Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

TEATER, PETANI, dan ROH HALUS

TEATER, PETANI, dan ROH HALUS

Upacara-upacara ritual yang berhubungan dengan para dewa atau kekuatan ghaib yang dianggap supernatural merupakan salah satu bentuk sajian-sajian yang nantinya bisa disebut dengan teater pada awalnya. Kata-kata menjadi mantra yang mempunyai kekuatan alam roh yang disebut supranatural dalam sajian yang tersambung berupa pertemuan manusia, alam dan roh halus.

 Dalam Babad Tanah Jawa edisi Balai Pustaka atau dikenal Babad Mayor Surakarta yang disusun Yasadipura I pada dekade pertama abad ke-19 terekam sebuah kisah percintaan antara Panembahan Senapati dan Nyai Rara Kidul. Kisah heroik, magis dan percintaan tersaji ketika Panembahan Senapati memasuki Samudera Laut Selatan.

Dengan kekuatan bathinnya yang terlatih memusatkan pikiran, mengheningkan cipta, bersemedi untuk memohon petunjuk Yang Mahatahu. Badaipun datang disertai angin ribut dan petir menyambar-nyambar hingga lautpun bergolak.

Kejadian pertemuan dua makluk beda alam ini sudahlah menjadi pertunjukkan teater yang benar-benar menakjubkan. Memori sel dalam tubuh ikut bergolak pancaindera pun menjadi peka akan suasana alam, ada merinding, seram dan mencengkam.

Dalam bukunya Kitab Teater Nano Riantiarno menyebut, “lewat seni itulah, teater berpeluang membantu manusia memahami dunianya, antara lain mencari arti atau makna kehidupan”.

Kolaborasi Raja dan Roh Halus

Sajian teater alam oleh Panembahan Senapati ( Raja Mataram ) digelar tidak dengan sembarangan, namun dengan laku puasa dan persiapan yang tidak asal-asalan. Dilengkapi dengan sesaji serta prosesi labuhan sebagai permulaan dalam menyapa roh halus.

Dalam ritualnya Panembahan Senapati berhasil membangunkan Nyai Rara Kidul beranjak dari peraduan dan menjumpai Panembahan Senapati dipinggir laut. “Wahai Sang Raja, lenyapkanlah huru-hara yang membuat Laut Selatan bergolak.

Segala isi laut ini Tuanlah pemiliknya. Mengapa Tuan merusak ? Jika berkenan, Paduka dapat memerintahkan sekehendak Paduka. Bila maju perang, perintahkanlah makhluk halus dan jin untuk ikut mengalahkan musuh tuan, yaitu para raja di Tanah Jawa”. Kata-kata dalam dialog yang disampaikan Nyai Rara Kidul mengena di hati Panembahan Senapati.

Maka, segalanya pulih seperti sediakala. Nyai Rara Kidul kembali ke keraton dan Panembahan Senapati mengikuti mereka kemudian memadu kasih dan bercinta. Tiga hari tiga malam kemudian baru Panembahan Senapati pulang ke Mataram.

Percintaan Panembahan Senapati dengan Nyai Rara Kidul terekam dalam Babad Tanah Jawa. Inilah sajian teater mistis yang melibatkan suasana alam dan roh halus ( lelembut ). Suasana malam dengan berefek kilatan petir menyambar diserta badai dan angin tentu menjadi sebuah sajian yang sensasional dengan musik deburan ombak.

Sebuah ritual kolaborasi raja dan roh halus yang meneguhkan sebuah simbol yaitu menunjukkan kedudukan Mataram sebagai penerus sah dari semua kerajaan pendahulunya.

Ritual turun-temurun ini selalu diabadikan oleh Sultan Agung dengan membuat tarian bedhaya menjadi gelaran tarian yang sakral dan wajib ketika penobatan raja baru. Dalam kalangan masyarakat keraton terdapat kepercayaan bahwa saat bedhaya dipergelarkan, Ratu Kidul hadir bahkan ikut menari.

