Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Tari tradisional "Trengganon" paduan syair Al-Barzanji dengan silat

Tari tradisional "Trengganon" paduan syair Al-Barzanji dengan silat

Jogjakarta-KoPi| Seiring perkembangan zaman telah memupus kecintaan masyarakat terhadap budayanya. Hal itulah yang mendasari Dinas Kebudayaan memperbanyak event bertajuk ‘kembali’ pada budaya. Salah satunya acara festival seni di Pendopo Taman siswa (11/6) pukul 11.30 WIB. Acara ini bentuk revitalisasi kesenian tradisonal Jogjakarta khususnya seni tari. Fstival berlangsung selama dua hari sejak tanggal 11-12 Juni 2015.

Menurut ketua panitia, Noor Sulistyo mengatakan festival bertujuan untuk merevitalisasikan seni tari tradisional yang telah lama terlupakan oleh masyarakat.

Dia mengaharapkan festival seni ini mampu membangkitkan kembali gairah kesenian masyarakat terutama anak muda untuk mengenal seni tradisional.

“ Acara ini diikuti oleh 15 grup dari kota dan kabupaten. Salah satunya ada penampilan tari gambyong, jathilan, bedaya, dan banyak lainnya. Festival ini hanya menampilkan yang terbaik. Juga ada juri agar tidak keluar dari pakem-pakem yang ada”, papar Noor.

Salah satu penampil dari Sanggar Al-Fattah asal Parakan Wetan, Sendang Sari, Minggir, Sleman mengakui inisiatif disbud menggelar festival tari sangat positif. Upaya untuk melestarikan kesenaian agar tidak punah.

Sanggar Al-fattah menampilkan kesenian Trengganon, suatu tarian yang memadukan syair Al-Barzanji dengan gerakan silat. Menurut kepala grup Kodari memaparkan tarian ini awalnya bertujuan agar masyarakat tertarik dengan Islam.

“ Kesenian Trengganon sejak tahun 1930 bernafaskan agama Islam, kesenian untuk pembelajaran Islam. Dengan dua kelompok sebagian membaca Al-barzanji, satunya lagi memperagakan silat denan tarian”, tutur Kodari.

Kodari menambahkan masyarakat terutama pemda perlu melestarikan kesenian ini, pasalnya tari Trengganon tinggal satu-satunya yang ada di DIY. |Winda Efanur FS|

back to top