Menu
Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Prev Next

Tan Malaka dan Agora Demokrasi

Tan Malaka dan Agora Demokrasi

Yogi Ishabib


Tan Malaka adalah salah satu manusia terbaik yang paling sering disalahpahami oleh masyarakat di negaranya sendiri, Indonesia. Rezim Orde Baru melalui tangan-tangan militernya membuat nama Tan Malaka yang semula sudah ditetapkan oleh Soekarno pada tahun 1963 sebagai Pahlawan Nasional berubah menjadi pesakitan yang namanya haram disebut dan diketahui.

Bahkan ketika Rezim Orde Baru sudah runtuh sejak 16 tahun yang lalu, nama Tan Malaka masih dianggap pagebluk yang harus dibasmi. Angin demokrasi yang konon katanya berhembus dan hidup pasca runtuhnya rezim Orde Baru, nyatanya seringkali tunduk pada kaki tangan rezim represif yang sudah semakin menyublim bentuknya. 

Ruang terbuka bernama agora pada kehidupan demokrasi di Indonesia yang seharusnya memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk lebih leluasa hidup tanpa represi, ternyata tak sepenuhnya dinikmati oleh masyarakat Indonesia. Hak warga negara untuk mengetahui sejarahnya sendiri, direpresi oleh kepentingan-kepentingan yang jika dimintai alasan dan dasar tindakan represifnya, selalu terdengar aneh dan mengada-ada.

Tan Malaka, yang sejak tahun 1925 sudah memiliki gagasan mutakhir tentang konsep bernegara yang dituangkan dalam Naar de Republik Indonesia, hanya sedikit diketahui oleh manusia dari kalangannya sendiri. Penolakan terhadap Tan Malaka yang didasari oleh ketidaktahuan masyarakat dan difasilitasi oleh negara seringkali hanya didasari oleh alasan “berbahaya”, “hantu komunisme”, “PKI” atau alasan purba lainnya. 

Secara fisik, laki-laki yang dianggap berbahaya oleh masyarakat Indonesia itu berperawakan kecil kurus, dan  tidak akan terlihat bahwa pikirannya selalu berkecamuk terhadap lingkungan sosial dan alam sekitarnya. Nama aslinya Ibrahim dengan gelar Datuk Tan Malaka. Tan Malaka yang berasal dari desa Pandan Gadang, sebuah desa kecil di Sumatera Barat itu pernah menjadi guru mengaji Al Quran untuk anak-anak bangsawan dan tuan tanah dengan gaji dan kehidupan yang cukup, kemudian memilih mundur untuk bergabung dengan perjuangan politik yang lebih besar, meski tak menjanjikan kehidupan dan ekonomi yang baik. 

TAP MPR No. XXV tahun 1966 dan UU No.27 tahun 1999 tentang larangan menyebarkan ajaran atau faham marxisme dan komunisme membuat nama Tan Malaka  selalu dikaitkan dengan dosa sejarah Indonesia. Keterkaitan Tan Malaka pada pergolakan pemikiran kiri menjadi sebuah alur panjang sejarah yang tidak bisa dipungkiri, dimana Tan Malaka menjadi wakil Komunisme Internasional (Komintern) untuk wilayah Asia. Jabatan yang bahkan diidam-idamkan dan tidak bisa diperoleh tokoh seperti Mao Tse Tung sekalipun. 

Pada 5 November tahun 1922, saat Kongres Komintern ke-4, Tan ada di ruang yang sama dengan para pemimpin revolusioner dunia, bersama Mao Tse Tung dan Ho Chi Minh dari perwakilan Asia, dan juga berada di ruang yang sama dengan nama-nama besar seperti Vladimir Lenin, Joseph Stalin, dan Leon Trotsky. Ketika Tan Malaka mendapat giliran untuk mengutarakan gagasan revolusi di Indonesia, dia mendapat kesempatan untuk berbicara hampir delapan menit, dimana semua wakil Asia hanya mendapat kesempatan berbicara selama lima menit. Hal yang lebih mengejutkan adalah ketika Tan Malaka mengutarakan gagasan revolusi di Indonesia, Tan secara terang-terangan mendukung Pan-Islamisme. 

