Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Tangisan dunia untuk Aylan Kurdi

Tangisan dunia untuk Aylan Kurdi
KoPi| Sebuah foto bocah tewas terdampar di pesisir pantai Turki menggemparkan dunia.  Dengan baju merah, bocah yang telungkup di pesisir pantai tersebut merupakan korban atas peperangan Suriah.

Aylan Kurdi bocah tak bersalah atas peperangan di Suriah. Mereka berniat untuk bermigrasi menuju Pulau Kos, Yunani dan berharap kehidupan yang lebih baik. Bersama dengan ibu, kakak dan sang ayah, Abdullah Kurdi, ia menaiki kapal yang berisi 2 penyelundup dan 12 pengungsi dari Suriah dan Turki dengan membayar jaminan sebesar 4.000 Euro.

“Aku bertanya pada penyelundup itu, apakah kapalnya kosong? Haruskah aku turun bersama istri dan anak-anakku?,” ujar Abdullah Kurdi  seperti yang dilansir dari CNN.

Jawaban yang Abdullah terima bahwa mereka akan baik-baik saja. Sehingga keinginan besarnya untuk bermigrasi bisa segera terlaksana. Namun, di tengah laut ombak besar menghantam kapal mereka. Sang awak pengemudi dan penyelundup justru lompat dan meninggalkan kapal mereka.

Tanpa keahlian, Abdullah Al-Kurdi sempat mencoba mengambil kemudi kapal. “Ombak tinggi menghantam kapal dan membalikan kapal kami. Saya mencoba meraih anak dan istri saya. Tapi mereka meninggal satu persatu,” ujar Abdullah.

Abdullah  mencoba sekuat tenaga untuk menyelamatkan keluarganya. Namun takdir berkata lain.  Anak pertamanya, Galip dan istrinya Reyhan meninggal sesaat sebelum kematian bungsunya. “Saya tidak lagi punya masa depan. Masa depan saya telah sirna,” kata Abdullah agak terisak saat memberi sambutan di pemakaman.

Sebuah obituari yang ditulis di Sydney Morning Herald mendapat ruang teratas di surat kabar paling dihormati di Australia. Obituari tersebut bersamaan dengan pemakaman Aylan, ibu dan kakaknya yang tewas tenggelam.

"Kau tidak layak untuk tenggelam dalam dinginnya air dan dinginnya ketidakpedulian manusia. Kau bukan migran, bukan pengungsi. Kamu adalah seorang bocah kecil berusia tiga tahun yang ingin bermain dengan aman, jauh dari ancaman kekerasan dan perang. Pergi dalam damai Aylan Kurdi. Semoga Tuhan mengampuni kami karena menewaskanmu." |Labibah|

back to top