Menu
Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Prev Next

Terlalu banyak dana asing, pasar modal Indonesia rentan kolaps

Terlalu banyak dana asing, pasar modal Indonesia rentan kolaps
Surabaya – KoPi | Kredit macet subprime mortgage di Amerika dan bangkrutnya Lehman Brothers pada 2008 membuat dunia kaget, karena AS dianggap memiliki perekonomian yang solid. Bangkrutnya Lehman Brothers menjadi pemicu krisis finansial di Amerika, yang efeknya masih terasa hingga sekarang. Krisis finansial di AS tersebut menimbulkan pertanyaan, mungkinkah krisis serupa bisa terjadi di Indonesia, dan apakah Indonesia punya mitigasi resiko finansial untuk menghadapinya?
 

Direktur Indonesia Securities Investor Protection Fund (Indonesia SIPF) Hari Purnomo yang mengatakan krisis finansial 2008 merupakan gambaran jelas ketamakan dan keserakahan perusahaan keuangan Amerika. Hari menjelaskan krisis tersebut disebabkan oleh kredit macet subprime mortgage, program keuangan derivatif yang memungkinkan banyak warga Amerika memiliki rumah dengan syarat kredit yang sangat ringan.

Akibatnya banyak kredit perumahan yang macet karena banyak pengambil subprime mortgage sebenarnya tidak punya kemampuan membayar. Rumah-rumah menjadi aset sampah bagi bank besar seperti Lehman Brothers. Efeknya merambat ke perusahaan asuransi raksasa AIG, karena AIG menalangi kredit pembeli subprime mortgage.

Hari mengatakan bangkrutnya Lehman Brothers dan AIG dapat merembet ke Indonesia. Pada waktu itu Bursa Efek Indonesia sampai terpaksa melakukan suspend (penundaan) perdagangan, sesuatu yang tidak pernah dilakukan sepanjang sejarah. “Karena jika tidak di-suspend, maka kerugiannya bisa masif. Dalam sehari seluruh saham bisa anjlok nilainya sampai lebih dari 50%,” ungkap Hari.

Langkah Bursa Efek Indonesia tersebut ternyata juga diikuti oleh negara-negara lain esok harinya. Kondisi tersebut sangat ekstrem, karena di mana pun langkah semacam itu belum pernah dilakukan.

Karena itu, setelah krisis finansial AS tersebu, pemerintah Indonesia membuat langkah baru dengan membuat tim mitigasi resiko finansial, yaitu Indonesia SIPF. Jika LPS bertujuan untuk memberi perlindungan pada bank, maka Indonesia SIPF bertujuan melindungi pemodal di pasar modal.

Hari mengatakan, mitigasi resiko krisis finansial perlu karena Indonesia juga rentan pada krisis ekonomi. Saat ini pasar modal Indonesia masih dangkal, sehingga efek krisis finansial dapat menyebar ke sektor lain.

 

“Apalagi saat ini dana asing di pasar modal Indonesia sangat besar, mencapai 60%. Jika ada krisis, para pemodal tersebut akan langsung hengkang dari Indonesia, sehingga akan menimbulkan gejolak yang besar,” jelasnya.

back to top