Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Temu Tokoh Nasional: Gerakan Perempuan Muda Berkemajuan untuk Kemandirian Bangsa

Temu Tokoh Nasional: Gerakan Perempuan Muda Berkemajuan untuk Kemandirian Bangsa

Jogja-KoPi| Temu Tokoh Nasional menjadi salah satu rangkaian kegiatan Muktamar yang berlangsung pada (25/8) di Islamic Centre, Universitas Ahmad Dahlan. Temu Tokoh kali ini menghadirkan dua tokoh nasional, yaitu Prof. Dr. Amien Rais, MA dan Rahmawati Husein, Ph,D.

Menurut Normasari, M.Hum, Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah, Temu Tokoh Nasional sengaja diadakan untuk mencari inspirasi sebagai bekal mensukseskan agenda Muktamar Nasyiatul Aisyiyah yang akan menentukan agenda-agenda penting gerakan Nasyiatul Aisyiyah 1 periode ke depan.

Dalam forum Temu Tokoh tersebut, Amien Rais menegaskan bahwa Islam telah jauh lebih dahulu bicara tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Banyak perempuan telah menjadi pemimpin, bahkan dalam skala pemerintahan, Amien mencontohkan, Pakistan, Turki, juga Indonesia telah memilih perempuan sebagai Presiden.

Di Muhammadiyah sendiri, tandas Amien Rais, tidak ada diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. Menyinggung tentang Nasyiatul Aisyiyah sebagai gerakan perempuan muda berkemajuan, tokoh reformasi yang juga Ketua MPR Periode 1998-2004 ini kemudian menggarisbawahi pentingnya penguasaan ilmu dan teknologi, “Kompetisi mendatang adalah kompetisi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), bangsa yang maju adalah bangsa yang menguasai iptek, dan bangsa yang tidak menguasai iptek akan menjadi bangsa terbelakang.”

Selain Amien Rais, hadir pula Rahmawati Husein, Ph.D, yang saat ini menjadi unsur pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah Periode 2000-2004 ini, juga merupakan peraih penghargaan Tokoh Inspiratif ‘Tangguh Award’ Tahun 2015 dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, yaitu penghargaan yang diberikan bagi orang maupun lembaga yang peduli pada penanganan bencana.

Di awal pembicaraan, ia menegaskan, “Saya besar dan berkemajuan karena Nasyiatul Aisyiyah.” Oleh karenanya perempuan yang pernah menjadi komisioner Komisi Nasional (Komnas) Perempuan hingga tahun 2006 ini, mendorong kader-kader Nasyiah untuk menempa diri di Nasyiatul Aisyiyah.

Menurut Rachmawati Husein, gerakan perempuan muda berkemajuan yang melekat sebagai identitas Nasyiatul Aisyiyah ini mensyaratkan beberapa hal, “pentingnya kader Nasyiatul Aisyiyah peka terhadap isu-isu yang berkembang dan berinovasi dengan ilmu dan teknologi.” Rachmawati menyebut beberapa, isu lingkungan termasuk tambang yang berdampak pada perempuan, juga Sustainibility Development Goals sebagai komitmen global terhadap kelanjutan dari Millennium Development Goals (MDGs).

Muktamar ini, ungkap Rachmawati, dapat menjadi momen strategis bagi Nasyiatul Aisyiyah untuk menguatkan diri sebagai organisasi berkemajuan. Ia menyebut beberapa modal berkemajuan, tafsir baru gerakan pengembangan nilai Islam untuk peradaban, gerakan yang dinamis dan responsif juga memberdayakan, cara berfikir yang bersifat outward looking, percaya diri dan mau maju.

Selain itu, Rachmawati menegaskan pentingnya berjejaring sebagaimana tersebut juga dalam poin tujuan SDGs,“Nasyiatul Aisyiyah harus berjejaring dengan organisasi lain dalam skala local, nasional hingga global.” Dengan begitu, ia berharap, Nasyiatul Aisiyiyah dapat membuktikan bukan sebagai organisasi yang diperuntukkan bagi dirinya saja, tapi juga bagi segmen yang lebih luas.

back to top