ini, bukan hanya Medan memerlukan Aceh, Aceh juga memerlukan Medan yang dalam taraf tertentu bahkan ketergantungan. Jika kasus ini melahirkan pandangan rasial akan berakibat buruknya hubungan ekonomi dan perdangan antara dua daerah ini. Ini juga sekaligus menunjukan evolusi manusia belum berkembang menjadi makhluk kultural masih menjadi homo racial.


Selain sentimen rasial, tidak menutup kemungkinan juga penyebab utama kasus-kasus tersebut meningkat karena persaingan bisnis antara pemilik saham utama bus-bus tersebut. Peningkatan yang dahsyat terhadap tampilan atau model bus-bus Aceh memang kian kompetitif sejak akhir tahun 2012. Masing-masing pengusaha bus saling kejar untuk membuktikan kesanggupan pengadaan bus baik dari segi karoseri yang luar biasa hingga desain yang mewah yang mampu menandingi kemewahan dalam menaiki armada pesawat. Model bus dengan berbagai karakter Highclass, Luxuryclass, Super Eksekutif, Eksekutif dan lain-lain telah memanjakan penumpang Aceh yang juga berdampak meningkatnya harga sewa.


Atas faktor ini tidak menutup kemungkinan persaingan antarpemilik bus-bus mewah tersebut yang menghalalkan segala cara termasuk yang durjana. Dampak model ini tentu melahirkan model persaingan yang primitif dengan memanfaatkan asas “yang paling kuat menahan godaan maka ia yang bertahan (survival of the fittest). Evolusionisme seperti ini seharusnya berhenti jutaan tahun lalu ketika seleksi alam masih berlaku bagi spesies dan bukan menjadi model peradaban bisnis modern.


Kemana Negara?


Melihat peningkatan kasus pelemparan yang terjadi belakangan ini yang sangat signifikan, berbagai argumen pun muncul dari berbagai kalangan untuk segera menindaklanjuti kasus tersebut, seperti yang dikatakan oleh Ketua DPD Organda Aceh bahwa aksi pelemparan tersebut sudah mengkhawatirkan keselamatan penumpang, selain kerusakan yang berakibat kerugian di kalangan pengusaha armada angkutan di Aceh.
Yang sangat patut untuk membongkar segala motif dibalik pelemparan ini adalah negara, yaitu aparat keamanan, secara khusus kepolisian. Pihak kepolisian harus bekerja dengan keras untuk menentukan motif tunggal atau jamak dari kasus ini sehingga publik tidak berebut memberikan kesimpulannya sendiri, yang juga bisa mengarah kepada kerugian sosial akibat model interpretasi yang keliru.


Dalam kondisi ini, pihak kepolisian jangan hanya melakukan upaya pencegahan terhadap pelemparan bus dari Aceh ke Medan atau sebaliknya melalui patroli di jalan nasional Banda Aceh – Medan tapi juga melakukan investigasi untuk tidak membiarkan tindakan kejahatan yang saat ini masih dianggap anonim ini menjadi perilaku berketerusan.

Perlu dilakukan juga kordinasi dengan kepolisian Sumatera Utara untuk mengungkap masaah karena kasus ini telah melibatkan dua wilayah kepolisian. Harus ada pandangan jernih bahwa masalah ini bukan hanya demi kepentingan masyarakat Aceh, tapi warga negara yang perlu dilindungi hak-haknya termasuk hak kenyamanan dan keamanan yang diatur di dalam konstitusi.

Atau karena kegawatan kasus ini telah cukup tinggi, perlu ada persiapan dan kontigensi yang dilakukan oleh pasukan khusus (Densus 88 – intel misalnya), karena level kriminalitas yang dilakukan ini telah bersifat acak dengan korban warga negara yang sama sekali tidak berurusan dengan motif-motif jahat pelaku. Kejadian ini telah meneror publik dan melahirkan budaya ketakutan yang tidak perlu, dan kini berlapis, setelah juga mengalami ketegangan karena menjelang pemilu presiden. Jangan biarkan teror kembali memenuhi jalan-jalan negara dan negara harus berusaha sekuat tenaga menjamin hak konstitusional warganya.

-Khairu Syukrillah : Alumnus Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh dan Keluarga Besar ABLC (Aceh Bus Lovers Community/Komunitas Pencinta Bus Aceh)

back to top