Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Tari "Komunikasi Bisu" Kepada Manusia

Tari "Komunikasi Bisu" Kepada Manusia

Winda Efanur FS


Magelang-KoPi, Lima orang penari terdiri dari 3 perempuan dan 2 laki-laki menari mengikuti alunan musik. Seorang penari laki-laki memegang wayang Dewi Sri di serahkan ke salah satu penari perempuan. Narasi pendek tersebut menggambarkan pertunjukan tari yang dipentaskan oleh SMP Muhammadiyah Plus Gunung Pring Muntilan pada Festival 5 Gunung 23 Agustus 2014.

Tarian yang berjudul Kidung Sabin menceritakan tentang Dewi Sri. Mempunyai makna kebiasaan warga Pakis, Magelang menyambut musim panen. Bila musim panen tiba warga akan menggelar wayang semalam suntuk sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.



Selain tari Kidung Sabin, juga ada Tari Soreng asli Desa Sarangan. Tari Soreng berkisah tentang keprajuritan seputar kekisruhan kerajaan Demak dan Pajang. Perebutan tahta antara Aryo penangsang dengan Sutan danang Hadiwijaya. Harusnya Aryo Penangsanglah yang jadi raja. Tetapi karena suatu hal Hadiwijaya yang dinobatkan menjadi raja.


 
Dalam improvisasinya Tarian Soreng diiringi oleh musik Soreng Truntung. Musik rotan dipadukan sama tempul empat, bedhug dan jimbe.

Tari keprajuritan lain juga ditampilkan Tari Grasak bocah oleh Dusun Petung Merbabu. Tarian ini mengisahkan kumpulan anak-anak nakal dengan satu pemimpin. Mempunyai pesan walaupun mereka bersikap kasar tetap patuh kepada ketua. Atau dalam realitas yang lebih jauh masyarakat patuh kepada pemerintah.

 

 

 

back to top