Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Teori konspirasi ini akan membuatmu berpikir ulang tentang film Pixar (I)

Teori konspirasi ini akan membuatmu berpikir ulang tentang film Pixar (I)
KoPi | Sejak pertama kali meluncurkan film animasi Toy Story, Pixar telah mengubah industri film animasi Holywood. Toy Story menjadi film yang melambungkan nama Pixar sebagai perusahaan animasi terkemuka dan membuatnya diakuisisi oleh Disney. Film animasi buatan Pixar selalu indah, menyentuh hati, dan penuh imajinasi. Namun, sadarkah Anda bahwa film-film animasi Pixar yang terlihat berbeda tema dan berbeda satu sama lain, ternyata saling berhubungan!
 

Setidaknya itulah yang diklaim oleh Jon Negroni, kritikus, penulis satir, dan reviewer film asal San Fransico. Negroni mencetuskan sebuah teori konspirasi bahwa beberapa film Pixar berada satu semesta (universe) yang sama. Ia bahkan menerbitkan sebuah buku yang berjudul “The Pixar Theory”, sebuah narasi yang menjalin semua film-film Pixar dalam satu lini masa dengan satu tema utama.

Negroni menyebutkan bahwa semesta Pixar dimulai dari film Brave yang terbit pada 2012. Film yang bercerita mengenai Jaman Kegelapan di Kerajaan Skotlandia tersebut merupakan film yang bercerita tentang periode paling awal semesta Pixar. Film Brave juga menjelaskan mengapa binatang-binatang dalam film Pixar bisa berperilaku seperti manusia.

Menurut Negroni, dalam film Brave, Putri Merida menemukan ada sihir yang bisa mengubah manusia menjadi binatang dan membuat benda mati (seperti sapu) bertingkah seperti manusia. Sihir tersebut merupakan milik tukang sihir tua yang bisa menghilang secara misterius setiap kali membuka dan menutup pintu.

Sihir tersebut, tulis Negroni, tetap bertahan di beberapa binatang selama berabad-abad. Mereka berkembang biak, dan meneruskan kemampuan itu pada keturunan mereka. Karena itulah tikus-tikus dalam film Ratatouille dan Finding Nemo (dan sekuelnya, Finding Dory) bisa bertingkah seperti manusia.

Ketika Chef Skinner, tokoh antagonis dalam film Ratatouille mengetahui keanehan tersebut, ia menceritakannya pada Charles Muntz, tokoh antagonis di film Up. Hal itu membuat Muntz memiliki ide untuk mengembangkan alat yang bisa memaksimalkan intelejensia dan kemampuan bicara binatang, yaitu kalung penerjemah anjing.

Setelah kematian Muntz, Dug dan anjing-anjing milik Muntz lain bebas dari kendali Muntz. Negroni menyebutkan, bebasnya anjing-anjing pintar yang bisa bicara itu memicu ketegangan antara manusia dan hewan, sehingga manusia memulai revolusi industri ke dua.

Salah satu perusahaan besar yang gencar melakukan revolusi teknologi besar-besaran adalah Buy-n-Large (BNL). Negroni secara seksama menemukan bahwa BNL sudah ada sejak masa Toy Story 3 dan Finding Nemo. Hal itu terlihat dari baterai yang digunakan untuk menghidupkan mainan di film Toy Story 3 dan sebuah artikel koran yang menceritakan tentang keindahan dunia bawah laut.

Ketika seluruh populasi lautan bekerja sama membebaskan seekor ikan kecil dari tangan manusia di Finding Nemo, manusia merasa hewan-hewan cerdas sudah mulai melampaui batas. Manusia pun mulai melawan. Perusahaan BNL yang berhasil mendominasi pemerintahan mulai mengembangkan teknologi canggih dan merusak alam. Itulah alasan mengapa manusia di film Wall-E dipaksa meninggalkan Bumi dan hidup di pesawat luar angkasa.

 

(Bersambung)

back to top