Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Tari tradisional "Trengganon" paduan syair Al-Barzanji dengan silat

Tari tradisional "Trengganon" paduan syair Al-Barzanji dengan silat

Jogjakarta-KoPi| Seiring perkembangan zaman telah memupus kecintaan masyarakat terhadap budayanya. Hal itulah yang mendasari Dinas Kebudayaan memperbanyak event bertajuk ‘kembali’ pada budaya. Salah satunya acara festival seni di Pendopo Taman siswa (11/6) pukul 11.30 WIB. Acara ini bentuk revitalisasi kesenian tradisonal Jogjakarta khususnya seni tari. Fstival berlangsung selama dua hari sejak tanggal 11-12 Juni 2015.

Menurut ketua panitia, Noor Sulistyo mengatakan festival bertujuan untuk merevitalisasikan seni tari tradisional yang telah lama terlupakan oleh masyarakat.

Dia mengaharapkan festival seni ini mampu membangkitkan kembali gairah kesenian masyarakat terutama anak muda untuk mengenal seni tradisional.

“ Acara ini diikuti oleh 15 grup dari kota dan kabupaten. Salah satunya ada penampilan tari gambyong, jathilan, bedaya, dan banyak lainnya. Festival ini hanya menampilkan yang terbaik. Juga ada juri agar tidak keluar dari pakem-pakem yang ada”, papar Noor.

Salah satu penampil dari Sanggar Al-Fattah asal Parakan Wetan, Sendang Sari, Minggir, Sleman mengakui inisiatif disbud menggelar festival tari sangat positif. Upaya untuk melestarikan kesenaian agar tidak punah.

Sanggar Al-fattah menampilkan kesenian Trengganon, suatu tarian yang memadukan syair Al-Barzanji dengan gerakan silat. Menurut kepala grup Kodari memaparkan tarian ini awalnya bertujuan agar masyarakat tertarik dengan Islam.

“ Kesenian Trengganon sejak tahun 1930 bernafaskan agama Islam, kesenian untuk pembelajaran Islam. Dengan dua kelompok sebagian membaca Al-barzanji, satunya lagi memperagakan silat denan tarian”, tutur Kodari.

Kodari menambahkan masyarakat terutama pemda perlu melestarikan kesenian ini, pasalnya tari Trengganon tinggal satu-satunya yang ada di DIY. |Winda Efanur FS|

back to top