Hari ini, ketika Indonesia berada pada iklim demokrasi yang konon katanya memberikan kebebasan berpikir, masyarakat masih takut untuk mengkaji sejarah pemikiran “kiri”. Ketakutan ini bahkan menjalar hingga di ruang-ruang akademis maupun publik seperti yang terjadi beberapa waktu terakhir ini. Kasus sweeping ormas Islam pada diskusi bedah buku terbaru Harry A. Poeze, Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia (jilid 4) di sebuah perpustakaan swasta di Surabaya menjadi salah satu contoh. Hal yang lebih menguntungkan terjadi di Semarang, Jawa Tengah, karena acara bedah buku dapat terus dilanjutkan meskipun awalnya mendapat tekanan dan ancaman sweeping dari ormas yang sama.

Ketakutan sebagian masyarakat yang diwakili oleh ormas agama tentang bahaya laten komunisme, sosialisme, dan marxisme dapat merusak kehidupan agama sepertinya masih mengakar hingga kehidupan sekarang ini. Dukungan Tan Malaka terhadap Pan Islamisme pada Kongres Komintern ke-4 layak diketahui oleh masyarakat Indonesia agar ketakutan-ketakutan yang dibayangkan oleh masyarakat tidak terus menerus direproduksi. Dukungan Tan Malaka terhadap Pan Islamisme dibacakan langsung didepan kongres yang penuh dengan kaum Bolsyevik yang sebelumnya sepakat untuk melawan Islam seperti hasil keputusan Kongres Komintern ke-2.  Gagasan Tan ditolak oleh pimpinan Kongres, tapi mendapat standing ovation dan dukungan dari seluruh peserta Kongres. Tan Malaka pun menjadi simbol persaudaraan dan perjuangan melawan imperialisme dan kolonialisme.

Tuduhan dan penolakan atas Tan Malaka sebagai hantu komunisme sepertinya juga tidak sepenuhnya tepat sasaran. Dalam karyanya Massa Aksi, ia mengkritik agresifitas PKI dalam pemberontakan. Ia juga mengatakan bahwa pemberontakan PKI akan menemui kegagalan besar. Terbukti analisa Tan Malaka tepat, karena aksi pemberontakan PKI kelak memang mengalami kegagalan pada tahun 1926 dan 1965. Perbedaan visi Tan Malaka dengan PKI ini yang berujung pada pembentukan Partai Murba sebagai pembaharu konsep revolusi dan meredam aksi massa PKI. Tan Malaka secara tegas menyatakan keberatannya atas agresifitas PKI dan mengatakan bahwa elit PKI sebagai “orang-orang muda yang kehilangan akal sehatnya.”

Kita memang tidak pernah tahu persis mengapa sejak Orde Baru hingga sekarang masyarakat masih memendam ketakutan terhadap sosok Tan Malaka, Komunisme, Sosialisme, dan Marxisme.  Ketidaktahuan dan ketakutan masyarakat terhadap isu “kiri” sudah seharusnya ditempatkan sebagai kajian yang sah untuk diletakkan di ruang-ruang diskursif yang bebas untuk dibahas dalam rangka membuka tabir sejarah yang selama ini terkesan sengaja ditutup dan dituntaskan dalam satu tafsir milik pemerintah. Dengan membiarkan ketakutan dan ketidaktahuan maka sejarah yang mestinya bisa dibahas dari berbagai perspektif akan tetap menjadi hantu yang menakutkan. Bukankah Tan Malaka seperti martir lainnya, yang pernah berkata bahwa ketika mereka mati suaranya akan lebih lantang terdengar daripada ketika mereka hidup?

-Yogi Ishabib peneliti di Proyeksi Indonesia

 

 

 

back to top