Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Tentara Perancis, lecehkan anak-anak Tunawisma

Tentara Perancis, lecehkan anak-anak Tunawisma

Prancis-KoPi| Presiden Perancis, François Hollande, bersumpah tidak akan berbelas kasihan kepada tentara penjaga perdamaian Perancis yang melakukan pelecehan. Beberapa tentara penjaga perdamaian asal Perancis dituduh melakukan pelecehan seksual kepada anak-anak tunawisma di Republik Afrika Tengah yang dilanda kelaparan.

"Jika beberapa tentara berperilaku buruk, saya tidak akan menunjukkan belas kasihan," katanya kepada wartawan dalam kunjungan ke Brest, barat-laut Perancis.
Sebuah sumber pengadilan Perancis mengatakan telah mengidentikasi beberapa tentara Prancis yang melakukan pelecehan.

Sebuah bocoran laporan PBB mengungkapkan dugaan pelecehan seksual pada 10 anak laki-laki berusia 8 sampai 15 tahun di sebuah kamp pengungsi (IDP) di ibukota Republik Afrika Tengah, Bangui. Anak-anak secara detil memberikan tuduhan terhadap sejumlah tentara. Harian Le Monde melaporkan bahwa pada Kamis (30/4) lebih dari selusin tentara Prancis berada di bawah penyelidikan.

Sementara itu Anders Kompass, pejabat PBB yang membocorkan laporan tersebut pada jaksa Perancis, juga diselidiki karena melanggar protokol penanganan informasi rahasia. Dia telah ditangguhkan dari jabatannya sebagai direktur operasi lapangan oleh PBB dan menghadapi pemecatan.

Meski sudah tahu kasus ini sejak Juli tahun lalu dan segera melaporkannya pada jaksa, pemerintah Sosialis Perancis tetap mendapat kritikan tajam karena tutup mulut atas kasus ini. Pihak oposisi UMP MP mengatakan kasus ini adalah aib yang telah muncul di surat kabar asing.

Pierre Bayle, juru bicara Kementerian Pertahanan mengatakan kepada wartawan bahwa (pemerintah) tidak berniat menyembunyikan apa pun. Dia mengatakan, pemerintah ingin agar penyelidikan yudisial tetap berjalan dan sistem peradilan untuk melakukan tugasnya.

Bocoran laporan tersebut berisi wawancara dengan enam anak yang mengungkapkan pelecehan seksual oleh tentara Prancis. Beberapa anak juga menyebutkan bahwa beberapa teman mereka juga dieksploitasi secara seksual.

Dokumen yang digambarkan sebagai laporan awal tersebut adalah potret waktu kejadian pelecehan seksual terhadap anak-anak tersebut, yang diduga dilakukan tentara penjaga perdamaian.

Wawancara itu dilakukan oleh pejabat Kantor Komisaris Tinggi untuk Hak Asasi Manusia dan anggota Unicef pada bulan Mei dan Juni tahun lalu. Anak-anak tersebut mengungkapkan pelecehan itu terjadi pada Desember 2013. Dokumen yang berjudul "Pelecehan Seksual pada Anak-anak oleh Pasukan Internasional" tersebut dicap "rahasia" pada setiap halaman.

Anak-anak tersebut mengungkapkan pelecehan itu sebagai imbal jasa dari bantuan makanan yang mereka peroleh. Salah satu wawancara menjelaskan bagaimana dua orang anak berusia sembilan tahun dieksploitasi secara seksual bersama-sama oleh dua tentara Prancis.

Anak itu menjelaskan bagaimana ia dan temannya disuruh melakukan tindakan seksual dengan kedua tentara tersebut hingga mereka diberi tiga bungkus ransum militer dan uang.

Sementara itu, Laurence Rossignol, Menteri Keluarga Perancis, mengatakan kepada TV Prancis: "Kami tahu betul bahwa selama perang atau ketika negara dalam kekacauan, wanita dan anak-anak selalu menjadi korban para predator (pelaku pelecehan seksual). Jika orang-orang yang berada di sana untuk melindungi mereka ternyata adalah predator itu sendiri, artinya mereka telah melakukan kejahatan ganda." |theguardian |Luthfia Lathifah|



back to top