Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Tangisan dunia untuk Aylan Kurdi

Tangisan dunia untuk Aylan Kurdi
KoPi| Sebuah foto bocah tewas terdampar di pesisir pantai Turki menggemparkan dunia.  Dengan baju merah, bocah yang telungkup di pesisir pantai tersebut merupakan korban atas peperangan Suriah.

Aylan Kurdi bocah tak bersalah atas peperangan di Suriah. Mereka berniat untuk bermigrasi menuju Pulau Kos, Yunani dan berharap kehidupan yang lebih baik. Bersama dengan ibu, kakak dan sang ayah, Abdullah Kurdi, ia menaiki kapal yang berisi 2 penyelundup dan 12 pengungsi dari Suriah dan Turki dengan membayar jaminan sebesar 4.000 Euro.

“Aku bertanya pada penyelundup itu, apakah kapalnya kosong? Haruskah aku turun bersama istri dan anak-anakku?,” ujar Abdullah Kurdi  seperti yang dilansir dari CNN.

Jawaban yang Abdullah terima bahwa mereka akan baik-baik saja. Sehingga keinginan besarnya untuk bermigrasi bisa segera terlaksana. Namun, di tengah laut ombak besar menghantam kapal mereka. Sang awak pengemudi dan penyelundup justru lompat dan meninggalkan kapal mereka.

Tanpa keahlian, Abdullah Al-Kurdi sempat mencoba mengambil kemudi kapal. “Ombak tinggi menghantam kapal dan membalikan kapal kami. Saya mencoba meraih anak dan istri saya. Tapi mereka meninggal satu persatu,” ujar Abdullah.

Abdullah  mencoba sekuat tenaga untuk menyelamatkan keluarganya. Namun takdir berkata lain.  Anak pertamanya, Galip dan istrinya Reyhan meninggal sesaat sebelum kematian bungsunya. “Saya tidak lagi punya masa depan. Masa depan saya telah sirna,” kata Abdullah agak terisak saat memberi sambutan di pemakaman.

Sebuah obituari yang ditulis di Sydney Morning Herald mendapat ruang teratas di surat kabar paling dihormati di Australia. Obituari tersebut bersamaan dengan pemakaman Aylan, ibu dan kakaknya yang tewas tenggelam.

"Kau tidak layak untuk tenggelam dalam dinginnya air dan dinginnya ketidakpedulian manusia. Kau bukan migran, bukan pengungsi. Kamu adalah seorang bocah kecil berusia tiga tahun yang ingin bermain dengan aman, jauh dari ancaman kekerasan dan perang. Pergi dalam damai Aylan Kurdi. Semoga Tuhan mengampuni kami karena menewaskanmu." |Labibah|

back to top