Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Surat-surat Drupadi*

Surat-surat Drupadi*

 Oleh: Yogi Ishabib

Seperti anak-anak perempuan pada masanya, aku memimpikan kehidupan yang indah. Aku yang dilahirkan sebagai anak seorang raja dan menjadi adik perempuan seorang pahlawan besar tentu tidak pernah mengharapkan kehidupanku yang sekarang. Ya, aku adalah Drupadi anak dari Drupada, Raja Panchala, dan aku adalah adik dari Drestajumena. Orang-orang juga mengenalku sebagai Panchali, yang entah mengapa namaku selalu memiliki maksud “yang lain” dari nama bapakku dan nama kerajaannya.

Drupada bapakku memberikan alasannya mengapa aku diberi nama Drupadi yang “hanya” berarti sebagai anak perempuan Drupada. Aku sebagai anak perempuan hanya diabadikan sebagai bagian lain dari kehidupan bapakku. Sementara kakakku bernama Drestajumena yang berarti sebagai penghancur musuh. Mungkin bapakku menganggapku hanya sebagai seorang “anak” sehingga namaku dibuat sesederhana itu, atau mungkin karena aku lahir sebagai perempuan yang berarti aku tidak punya posisi tawar pada kehidupanku. Atau mungkin aku bermimpi terlalu tinggi tentang posisiku?

Aku juga tidak pernah menginginkan menjadi seorang perempuan, terlebih berkulit gelap. Meski aku tak sehitam Krisna, yang saking hitamnya, orang-orang menyebutnya sebagai si kulit biru. Bagi masyarakat yang mendamba perempuan-perempuan anggun yang berkulit langsat tentu aku bukan menjadi bagian dari dambaan mereka. Meskipun aku anak raja dan justru aku anak raja maka hal itu terdengar lebih menjengkelkan, dimana orang-orang hanya berani berbisik untuk membicarakanku. Tapi si Kulit Biru Krisna selalu berbisik kepadaku “Hey cantik, kau pikir dengan menjadi hitam kau lebih rendah dari perempuan manapun? Lihatlah aku, hitam bahkan biru, dan kau ingat tentang bagaimana Putri Rukmini mengirimiku surat untuk memintaku menikahinya.” Krisna adalah salah satu alasan mengapa aku tidak larut dalam malu akibat keperempuananku dan kehitamanku. 

Kakakku yang namanya berarti si penghancur musuh, justru adalah laki-laki paling lembut yang pernah kukenal. Sedangkan aku yang namaku berarti “hanya” anak perempuan bapakku, justru lebih sering dianggap bapakku Drupada sebagai si pembuat onar. Pernah suatu ketika di sebuah festival untuk menghormati Syiwa, aku yang selama ini hanya dikurung dalam kerajaan tak tahan untuk keluar untuk menunjukkan bahwa aku bukan perempuan biasa yang hanya pandai bersolek. Ketika permaisuri Sulocana, permaisuri bapakku tampil dengan membawa baki penuh untaian bunga untuk dipersembahkan di kuil Syiwa, aku sengaja muncul dengan tiba-tiba melakukan gerakan yang tak kalah anggun. Daguku kunaikkan keatas, kuperlihatkan garis leherku, senyum simpul lalu kuletakkan persembahanku, aku membaca sutra dengan nada paling indah yang pernah aku ucapkan dengan ketenangan paling sempurna, dan aku mundur dengan langkah yang mantap tanpa melenggak-lenggokkan pinggul seperti perempuan-perempuan yang hadir di festival itu. Semua terbelalak melihat keberanianku. Perempuan harus lemah gemulai dan indah, sementara aku tampil dengan tegas bahwa perempuan tak harus tampil seperti itu. Terlebih bapakku, dan sejak saat itu aku dilarang keluar dengan tenggang waktu yang belum bisa diputuskan. Tapi diam-diam bapakku memujiku karena kemampuanku membaca sutra. Aku dihukum, tapi aku merasa menang.

Kakakku Drestajumena adalah salah satu laki-laki terbaik dalam hidupku. Setelah kejadian onar yang kuperbuat, Drestajumena jadi lebih sering mengunjungiku disela-sela kesibukan yang sampai aku mati tak akan kudapatkan ; belajar sutra, teknik dan taktik perang, serta ilmu pemerintahan. Tapi Drestajumena justru mengajarkanku tentang hal itu, Hal-hal yang tak akan didapat perempuan pada masa itu. Drestajumena juga mati-matian membelaku di depan bapakku dan dihadapan pendeta-pendeta yang menganggapku kelewatan, kurang ajar, dan bertindak “tidak selayaknya” perempuan dengan belajar membaca sutra, dan menjadi penentang bapakku di kerajaannya sendiri. Di akhir perjumpaanku dengan kakakku, dia selalu mengingatkanku seperti ini “Kau adalah perempuan, kau cantik, terlebih kau pintar dan berani. Ini yang akan mendatangkan kesulitan bagimu di dunia laki-laki cepat atau lambat, dan itu yang dikhawatirkan bapak, keselamatan dan kehormatanmu.”

