Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

Tangisan dunia untuk Aylan Kurdi

Tangisan dunia untuk Aylan Kurdi
KoPi| Sebuah foto bocah tewas terdampar di pesisir pantai Turki menggemparkan dunia.  Dengan baju merah, bocah yang telungkup di pesisir pantai tersebut merupakan korban atas peperangan Suriah.

Aylan Kurdi bocah tak bersalah atas peperangan di Suriah. Mereka berniat untuk bermigrasi menuju Pulau Kos, Yunani dan berharap kehidupan yang lebih baik. Bersama dengan ibu, kakak dan sang ayah, Abdullah Kurdi, ia menaiki kapal yang berisi 2 penyelundup dan 12 pengungsi dari Suriah dan Turki dengan membayar jaminan sebesar 4.000 Euro.

“Aku bertanya pada penyelundup itu, apakah kapalnya kosong? Haruskah aku turun bersama istri dan anak-anakku?,” ujar Abdullah Kurdi  seperti yang dilansir dari CNN.

Jawaban yang Abdullah terima bahwa mereka akan baik-baik saja. Sehingga keinginan besarnya untuk bermigrasi bisa segera terlaksana. Namun, di tengah laut ombak besar menghantam kapal mereka. Sang awak pengemudi dan penyelundup justru lompat dan meninggalkan kapal mereka.

Tanpa keahlian, Abdullah Al-Kurdi sempat mencoba mengambil kemudi kapal. “Ombak tinggi menghantam kapal dan membalikan kapal kami. Saya mencoba meraih anak dan istri saya. Tapi mereka meninggal satu persatu,” ujar Abdullah.

Abdullah  mencoba sekuat tenaga untuk menyelamatkan keluarganya. Namun takdir berkata lain.  Anak pertamanya, Galip dan istrinya Reyhan meninggal sesaat sebelum kematian bungsunya. “Saya tidak lagi punya masa depan. Masa depan saya telah sirna,” kata Abdullah agak terisak saat memberi sambutan di pemakaman.

Sebuah obituari yang ditulis di Sydney Morning Herald mendapat ruang teratas di surat kabar paling dihormati di Australia. Obituari tersebut bersamaan dengan pemakaman Aylan, ibu dan kakaknya yang tewas tenggelam.

"Kau tidak layak untuk tenggelam dalam dinginnya air dan dinginnya ketidakpedulian manusia. Kau bukan migran, bukan pengungsi. Kamu adalah seorang bocah kecil berusia tiga tahun yang ingin bermain dengan aman, jauh dari ancaman kekerasan dan perang. Pergi dalam damai Aylan Kurdi. Semoga Tuhan mengampuni kami karena menewaskanmu." |Labibah|

back to top