Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Surat Kartini: Kepada Tuan Prof. Dr. GK Anton dan Nyonya di Jena #11

Surat Kartini: Kepada Tuan Prof. Dr. GK Anton dan Nyonya di Jena #11

10 Juli 1901

Seharusnya saya lahir sebagai anak laki-laki.

Bila itu yang terjadi mungkin akan ada dari rencana-rencana saya yang melambung tinggi itu yang dapat terwujud. Kini, sebagai anak perempuan dalam masyarakat Bumiputera, hal itu hampir tidak mungkin.

Dapatkah kita mengharapkan dengan sungguh-sungguh, bahwa di Hindia --Hindia yang biadab, terbelakang, terkantuk-kantuk-- dengan murah hati akan mengizinkan anak gadisnya memandang dirinya manusia? Makhluk yang berhak atas kesadaran batin yang merdeka, berhak berpikir bebas, merasa dan berbuat.

Timbul perasaan pada saya, seolah-olah pintu surga terbuka secara tiba-tiba. Hal itu terjadi ketika beberapa waktu lalu saya membaca berita di koran bahwa pemerintah akan membuka kesempatan bagi anak perempuan bupati untuk belajar menjadi guru. Usaha siapa itu, tentu tidak perlu saya terangkan kepada tuan.

Kami hampir seperti gila karena gembira. Hal itu sudah merupakan kemajuan besar. Peribahasa menyatakan dengan nyata sekali, "Soalnya hanyalah mengayunkan langkah yang pertama." Kami mengharapkan sangat banyak dari rencana pemerintah yang bagus itu. Tapi itu akan sia-sia saja, karena kebanyakan kepala Bumiputera yang dimintai pendapat mengenai hal itu tidak setuju.

Telah berulang saya katakan kepada diri sendiri, saya berseru keras, bahwa impian dan cita-cita itu beban tak berguna dalam masyarakat Bumiputera kita, kemewahan yang berlebihan dan berbahaya. Tapi yang mengatakan demikian itu hanya mulut, yang dikarenakan bisikan otak yang dingin dan tak acuh.

Hati, benda yang bodoh-tolol itu, tidak dapat memisahkan diri dari mimpi dan cita-cita. Sedemikian dalamnya mimpi tentang kebebasan dan cita-cita lain yang berakar di hati kami, sehingga kedua hal itu tidak dapat dimusnahkan tanpa sama sekali merusak dasarnya tempat mimpi itu. Dan cita-cita itu tumbuh dengan suburnya.

Tuan baik sekali telah mengkhawatirkan masa depan saya. Saya sungguh-sungguh berterima kasi. Tapi, ah, jangan lagi bersedih memikirkan saya, atau lebih baik kami tahu apa yang menunggu kami. Kami bertiga bergandengan tangan menempuh hidup yang bagi kami akan penuh dengan perjuangan, kekecewaan, dan duka.

Yang disebarkan di atas jalan yang kami pilih tentunya bukan bunga mawar. Benar jalan itu penuh duri, tapi kami sendirilah yang memilihnya karena cinta. Dan dengan cinta dan gembira pulalah kami akan menempuh jalan itu. Untuk turut merintis jalan yang mengantarkan beribu-ribu jiwa saudara-saudara perempuan kami yang papa, tertindas dan terinjak-injak ke arah kebebasan dan kebahagiaan.

Itulah mimpi "Tiga Saudara", tiga gadis kakak-beradik di tanah Matahari yang jauh!

back to top