Aku membalasnya, “kenapa bapak tak pernah kuatir tentang keselamatanmu? Dalam perang-perang yang kau lakukan? Apa hanya karena kau laki-laki?”

Drestajumena hanya tersenyum, lalu menjawab “aku hanya bisa membawa kemenangan atau kekalahan, sedangkan perempuan membawa kemuliaan.”

Hatiku luluh oleh jawaban kakakku. Masih segar dalam ingatanku ketika aku diceramahi oleh seorang pendeta bahwa tujuan tertinggi perempuan adalah hanya mendukung kaum pria. Drestajumena menyembur pendeta itu dengan berkata “dan siapa yang memutuskan bahwa perempuan hanya menjadi pendukung kaum laki-laki? Kau pikir adikku ini hanya layak sebagai pendukung hah? Adikku ini yang nantinya menjadi titik penentu sejarah dalam kehidupan kerajaan yang berbelit ini! adikku yang menanggungnya! Adikku yang perempuan ini, bukan laki-laki!.” Drestajumena yang lembut itu marah. Oh kakakku yang rupawan dan lembut hatinya. 

Aku tak mengerti ucapan Drestajumena kala itu. Seperti yang kuucapkan dalam awal suratku, bahwa aku tak pernah mengharapkan kehidupanku yang sekarang ini. Drestajumena benar ketika berbicara keras kepada pendeta yang mengatakan bahwa aku yang nantinya menjadi titik penentu sejarah. Siapa yang menyangka bahwa aku akan menjadi (aku tidak tau, apakah ini mulia ataukah hina pada masa ini) istri dari lima laki-laki yang dikenal orang sebagai pandawa. Karena Yudhistira kalah bermain dadu dengan Duryudana dan kehabisan taruhan, kerajaan, saudara-saudaranya, bahkan aku pun ikut menjadi “barang” taruhannya. Dan ketika kami tidak punya apa-apa selain diri kami sendiri, di hutan tempat kami diasingkan, ibu mertuaku Kunti mempunyai ide yang paling gila. Apa yang dimiliki oleh pandawa harus dibagi secara adil dan merata. Yang ada hanyalah aku, dan dibagilah aku menjadi istri masing-masing pandawa.

Aku menjadi ratu dari segala ratu dan dicemburui semua dewi. Tapi juga menjadi pelayan dari segala pelayan bagi kelima suamiku. Aku pernah menjadi penguasa istana paling megah, kehilangan istana itu, kurebut kembali bersama suami-suamiku, lalu untuk kedua kali kehilangan lagi. Mengapa aku kehilangan untuk yang kedua kali? Kehilangan yang kedua ini adalah sebanar-benarnya kehilangan karena kudapatkan istanaku kembali dengan penuh darah dan janda karena suami, saudara laki-laki, anak laki-laki mereka pergi untuk mati pada perang besar Bharatyudha. Saat itu aku juga tak begitu mengerti ucapan Drestajumena bahwa aku yang meninggalkan jejak sejarah dengan menyebabkan sebuah perang terbesar yang pernah digelar oleh manusia. 

Aku pun mengamini Drestajumena saat mengajariku belajar membaca sutra dan ilmu pemerintahan. Karena tak banyak orang tau betapa rapuh dan hancurnya Pandawa setelah perang Bharatyudha, sehingga harus perempuan yang tangguh seperti ibu mertuaku Kunti dan aku yang menjadi pengambil keputusan di kerajaan yang luluh lantak menyisakan tulang belulang dan bau anyir sejarah pembantaian antar saudara ini. Sekali lagi aku mengamini Drestajumena yang berkata bahwa laki-laki membawa kemenangan dan kekalahan, tapi perempuan membawa kemuliaan. 

Aku memang tak pernah berharap kehidupan akan menjadi rumit dan berbelit seperti sejarah kerajaan ini, tapi aku sama sekali tak menyesal atas kehidupan dan keperempuananku. Aku akan berkata hingga nanti ada juga perempuan yang meneruskan kata-kata dalam suratku bahwa “di pangkuan seorang perempuan lah seseorang mulai merasa belajar berpikir dan berkata-kata.”**

 

Catatan :

*judul tulisan ini adalah alusi dari Surat-Surat Cinta karya Multatuli dan juga Surat-Surat Kartini yang oleh penulis digambarkan melalui tokoh Drupadi dari Epik Mahabharata

**Pernyataan RA Kartini dalam Surat-Surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsa.

 

 

 

back to top