Itulah kolaborasi unik antara raja dan roh halus yang memunculkan karya bedhaya, kalau daerah keraton Yogyakarta bernama bedhaya semang dan keraton Surakarta bedhaya ketawang.

Hubungan raja dalam syukur kepada alam dengan melibatkan keberadaan roh halus sebagai kepercayaan akan adanya suatu kekuatan sakti dan ghaib dalam alam. Di Majapahit pada abad ke -14 dimana Hayam Wuruk secara teratur membuat perjalanan suci ke pantai selatan.

Menurut Robert Wessing, asal mula penghormatan untuk Ratu Kidul tidak begitu jelas. Pemujaan roh laut, baik pribumi atau Islam juga berkembang eksis di seluruh Indonesia,. Wessing juga menyebut mitos serupa di India, Tiongkok, dan daratan Asia Tenggara.

Ada juga yang berpandangan Ratu Kidul sebagai penguasa alam roh merupakan representasi dari Durga, pasangan Siva. Jadi sosok Ratu Kidul dipengaruhi unsur-unsur dari berbagai sumber. Bentuk ritual ini menurut Doktor Sunu Wasono dosen FIB UI, “merupakan sebuah kepercayaan yang kuat terhadap kehidupan yang tidak kasat mata. Bahwa ada dunia lain yang mengontrol dunia kita”.

Kolaborasi Petani dan Roh Halus

Banyak orang Jawa percaya makhluk halus karena punya rumusan bahwa semua makluk ciptaan Tuhan, baik yang terlihat maupun tidak, memiliki hak hidup. Dalam padangan Prapto Yuwono, pengajar di program studi Sastra Jawa di Universitas Indonesia, “karena mereka sama-sama hidup di alam semesta, maka mereka boleh saling membantu, saling menyapa.

Bentuk sapaan ini misalnya memberi sesajen. Sudah pasti, jika seseorang memiliki niat apapun, baik ekonomi atau kekuasaan, dan sedemikian besar niatnya, maka dia akan berpikir untuk melibatkan makhluk lain tersebut”.

Kepercayaan kepada roh halus pun berkembang dikalangan petani, masyarakat petani Jawa yang tidak kaya gampang terpengaruh dengan hal-hal aneh dan alam gaib. Tetapi ini menarik hubungan petani dan roh halus dikaitkan dengan panen dan kesuburan.

Tak heran jika bagi masyarkat Jawa pedalaman yang agraris, menganggap Nyi Blorong punya makna penting perwujudan dalam bentuk ular dianggap sebagai penjaga lahan pertanian dari serangan hama, terutama tikus. Maka, untuknya dilakukan sedekah bumi dengan harapan tidak terjadi kegagalan panen yang oleh masyarakat petani dianggap karena ulah makhluk halus.

Pertemuan roh halus dengan petani masih saja eksis, seperti halnya kejadian di tahun 1960 didaerah Magelang warga berkumpul ditepi jalan utama yang menghubungkan Magelang dan Yogyakarta. Warga membunyikan kentongan dan apapun yang menimbulkan bunyi berisik, anak kecilpun ikut berbaur dalam kerumunan.

Ada hal yang aneh jalanan sepi, tak ada yang lewat selang beberapa waktu angin berhembus dari arah selatan. Bunyi-bunyian terus dibunyikan itulah salah satu cara orang menyambut lampor, mereka percaya dengan membuat bunyi-bunyian supaya pasukan Nyi Blorong yang berwujud lelembut itu tidak berhenti ditengah jalan.

Bila pasukan itu berhenti dan mampir dirumah warga, daerah tersebut akan diserang wabah penyakit. Pada tahun 2001 di daerah Semarang ada pula cara menghadapi lampor, penduduk menggantungkan plastik berisi air berwarna didepan pintu dengan harapan bisa menangkal pagebluk yang disebabkan kemarahan Nyi Blorong karena kehilangan slendangnya.

Kehidupan petani yang miskin dan melelahkan timbul pula ketidaksabaran yaitu dorongan ingin cepat kaya maka jalan pintas pun ditempuhnya. Petani melakukan ritual memanggil Nyi Blorong dengan menyiapkan satu kamar khusus, lengkap dengan pembaringan yang ditutup kelambu.

