Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Tari "Komunikasi Bisu" Kepada Manusia

Tari "Komunikasi Bisu" Kepada Manusia

Winda Efanur FS


Magelang-KoPi, Lima orang penari terdiri dari 3 perempuan dan 2 laki-laki menari mengikuti alunan musik. Seorang penari laki-laki memegang wayang Dewi Sri di serahkan ke salah satu penari perempuan. Narasi pendek tersebut menggambarkan pertunjukan tari yang dipentaskan oleh SMP Muhammadiyah Plus Gunung Pring Muntilan pada Festival 5 Gunung 23 Agustus 2014.

Tarian yang berjudul Kidung Sabin menceritakan tentang Dewi Sri. Mempunyai makna kebiasaan warga Pakis, Magelang menyambut musim panen. Bila musim panen tiba warga akan menggelar wayang semalam suntuk sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.



Selain tari Kidung Sabin, juga ada Tari Soreng asli Desa Sarangan. Tari Soreng berkisah tentang keprajuritan seputar kekisruhan kerajaan Demak dan Pajang. Perebutan tahta antara Aryo penangsang dengan Sutan danang Hadiwijaya. Harusnya Aryo Penangsanglah yang jadi raja. Tetapi karena suatu hal Hadiwijaya yang dinobatkan menjadi raja.


 
Dalam improvisasinya Tarian Soreng diiringi oleh musik Soreng Truntung. Musik rotan dipadukan sama tempul empat, bedhug dan jimbe.

Tari keprajuritan lain juga ditampilkan Tari Grasak bocah oleh Dusun Petung Merbabu. Tarian ini mengisahkan kumpulan anak-anak nakal dengan satu pemimpin. Mempunyai pesan walaupun mereka bersikap kasar tetap patuh kepada ketua. Atau dalam realitas yang lebih jauh masyarakat patuh kepada pemerintah.

 

 

 

back to top