Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

Tari klasik dan garapan mewarnai ‘Njemparing Rasa’

Tari klasik dan garapan mewarnai ‘Njemparing Rasa’

Siaran Perss


Yogyakarta-KoPi- Persiapan pementasan drama kolosal Sumantri-Sukasrana Njemparing Rasa, Menarik Busur Sejarah Membidik Masa Depan semakin intensif dilakukan. Latihan para aktor, musik, dan tari yang awalnya dilakukan secara terpisah, kini sudah mulai digabungkan. Salah satu yang menarik adalah dari tim tari. Njemparng Rasa akan dipentaskan di Lapangan Pacasila Grha Sabha Pramana UGM, Minggu (12/10).

Surono,  penata tari yang ditemui di sela-sela latihan mengungkapkan, konsep tari yang diusung dalam pementasan kali ini adalah penggabungan antara tari klasik dan garapan. Maksud garapan di sini adalah menggunakan beberapa properti, misalnya bendera atau yang lainnya.

“Tim tari terdiri atas 40 orang. Mereka dibagi dalam adegan raja, prajurit satu, prajurit dua, begaya, putri taman, dan putri njemparing,” ujarnya.
Para penari yang berasal dari berbagai latar belakang ini telah melakukan latihan sebanyak lima kali. Setelah itu, baru bergabung dengan yang lainnya.

“Mereka ada yang mahasiswa, ada juga seniman murni. Waktu untuk menggarap adalah tiga minggu, kemudian sharing kepada teman-teman. Sekarang sudah 75% fiks. Tinggal menggabungkan dengan iringan dan multimedia. Kalau dengan aktor, kami sudah cukup sering latihan bersama,” kata laki-laki yang sedang menempuh studi di ISI Yogya Jurusan Karawitan ini.

Selain itu, Surono juga mengungkapkan bahwa salah satu aktor, yakni Citrowati, harus melakukan tarian dalam sebuah adegan. Namun karena latar belakang aktor ini bukan penari, Surono memberikan gerakan yang simple. Hingga saat ini, latihan terus dilakukan. Harapannya, pentas drama kolosal yang akan diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan DIY bekerja sama dengan PKKH UGM tersebut dapat mengangkat keistimewaan Yogyakarta sebagai pijakan pembangunan karakter bangsa. *

back to top