Pada hari Jumat Legi, si petani menyiapkan pelita diatas kasur, lengkap dengan bunga dan dupa. Nyi Blorong yang diyakini sebagai panglima dunia makhluk halus juga di yakini bisa memberi kekayaan (pesugihan).

Setiap malam Jumat Kliwon si petani mau melakukan ritual berhubungan badan dengan Nyi Blorong dan menyediakan tumbal. Ketika selesai bercinta sisik tubuhnya Nyi Blorong berguguran dan berubah menjadi kepingan emas dan butiran permata.

Masyarakat petani hidup dalam situasi cekap (cukup) sehingga banyak ketakutan-ketakutan panennya gagal yang menyebabkan kelaparan. “Karena manusia takut akan krisis-krisis dalam hidupnya, atau manusia yakin adanya gejala-gejala yang tidak dapat diterangkan dan dikuasai oleh akalnya, atau manusia dihinggapi emosi ketakutan dalam masyarakatnya, atau manusia mendapat suatu firman dari Tuhan, atau semua sebab diatas”, Begitulah pandangan antropolog Koentjaraningrat.

Mentradisikan Roh Halus

Keyakinan yang sudah mendarah daging dan turun temurun yaitu keyakinan adanya lelembut pada masyarakat jawa dan nusantara bisa pula dijadikan pijakan atau sumber inspirasi dalam sebuah penciptaan para penulis.

Bisa digali tentang keberadaan dan keterlibatan lelembut dalam kehidupan manusia. Beberapa tentang lelembut yang mengemuka pada khalayak masyarakat yaitu ceritera orang mencari kekayaan dengan bantuan lelembut, ceritera lelembut yang gemar menyesatkan manusia, ceritera lelembut yang menculik manusia, ceritera tentang arwah gentanyangan dan masih banyak lagi yang bisa dicari.

Sudah disinggung di atas bahwa sesajen yang bisa berupa hio atau bunga-bunga ( melati, mawar atau kembang setaman) merupakan media untuk menyapa dan menghadirkan roh halus atau lelembut. Banyak orang melakukan ritual demi ritual semacam itu untuk mendapatkan berkah dari mereka yang dapat melindungi dan untuk mengembangkan potensi bathin mereka.

Anehnya ada pandangan miring bila kaum rakyat jelata atau petani melakukan ritual-ritual semacam itu dinilai negatif namun sebalik dikalangan raja-raja menjadi hal wajar, bahkan dinilai positif dan malah menjadi tradisi.

Persoalan petani tentang gagal panen, naik turunnya hasil bumi, naik turunnya barang-barang dari pedagang, naiknya bunga dari pengijon juga pajak negara merupakan salah satu dorongan para petani untuk melakukan ritual sesaji disertai mantra. Ritual itu dilakukan ketika mau menanam atau ketika mau panen dan juga ketika akan melakukan hajat-hajat lainnya.

Komunikasi dengan roh halus dikalangan petani salah satu hal yang positif adalah “sedekah bumi”. Suatu bentuk doa dan syukur pada yang maha melindungi. Suatu kesadaran menjaga ekosistem kehidupan dan rantai makanan termasuk menghargai hak hidup roh halus.

Hantu petani menurut Clifford Geertz ada jenis hantu pencuri padi yang umum dikenal disebut gebleg. Ia berbentuk seekor ayam, yang suka menghentakkan kakinya kuat-kuat kala berjalan ( sehingga berbunyi bleg-bleg) ia menjejalkan padi dibawah sayapnya, kembali ke pemiliknya, mengibaskan sayapnya, dan padi pun berjatuhan dilumbung pemiliknya.

Tradisi menghadir keberadaan roh halus merupakan toleransi bahwa manusia menghargai hak hidup roh halus serta punya penangkalnya. Sama pula yang dilakukan dalam komunitas keraton melestarikan tarian bedhaya merupakan suatu bentuk komunikasi bahwa ada kekuatan roh lain yang mampu mengontrol dunia.

