Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Teori konspirasi ini akan membuatmu berpikir ulang tentang film Pixar (I)

Teori konspirasi ini akan membuatmu berpikir ulang tentang film Pixar (I)
KoPi | Sejak pertama kali meluncurkan film animasi Toy Story, Pixar telah mengubah industri film animasi Holywood. Toy Story menjadi film yang melambungkan nama Pixar sebagai perusahaan animasi terkemuka dan membuatnya diakuisisi oleh Disney. Film animasi buatan Pixar selalu indah, menyentuh hati, dan penuh imajinasi. Namun, sadarkah Anda bahwa film-film animasi Pixar yang terlihat berbeda tema dan berbeda satu sama lain, ternyata saling berhubungan!
 

Setidaknya itulah yang diklaim oleh Jon Negroni, kritikus, penulis satir, dan reviewer film asal San Fransico. Negroni mencetuskan sebuah teori konspirasi bahwa beberapa film Pixar berada satu semesta (universe) yang sama. Ia bahkan menerbitkan sebuah buku yang berjudul “The Pixar Theory”, sebuah narasi yang menjalin semua film-film Pixar dalam satu lini masa dengan satu tema utama.

Negroni menyebutkan bahwa semesta Pixar dimulai dari film Brave yang terbit pada 2012. Film yang bercerita mengenai Jaman Kegelapan di Kerajaan Skotlandia tersebut merupakan film yang bercerita tentang periode paling awal semesta Pixar. Film Brave juga menjelaskan mengapa binatang-binatang dalam film Pixar bisa berperilaku seperti manusia.

Menurut Negroni, dalam film Brave, Putri Merida menemukan ada sihir yang bisa mengubah manusia menjadi binatang dan membuat benda mati (seperti sapu) bertingkah seperti manusia. Sihir tersebut merupakan milik tukang sihir tua yang bisa menghilang secara misterius setiap kali membuka dan menutup pintu.

Sihir tersebut, tulis Negroni, tetap bertahan di beberapa binatang selama berabad-abad. Mereka berkembang biak, dan meneruskan kemampuan itu pada keturunan mereka. Karena itulah tikus-tikus dalam film Ratatouille dan Finding Nemo (dan sekuelnya, Finding Dory) bisa bertingkah seperti manusia.

Ketika Chef Skinner, tokoh antagonis dalam film Ratatouille mengetahui keanehan tersebut, ia menceritakannya pada Charles Muntz, tokoh antagonis di film Up. Hal itu membuat Muntz memiliki ide untuk mengembangkan alat yang bisa memaksimalkan intelejensia dan kemampuan bicara binatang, yaitu kalung penerjemah anjing.

Setelah kematian Muntz, Dug dan anjing-anjing milik Muntz lain bebas dari kendali Muntz. Negroni menyebutkan, bebasnya anjing-anjing pintar yang bisa bicara itu memicu ketegangan antara manusia dan hewan, sehingga manusia memulai revolusi industri ke dua.

Salah satu perusahaan besar yang gencar melakukan revolusi teknologi besar-besaran adalah Buy-n-Large (BNL). Negroni secara seksama menemukan bahwa BNL sudah ada sejak masa Toy Story 3 dan Finding Nemo. Hal itu terlihat dari baterai yang digunakan untuk menghidupkan mainan di film Toy Story 3 dan sebuah artikel koran yang menceritakan tentang keindahan dunia bawah laut.

Ketika seluruh populasi lautan bekerja sama membebaskan seekor ikan kecil dari tangan manusia di Finding Nemo, manusia merasa hewan-hewan cerdas sudah mulai melampaui batas. Manusia pun mulai melawan. Perusahaan BNL yang berhasil mendominasi pemerintahan mulai mengembangkan teknologi canggih dan merusak alam. Itulah alasan mengapa manusia di film Wall-E dipaksa meninggalkan Bumi dan hidup di pesawat luar angkasa.

 

(Bersambung)

back to top