Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Tari tradisional "Trengganon" paduan syair Al-Barzanji dengan silat

Tari tradisional "Trengganon" paduan syair Al-Barzanji dengan silat

Jogjakarta-KoPi| Seiring perkembangan zaman telah memupus kecintaan masyarakat terhadap budayanya. Hal itulah yang mendasari Dinas Kebudayaan memperbanyak event bertajuk ‘kembali’ pada budaya. Salah satunya acara festival seni di Pendopo Taman siswa (11/6) pukul 11.30 WIB. Acara ini bentuk revitalisasi kesenian tradisonal Jogjakarta khususnya seni tari. Fstival berlangsung selama dua hari sejak tanggal 11-12 Juni 2015.

Menurut ketua panitia, Noor Sulistyo mengatakan festival bertujuan untuk merevitalisasikan seni tari tradisional yang telah lama terlupakan oleh masyarakat.

Dia mengaharapkan festival seni ini mampu membangkitkan kembali gairah kesenian masyarakat terutama anak muda untuk mengenal seni tradisional.

“ Acara ini diikuti oleh 15 grup dari kota dan kabupaten. Salah satunya ada penampilan tari gambyong, jathilan, bedaya, dan banyak lainnya. Festival ini hanya menampilkan yang terbaik. Juga ada juri agar tidak keluar dari pakem-pakem yang ada”, papar Noor.

Salah satu penampil dari Sanggar Al-Fattah asal Parakan Wetan, Sendang Sari, Minggir, Sleman mengakui inisiatif disbud menggelar festival tari sangat positif. Upaya untuk melestarikan kesenaian agar tidak punah.

Sanggar Al-fattah menampilkan kesenian Trengganon, suatu tarian yang memadukan syair Al-Barzanji dengan gerakan silat. Menurut kepala grup Kodari memaparkan tarian ini awalnya bertujuan agar masyarakat tertarik dengan Islam.

“ Kesenian Trengganon sejak tahun 1930 bernafaskan agama Islam, kesenian untuk pembelajaran Islam. Dengan dua kelompok sebagian membaca Al-barzanji, satunya lagi memperagakan silat denan tarian”, tutur Kodari.

Kodari menambahkan masyarakat terutama pemda perlu melestarikan kesenian ini, pasalnya tari Trengganon tinggal satu-satunya yang ada di DIY. |Winda Efanur FS|

back to top