Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Tega, Ayah bunuh anak kandungnya hanya karena hal remeh

Tega, Ayah bunuh anak kandungnya hanya karena hal remeh
Sulawesi – KoPi | Ayah adalah cinta pertama setiap anak perempuannya. Perjuangannya menjadi seorang ayah membentuk cinta yang erat dalam hati setiap anak. Namun, apa jadinya jika sosok ayah justru berbalik menjadi penyerang? Sungguh tega.

Di Sulawesi Selatan, sesosok ayat ditemukan warga di pinggir Jalan Adi Pallajareng, Desa Assorajang, Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan pada hari Selasa (18/8). Mayat dengan identitas wanita bernama Maysi Angelia (19) telah disemayamkan di Rumah Sakit Umum Daerah (RS Lamaddukelleng Sengkang).

Sebelumnya, Polisi menduga sosok mayat tersebut merupakan korban tewas karena kecelakaan lalu lintas. Namun setelah diperiksa lebih lanjut, korban meninggal secara tidak wajar, seperti yang diungkapkan  Kapolres Wajo AKBP M Guntur.

Selidik punya selidik, Maysi tewas disebabkan oleh cekikan seseorang. Dan ternyata ia dibunuh oleh ayah kandungnya sendiri, HA, Lantaran kesal karena persoalan sepele remote TV.

“Saya sudah mau tidur, jadi saya tanya, kecilkan suara TV. Dia malah lempar saya remote tv, makanya saya emosi dan langsung usir, lalu kejar dia,” Tutur HA.

HA mengejar Maysi dan memboncengnya ke rumah neneknya di Dusun Empagae. Karena Maysi memberontak, HA yang saat itu sedang kesal menurunkan korban di pinggir Makam Taman Pahlawan. Ia kerap menempeleng korban sebanyak dua kali di pipi sebelah kanan.

Tidak puas dengan pelampiasan amarahnya, ayah tersebut mencekiknya dari belakang. “Saya cekik 30 menit. Masih berontak, saya injak lehernya hingga mukanya terbentur ke tanah,” ujar HA saat diintrogasi Polisi.

Melihat bahwa tubuh anaknya sudah tidak bernyawa, pelaku menyeret korban ke piinggir jalan dan menutupi jasadnya dengan semak-semak. Lalu ia kabur ke rumah rekannya di Kabupaten Bonde.

Tak lama HA ditangkap oleh pihak kepolisian. Menurut Guntur, motif pembunuhan tersebut murni karena kesal. Tidak ada motif pemerkosaan dan lain sebagainya. |Labibah|

back to top