Dua hasil kebudayaan keraton dan petani yang berbeda jenis dan cara namun sama-sama menjaga tradisi roh halus. Kaum petani menghasilkan karya sedekah bumi sebagai bentuk pelestarian alam sedangkan kaum keraton menjaga tradisi roh halus sebagai bagian legitimasi kekuasaan politik atau raja melalui supernatural.

Kesenian, Roh Halus, dan Doa

Sajian atau gelaran tarian bedhaya atau sedekah bumi dilakukan sangat meditatif, kidmat, magis dan konsentrasi tinggi. Dilakukan dengan sungguh-sungguh, total, dipersiapkan matang bahkan dengan puasa dan lelaku serta syarat yang ketat sehingga tidak diadakan asal-asalan.

Rendra menyebutnya “harmoni hidup” yaitu harmoni kewajaran hidup dan harmoni menyatukan dan menyelaraskan kehendak dengan kehendak Allah. Ketika tradisi menghadirkan roh halus atau lelembut dalam perkembangannya diubah motivasinya yaitu doa dan kebesaran Tuhan,maka akan menjadi sebuah sajian-sajian kesenian yang punya wibawa sinergi menjadi menjadi aksi-reaksi-kontemplasi.

Sedekah bumi yang oleh petani dilakukan merupakan suatu komunikasi petani dalam meruang dan mewaktu dalam satu kesatuan harmoni. Harmoni harus meruang dan mewaktu, meruang adalah langit di luar langit di badan bersatu dalam jiwa. Langit di luar adalah ruang yang ada mulai kulit kita sampai ke batas yang terhingga.

Langit di badan adalah ruang yang ada diantara molekul-molekul dalam tubuh kita. Langit di luar dan langit di badan disatukan dalam NING ( hening/ adanya hening) atau di dalam (NING) dengan sendirinya langit di luart bersatu dengan langit di badan. Sedangkan mewaktu adalah kemarin dan esok adalah hari ini, di dalam NING kemarin dan esok adalah hari ini.

Teater banyak jenis dan model, perlunya mencoba untuk menembus wilayah-wilayah magis, mistis dengan mentradisikan roh halus ikut terlibat dalam sebuah proses dan pertunjukkan. Kalau leluhur sebelumnya bisa menghasilkan karya tarian bedhaya dan karya ritual sedekah bumi yang sampai sekarang sangat fenomenal tak lekang oleh jaman.

Lalu bagaimana dengan teater saat ini, apa tidak tertarik untuk mencobanya sehingga melegenda? Teater roh halus yaitu memberi ruang pada roh halus atau lelembut ikut berperan dan terlibat didalamnya. Yang menarik adalah prosesnya, bisa riset terlebih dahulu sehingga bisa membedakan jenis-jenis makhluk halus apa itu memedi, lelembut, tuyul, demit, danyang dan masih banyak jenisnya misalnya ada jangkrong, wedon, banaspati, jims, pisacis, uwil, setan gundul, sundel bolong, gendruwo dan lain-lain.

Ada pembuka dari 26 bait dari apa yang dinamakan suluk plencung yang ditulis pada era Sultan Agung. Suluk ini dilagukan dengan sinom, tujuan suluk ini agar setiap orang yang melakukan perjalanan dapat mengetahui siapa nama dhanyang, roh penunggu dan pelindung suatu tempat, didaerah yang dilewati.
Bait pembuka itu :


Mohon dimaafkan hamba
hendak menghitung makhluk halus di Nusa Jawa,
yang menjadi penjaga setiap kota,
para raja makhluk halus,
besar kegunaannya,
jika bisa mengingatnya satu persatu,
mampu untuk menolak ilmu hitam,
bisa dibuat membantu kesembuhan
yang sakit karena guna-guna,
pohon dan tanah yang angker
akan jadi tawar.

selesai


Omah27 Pancoran, Jaksel
14 April 2107
Anton Daryanto Bendet

back to top