Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Surat Kartini: Kepada Nyonya Ovink-Soer #6

simmonot.com simmonot.com

Awal tahun 1900

Bila orang hendak sungguh-sungguh memajukan peradaban, maka kecerdasan pikiran dan pertumbuhan budi harus sama-sama dimajukan.

Dan, siapa yang bisa paling banyak berbuat untuk yang terakhir itu, yang paling banyak membantu mempertinggi kadar budi manusia? Perempuan. Karena, di pangkuan perempuan lah pertama-tama manusia menerima pendidikannya. Di sana anak mula-mula belajar merasa, berpikir, berbicara.

Bangsa kami tidak terlalu cepat bergerak untuk cita-cita tinggi. Kami harus membuat mereka tercengang melalui contoh, yang berbicara dan membuat mereka terpaksa menerimanya, jika kami mau mencapai cita-cita untuk mempelopori dan memberi penerangan. Dan, karenanya, pergi ke Belanda dengan tujuan utama untuk belajar, bagi kami baik, kalau kami pergi. Ibu tercinta, tolong mengusahakan kami pergi!

Kalau kami tamat belajar dan kembali ke Jawa, kami akan membuka asrama untuk putera-puteri bangsawan; kalau mungkin atas biaya pemerintah. Kalau tidak, kami akan mendirikannya dengan bantuan swasta, dengan cara lotere uang atau yang semacamnya.

Akan ada jalan juga kalau sudah tiba waktunya. Untuk sementara, halangan yang terutama yang ada di rumah kami sendirilah yang harus kami hilangkan. Kami akan merasa girang segirang-girangnya jika mendapat izin dari ayah. Aduh, alangkah pedihnya, sedihnya rasa hati. Sengsara betul menjadi gadis Jawa dan berperasaan halus. Kasihan ayah dan ibu kami, nasib celaka manakah yang memberi mereka anak-anak perempuan serupa kami?

Bantulah mengusahakan kami pergi dari sini untuk bekerja mewujudkan cita-cita kami. Akan tiba saat permulaan untuk mengakhiri ketidakadilan yang besar, yang menyebabkan ribuan hati perempuan dan anak hancur luluh.

"Kasihan anak-anak sinting," demikian mungkin Ibu bergumam. "Kamu berdua hendak menggoncangkan gedung raksasa itu, hendak menghancurkannya?" saya bisa mendengar Ibu bertanya seperti itu.

Kami akan menggoncangkannya, Ibu sayang, dengan segala kekuatan walaupun yang akan runtuh hanya satu butir batu saja, maka kami akan merasa bahwa hidup kami tidak sia-sia. Senang sekali mempunyai cita-cita dan tujuan hidup. Sebut kami orang gila, sinting, semua saja yang Ibu kehendaki; kami tak akan berbuat lain, itu sudah tabiat kami. Kakek merintis jalan, ketika beliau setengah abad yang lalu memberi putera-puterinya pendidikan Eropa. Kami tidak berhak bodoh, tidak berhak tak berarti. Kebangsawanan menanggung kewajiban! Terus-menerus makin tinggi.

back to top