Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Tentara Perancis, lecehkan anak-anak Tunawisma

Tentara Perancis, lecehkan anak-anak Tunawisma

Prancis-KoPi| Presiden Perancis, François Hollande, bersumpah tidak akan berbelas kasihan kepada tentara penjaga perdamaian Perancis yang melakukan pelecehan. Beberapa tentara penjaga perdamaian asal Perancis dituduh melakukan pelecehan seksual kepada anak-anak tunawisma di Republik Afrika Tengah yang dilanda kelaparan.

"Jika beberapa tentara berperilaku buruk, saya tidak akan menunjukkan belas kasihan," katanya kepada wartawan dalam kunjungan ke Brest, barat-laut Perancis.
Sebuah sumber pengadilan Perancis mengatakan telah mengidentikasi beberapa tentara Prancis yang melakukan pelecehan.

Sebuah bocoran laporan PBB mengungkapkan dugaan pelecehan seksual pada 10 anak laki-laki berusia 8 sampai 15 tahun di sebuah kamp pengungsi (IDP) di ibukota Republik Afrika Tengah, Bangui. Anak-anak secara detil memberikan tuduhan terhadap sejumlah tentara. Harian Le Monde melaporkan bahwa pada Kamis (30/4) lebih dari selusin tentara Prancis berada di bawah penyelidikan.

Sementara itu Anders Kompass, pejabat PBB yang membocorkan laporan tersebut pada jaksa Perancis, juga diselidiki karena melanggar protokol penanganan informasi rahasia. Dia telah ditangguhkan dari jabatannya sebagai direktur operasi lapangan oleh PBB dan menghadapi pemecatan.

Meski sudah tahu kasus ini sejak Juli tahun lalu dan segera melaporkannya pada jaksa, pemerintah Sosialis Perancis tetap mendapat kritikan tajam karena tutup mulut atas kasus ini. Pihak oposisi UMP MP mengatakan kasus ini adalah aib yang telah muncul di surat kabar asing.

Pierre Bayle, juru bicara Kementerian Pertahanan mengatakan kepada wartawan bahwa (pemerintah) tidak berniat menyembunyikan apa pun. Dia mengatakan, pemerintah ingin agar penyelidikan yudisial tetap berjalan dan sistem peradilan untuk melakukan tugasnya.

Bocoran laporan tersebut berisi wawancara dengan enam anak yang mengungkapkan pelecehan seksual oleh tentara Prancis. Beberapa anak juga menyebutkan bahwa beberapa teman mereka juga dieksploitasi secara seksual.

Dokumen yang digambarkan sebagai laporan awal tersebut adalah potret waktu kejadian pelecehan seksual terhadap anak-anak tersebut, yang diduga dilakukan tentara penjaga perdamaian.

Wawancara itu dilakukan oleh pejabat Kantor Komisaris Tinggi untuk Hak Asasi Manusia dan anggota Unicef pada bulan Mei dan Juni tahun lalu. Anak-anak tersebut mengungkapkan pelecehan itu terjadi pada Desember 2013. Dokumen yang berjudul "Pelecehan Seksual pada Anak-anak oleh Pasukan Internasional" tersebut dicap "rahasia" pada setiap halaman.

Anak-anak tersebut mengungkapkan pelecehan itu sebagai imbal jasa dari bantuan makanan yang mereka peroleh. Salah satu wawancara menjelaskan bagaimana dua orang anak berusia sembilan tahun dieksploitasi secara seksual bersama-sama oleh dua tentara Prancis.

Anak itu menjelaskan bagaimana ia dan temannya disuruh melakukan tindakan seksual dengan kedua tentara tersebut hingga mereka diberi tiga bungkus ransum militer dan uang.

Sementara itu, Laurence Rossignol, Menteri Keluarga Perancis, mengatakan kepada TV Prancis: "Kami tahu betul bahwa selama perang atau ketika negara dalam kekacauan, wanita dan anak-anak selalu menjadi korban para predator (pelaku pelecehan seksual). Jika orang-orang yang berada di sana untuk melindungi mereka ternyata adalah predator itu sendiri, artinya mereka telah melakukan kejahatan ganda." |theguardian |Luthfia Lathifah|



back to top