Menu
Korban Montara: Cukup Sudah 9 Tahun Menderita

Korban Montara: Cukup Sudah 9 Tahun…

Kupang-KoPi| Rakyat kor...

Tulisan “Diplomasi Panda” Hantarkan Mahasiswa HI UMY ke Tiongkok

Tulisan “Diplomasi Panda” Hantarkan…

Bantul-KoPi| Nur Indah ...

Cegah Depresi Dengan Gaya Hidup Sehat

Cegah Depresi Dengan Gaya Hidup Seh…

Jogja-KoPi| Depresu bis...

Mahasiwsa UGM Beri Pelatihan Bahasa Untuk Anak Desa Gamplong

Mahasiwsa UGM Beri Pelatihan Bahasa…

Jogja-KoPi| Unit Kegiat...

Gubernur Jatim Harapkan Lebih Banyak Investasi India di Jatim

Gubernur Jatim Harapkan Lebih Banya…

New Delhi-KoPi| Gubernu...

Bakti Sosial KBBM Bersih Sungai Kota Magelang

Bakti Sosial KBBM Bersih Sungai Kot…

Magelang-KoPi| Menyambu...

Sila Kelima Pancasila Masih Menjadi Dilema

Sila Kelima Pancasila Masih Menjadi…

Bantul-KoPi| Kemerdekaa...

GUBERNUR,DPRD DAN RAKYAT NTT MINTA KOMPENSASI BUKAN CSR

GUBERNUR,DPRD DAN RAKYAT NTT MINTA …

Kupang-KoPi| Gubernur N...

Mahasiswa Teknik Industri UAJY Gelar Workshop dan Pelatihan Make Up

Mahasiswa Teknik Industri UAJY Gela…

Jogja-KoPi| Mempunyai w...

Mantan CEO Schlumberger Beri Wawasan Bisnis Pada Calon Startup UGM

Mantan CEO Schlumberger Beri Wawasa…

Jogja-KoPi| Mantan CEO ...

Prev Next

Ternyata cowok ganteng kualitas spermanya jelek

Ternyata cowok ganteng kualitas spermanya jelek

KoPi| Para wanita yang ingin punya anak dari pria macho tampaknya harus memikirkan ulang pilihan mereka. Pasalnya, baru-baru ini peneliti menemukan bukti adanya hubungan laki-laki dengan figur tubuh maskulin dengan kualitas sperma yang rendah.

Penelitian ini didasarkan pada studi sebelumnya yang menyebutkan tingginya kadar hormon testosteron pada pria justru bisa menghambat produksi sperma.

“Ini merupakan demonstrasi pertama terhadap fenomena tersebut,” ungkap Dr. Jukka Kekalainen, dari Centre for Evolutionary Biologi University of Australia, seperti dilaporkan huffingtonpost.com.

Dalam studi yang dipublikasikan di Journal of Evolutionary Biology edisi September 2014, tim peneliti melakukan analisa terhadap sperma 50 orang mahasiswa kulit putih dari University of Valencia. Kemudian, foto mereka ditunjukkan pada pria dan wanita heteroseksual berusia 20 tahun dari Spanyol, Australia, dan Kolumbia, baik kulit hitam maupun kulit putih. Mereka diminta untuk menliai penampilan kelimapuluh mahasiswa tersebut dan potensi dalam menjalin hubungan dengan subyek penelitian.

Selain itu, para peneliti juga melakukan analisa antropometrik pada karakteristik wajah kelimapuluh subyek penelitian. Peneliti juga menganalisa pergerakan, morfologi, dan konsentrasi sperma dari kelimapuluh subyek.

 

Hasilnya, peneliti menemukan hubungan antara ketampanan dengan kualitas sperma. Meski demikian, Kekalainen mengatakan masih perlu studi lebih lanjut untuk membuktikan penyebab dan mekanisme di balik penemuan ini.

 

back to top